Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Sebuah syarat


__ADS_3

“Aku pergi ke bandara bukanlah untuk pulang ke Golden City. Kebetulan, saat aku kembali ke penginapan, salah satu rekanku ada yang harus segera kembali ke kota itu malam ini juga. Aku ikut mengantarnya ke sana, karena aku merasa suntuk dan ingin jalan-jalan. Tidak di sangka, ternyata ada yang sudah mencariku seperti orang gila,” tutur Liana.


“Apa? Jalan-jalan? Kenapa tidak ada yang bilang padaku kalau kau hanya mengantar?” tanya Falcon geram.


“Apa kau mendengarkan temanku bicara sampai selesai? Bukankah kau pergi begitu saja saat tau bahwa aku pergi ke bandara?” sanggah Liana.


Falcon seketika diam. Bahunya yang sedari tadi kaku dan tegang, kini turun seiring helaan nafasnya yang terdengar begitu berat. Pria itu nampak mengusap kasar wajahnya hingga menjambaki rambutnya sendiri.


“Jadi, kau mau bilang kalau semua kepanikan ku ini hanya sebuah kekonyolan?” tanya Falcon dengan tawa getirnya.


“Kau baru sadar kalau kau itu benar-benar konyol, Tuan muda?” timpal Liana.


Gadis itu nampak kesal. Kedua lengannya terlipat di depan dada dengan pandangan yang kembali lurus ke depan.


“Ini semua karena kakekmu yang tidak mau memberikan mu hand phone! Dasar orang kaya pelit! Besok, ayo kita beli sama-sama, agar kau tidak kelabakan seperti orang gila lagi. Aku tidak mau kekasihku bertindak konyol. Seperti jaman primitif saja,” ucap Liana dengan nada kesal.


“Ah... Benar. Kau belum mengatakan apapun tentang pertemuan mu dengan kakekku. Apa yang dia katakan padamu?” tanya Falcon.


“Wah... Tadinya ku kira kau sudah lupa dan tidak akan bertanya tentang hal itu lagi,” sahut Liana.

__ADS_1


“Liana!” geram Falcon.


“Baiklah! Baiklah! Aku akan katakan padamu. Kami hanya melakukan sebuah bisnis kecil. Kau ingat? Aku dan kakekmu adalah sama-sama seorang yang memiliki jiwa bisnis, sehingga setiap pembicaraan kami, tak pernah jauh-jauh dari urusan tersebut,” tutur Liana.


Falcon nampak mengerutkan keningnya mendengar perkataan Liana. Dia tak yakin jika yang dikatakan oleh gadis itu adalah yang sebenarnya.


“Kau tidak sedang membohongi ku kan?” tanya Falcon curiga.


“Memangnya kau pikir kami berdua bicara mengenai apa?” tanya Liana balik.


“Bukankah, alasan kakekku memanggilmu adalah karena aku yang mabuk-mabukan setiap hari?” terka Falcon.


“Tepat sekali! Itu semua memang tentang dirimu. Aku sangat terkejut mendengar hal itu dari kakekmu. Aku tidak menyangka, jika pria yang ku cintai ternyata bertindak sangat kekanak-kanakan. Apa kau akan terus menyiksa dirimu seperti itu setiap kali ada masalah, hah?” cecar Liana.


“Apa kau tidak bisa berpikir dengan kepala dingin? Semua masalah di duni ini selalu ada solusinya. Ah... Aku lupa. Gengster seperti kalian memang jarang menggunakan otak. Kalian lebih sering menyelesaikan masalah dengan otot dan senjata,” sindir Liana.


“HEI, NONA. APA KAU HARUS BERKATA SEKEJAM ITU? APA KAU TIDAK BISA MEMAHAMI KEKHAWATIRANKU?” bentak Falcon.


“AKU SANGAT PAHAM. KARENA ITU LAH AKU MEMBUAT PERJANJIAN DENGAN KAKEKMU!” balas Liana tak kalah keras.

__ADS_1


Hening. Keduanya diam dan larut dalam pikiran masing-masing. Mereka mencoba mengatur kembali emosi yang sempat meledak, dan mendinginkan hati serta pikiran mereka masing-masing.


“Aku sudah bicara pada kakekmu masalah hubungan kita,” ucap Liana.


Falcon menoleh dan menatap gadisnya. Dia menunggu Liana untuk melanjutkan kata-katanya.


Gadis itu terlihat menghela nafas dalam, sebelum akhirnya kembali berbicara.


"Kakekmu membiarkan kita tetap bersama dengan satu syarat," ucap Liana.


.


.


.


.


Hem... syarat apaan tuh ya 🤔

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2