Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Telpon dari Jack


__ADS_3

Di kawasan proyek Paradise, alat berat seperti crane dengan tinggi mencapai puluhan kaki, buldoser, beko, soilmec, dan beberapa lagi yang lainnya, bergerak dengan arahan sang pengemudi sesuai fungsinya masing-masing.


Di sisi timur, nampak para pekerja menggali tanah dengan cukup dalam menggunakan beko untuk menanam pipa saluran pembuangan, buldoser dan mobil dumptruk nampak tengah berada di sisi selatan dan utara, di mana telah dimulai proses pembuatan rumah-rumah hunian minimalis.


Di sisi barat daya, nampak pula para pekerja yang mulai membangun rumah dengan kelas lebih mewah, yang hanya akan tersedia tak lebih dari sepuluh unit, dengan fasilitas yang akan membuat siapa pun takjub.


Di area tengah, soilmec tengah mengebor ke dalam tanah untuk mempersiapkan pondasi empat gedung apartemen, yang akan berjejer di belakang mall. Di depan mall, terdapat taman yang nantinya akan ditumbuhi berbagai macam bunga liar. Ide ini Liana dapat saat dia berkunjung ke Sky Escape, di mana banyak bunga liar tumbuh dengan sangat indah.


Di bagian belakang gedung apartemen, biasanya akan terdapat lokasi kumuh tempat sampah rumah tangga berkumpul sebelum diangkut oleh petugas pengangkut sampah.


Liana dan timnya menyiasati agar area tersebut dimanfaatkan untuk lapangan olahraga outdoor, dan juga jogging track. Di sana juga akan dibangun deretan ruko yang bisa disewakan kepada para wirausahawan setempat.


Sedangkan dia sisi barat hingga barat laut, akan dibuat ruang terbuka hijau yang mempertahankan bukti kecil di sana sebagai salah satu icon dan spot menarik di dalam kawasan Paradise.


Hari ini, mesin Crane mulai berdatangan dan perlahan dirakit untuk mempermudah proses pembangunan gedung berlantai.


Mata Liana terus tertuju pada alat berat tersebut, hingga tak sadar jika Falcon sedari tadi memperhatikan dirinya.


“Apa mesin itu lebih mempesona dari pada aku?” tanya Falcon.


“Ehm... Memang luar biasa,” sahut Liana.


Gadis itu secara tak sadar menjawab pertanyaa Falcon, dengan masih fokus pada mesin tersebut.


“Aku heran, kenapa kau sangat suka bermain-main dengan alat itu? Apa kau tak tau kalau itu berbahaya?” tanya Falcon.


Namun, Liana tak menjawab dan terus menganga melihat mesin yang sedikit demi sedikit mulai tersusun dan meninggi.


“Liana!” panggil Falcon.


“Ehm.. Ya?” sahut Liana terkejut.

__ADS_1


Gadis itu segera meneh ke arah Falcon, namun sejurus kemudian fokusnya kembali ke mesin itu.


“Ya Tuhan! Rupanya aku benar-benar sudah kalah dengan mesin itu,” gumam Falcon gekeng-geleng Kepala.


Liana menoleh ke arah kekasihnya karena bisa mendengar gumaman Falcon.


“Apa kekasihku cemburu pada besi besar itu?” tanya Liana.


Gadis itu tersenyum mengejek ke arah prianya, dan kembali menyesap kopi Latte di tangannya.


“Dulu, aku pernah ikut bekerja di sebuah proyek. Saat itu pertama kalinya aku naik mesin crane untuk turun ke bawah membawa tumpukan kayu lempeng. Awalnya memang takut, tapi setelah sekali mencoba jadi ketagihan,” ungkap Liana.


“Ah... Rupanya ada hal-hal yang aku belum tahu tentang mu,” sahut Falcon.


“Pelan-pelan saja. Kita masih punya banyak waktu untuk saling mengenal satu sama lain,” ucap Liana.


Keduanya pun saling tersenyum dan kembali menikmati kopi masing-masing.


Dia meraih ponsel yang ada di saku celananya, dan melihat nama di layar pipih tersebut. Liana melirik sekilas, dan kembali menatap ke depan.


“Halo,” sapa Falcon.


Pria itu nampak mendengarkan dengan seksama perkataan orang di ujung sambungan.


“Apa harus hari ini?” tanya Falcon.


Dia kembali mendengarkannya. Pria itu nampak tak terlalu senang dengan perbincangan itu. Namun, nampaknya dia tak bisa melawannya.


“Baiklah. Aku akan membawanya,” ucap Falcon kemudian.


Dia pun memutus sambungan telepon, dan kembali menyimpan pponselnya

__ADS_1


“Apa yang dikatakan asisten kakekmu? Apa ada hal yang serius?” tanya Liana.


Gadis itu tak bisa menahan rasa ingin tahunya, terlebih jika melihat raut wajah berbeda dari orang yang berada di sampingnya itu.


Awalnya, dia tak mau ikut campur urusan Falcon, akan tetapi semenjak dia menyandang status sebagai kekasih dari pria itu, dia pun tak ragu untuk mengungkapkan rasa ingin tahunya.


“Kakek memintaku membawamu ke rumah,” tutur Falcon.


“Hari ini?” tanya Liana.


Falcon mengangguk.


“Bagaimana?” tanya Falcon kemudian.


Liana menerawang ke depan, seolah tengah  berpikir sesuatu. Dia kembalimenyesapl kopi Latte nya, dan tiba-tiba sebuah seringai muncul di bibir manisnya.


“Kenapa tidak?” sahut Liana.


Falcon mengangkat sebelah alisnya, dengan kening yang berkerut melihat reaksi Liana tersebut.


.


.


.


.


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2