Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Malam yang indah


__ADS_3

Falcon tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh sang istri.


“Sweety, apa kau tau kau sudah menggodaku kali ini? Kau hanya mau membalasku saja bukan?” tanyanya.


Liana tersenyum. Gadis itu tak menjawab dan kembali mendekat dan serta merta Falcon meraih tengkuk sang istri lalu menciumnya.


Falcon merasa mendapat angin segar atas penerimaan sang istri atas dirinya, dan bersedia memberikan apa yang selalu ia impikan.


Falcon berpindah posisi menjadi di atas Liana, dengan bibir keduanya yang terus memagut. Lengan Liana melingkar di leher sang suami, dan sesekali merem*s rambut belakang Falcon.


Gigitan kecil di bibir Liana membuat gadis itu mengerang lirih di sela pagutannya. Falcon kemudian turun menyusuri dagu dan leher Liana. Sesapan demi sesapan meninggalkan jejak merah di permukaan kulit putih sang gadis, hingga membuat suara indah keluar begitu saja dari mulut Liana.


Tangannya pun mulai masuk ke dalam sweater tebal Liana, hingga menemukan dua bukit kenyal yang begitu hangat. Falcon menciumi Liana sambil merem*s dengan lembut kedua bukit yang masih terbalut tali kekangnya, hingga membuat Liana semakin tak tenang.


Falcon pun lalu menaikkan sweater itu hingga terlepas dari tubuh sang istri, menyisakan br*a berwarna merah yang menutupi bukit sintal itu. Dia pun ikut melepas kausnya dan hanya tersisa celana mereka masing-masing.


“Sweety, apa kau akan memintaku berhenti?” tanya Falcon.


Tatapannya lurus melihat dada gadis itu yang naik turun begitu menggodanya. Bukannya menjawab, Liana mengangkat kepalanya dan kembali mencium Falcon, serta menarik pria itu agar menimpa tubuhnya kembali.


Falcon melepas ciumannya dan menjilat cuping telinga Liana dan menyesapnya, membuat Liana semakin terangs*ng.


“Apa ini berarti aku boleh lanjutkan?” tanya Falcon.


“Just do it, Honey,” sahut Liana di sela desa*hannya.


Mendengar hal tersebut, Falcon pun turun dan mulai membuka celana sang istri. Liana menaikkan pinggulnya untuk membantu Falcon melepas benda tersebut hingga tersisa segitiga yang menutupi lembah surga.


“Apa kau mau membantu membukanya?” tanya Falcon.


Dia menuntun tangan Liana ke arah celananya. Gadis itu nampak ragu-ragu, namun akhirnya bangun dan mencoba menurunkan pakaian bagian bawah sang suami.


Setelah terlepas, dia melihat sesuatu yang menonjol begitu besar di balik satu-satunya kain yang menutupi senjata milik Falcon.


Liana memalingkan wajahnya yang merona merah. Falcon mendekat ke arah telinga Liana dan membisikkan sesuatu.


“Apa kau tak mau melihat di dalamnya?” tanya Falcon.

__ADS_1


Liana seketika menoleh dengan menggigit bibir bawahnya. Benar-benar terlihat seksi di mata Falcon.


“Bukalah!” serunya.


Gadis itu nampak menelan salivanya karena gugup. Tangannya mulai terangkat meskipun ragu-ragu. Dia meraih benda tersebut, dan perlahan menurunkannya. Saat sesuatu menyembul keluar dan berdiri dengan kokoh, membuat Liana seketika memekik dan menutup matanya.


Falcon pun melepaskan kain tersebut sendiri dan membuka kedua tangan istrinya.


Dia kembali mencium bibir Liana dengan penuh h*srat. N*fsu benar-benar telah menguasainya. Tangannya mencari pengait di belakang punggung untuk membebaskan kedua bukit indah Liana.


Setelah berhasil melepasnya, Falcon melempar benda dengan busa tebal itu entah kemana. Tangannya terus memainkan ujung mungil yang belum terlihat. Masih nampak masuk dan merah muda. Benar-benar belum tersentuh sama sekali oleh siapapun.


Dia turun dan mulai bermain di kedua gundukan kenyal nan hangat itu, hingga membuat Liana merintih-rintih, sambil merem*s rambut sang suami, dan menekannya semakin dalam ke dadanya.


Sentuhan bibir dan lidahn Falcon benar-benar membuat Liana mabuk kepayang. Dia bahkan tak sadar jika segitiganya telah terlepas dari tubuh, dan membuatnya polos tanpa penutup apapun.


Falcon melepas kedua bukit kembar itu, dan menatap wajah istri kecilnya. Pandangan mata Liana telah sayu, dipenuhi noleh kabut gairah. Wajahnya telah memerah karena n*fsu telah menguasainya.


Falcon pun mengecup kening Liana serta kedua matanya. Dia meraih kedua tangan istrinya dan melingkarkannya di leher.


“Tahanlah, Sweety. Aku akan masuk. Jika sakit, katakanlah. Maka aku akan berhenti,” ucap Falcon.


Dalam hentakan pertaman, Liana menjerit begitu keras hingga Falcon menghentikan gerakannya.


“Apa sakit? Kalau kau tidak kuat, mari kita berhenti saja,” ucap Falcon.


Dia khawatir orang sangat ia sayangi itu kesakitan karena ulahnya. Saat Falcon mencoba bangun, Liana justru mengencangkan rangkulannya di leher sang suami, dan menautkan kedua kakinya, melingkar erat di pinggang Falcon.


Dia menekan area intinya dan membuat Falcon semakin masuk ke dalam. Liana terlihat meringis menahan sakit, namun dia terus mencoba membantu suaminya untuk masuk.


Akhirnya, Falcon pun ikut mendorong dan terasa sesuatu yang meleleh hangat dari liang itu. Senjata Falcon telah masuk sepenuhnya, merobek selaput darah Liana.


Mereka berhenti sejenak, agar Liana terbiasa dengan benda benda asing yang besar dan mengganjal tersebut.


Falcon mengecup kening sang istri, dan mencium bibirnya, seiring gerakan pinggulnya yang mulai keluar masuk lembah surga.


Sesaat Liana masih terdengar merintih, namun lama kelamaan hanya ada suara des*han dari keduanya yang saling bersahutan. Peluh bercampur, seiring hentakan demi hentakan yang dilakukan Falcon.

__ADS_1


Liana tak mampu menguasai dirinya, dan semakin hanyut akan gelora rasa yang begitu memabukkan. Badannya berguncang seiring pacuan suaminya yang terus memompa di bawah sana.


Dia merem*as seprei di sekitarnya dan menggigit punggung tangannya sendiri. Sungguh kenikmatan yang baru pernah dirasakan oleh gadis itu semasa hidupnya.


“Aaahhhhh..... Honey, aku seperti mau... meledak.... Aaaaahhhhh....” ucap Liana di sela des*hannya.


“Oh... Jangan tahan, Sweety. Keluarkan saja. Keluar kan... Aaarrrgghh...,” seru Falcon


Liana sudah tiba pada puncaknya dan membuatnya meledak, menciptakan denyutan yang semakin merem*s milik Falcon di dalam sana.


Pria itu masih terus bergerak hingga beberapa lama. Setelah cukup lama berpacu, bercumbu dan mencurahkan seluruh tenaga, akhirnya Falcon tiba pada puncaknya. Sebuah erangan panjang menandai pelepasannya yang meledak menyemai rahim istrinya.


Falcon berhenti, dan mencoba mengatur nafasnya yang kacau. Dia menyeka keringat yang membasahi pelipis istrinya, dan mengecup kening Liana dengan lembut.


“I love you, Sweety,” ucap Falcon di sela nafasnya yang tersengal.


“Me too,” sahut Liana.


Keduanya berpelukan tanpa melepas penyatuan. Liana dan Falcon sama-sama bisa merasakan detak jantung mereka yang berkejaran, berdegup dengan kencang.


Setelah beberapa saat, nafas mereka sudah kembali normal. Falcon melepas miliknya. Dia mengangkat tubuh istrinya yang masih lemas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai, keduanya kembali ke tempat tidur dan menutupi tubuh polos mereka dengan selimut tebal.


Falcon menarik istrinya masuk ke dalam pelukan, dan mengecup puncak kepala gadis yang sekarang telah menjadi wanita seutuhnya itu. Mereka pun terlelap sambil saling berpelukan setelah melewati malam yang begitu indah.


.


.


.


.


Lolos? syukurlah kalian nggak penasaran 🤭


besok lanjut lagi ya bestie 😘

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2