
Semua anggota gengs Jupiter nampak berjaga dia lantai bawah gedung tua dan memberikan ruang serta waktu untuk kedua orang yang sedang bermasalah di lantai atas.
Tak ada satu pun yang berani mendekat ke sana, sekalipun itu Nine dan Long. Mereka semua memilih untuk menghabiskan malam dengan berjaga dia area bawah gedung sambil menghangatkan diri dengan api unggun yang mereka buat.
Malam semakin bergulir, dan kini sudah dini hari. Rasa kantuk pun mulai menyergap setiap makhluk dimuka bumi ini dan menuntun semuanya untuk terlelap dalam tidur.
Namun, berbeda dengan dua makhluk yang saat ini tengah duduk bersebelahan, dengan perasaan canggung di antara keduanya. Kini, kewarasan telah kembali dan membuat Liana serta Falcon menyadari tindakan mereka yang benar-benar diluar dugaan.
Ciuman yang begitu hangat dan menggelora yang sebelumnya telah mereka lakukan, kini menyisakan rasa malu dan kikuk yang begitu besar.
Meski Falcon nampak bersikap biasa saja, namun tak bisa dipungkiri jika jantungnya masih berdegup begitu kencang terlebih ketika mengingat aksi mereka berdua tadi.
Berbeda dengan Liana, gadis itu terus saja merutuki dirinya sendiri dalam hati karena sudah mau disentuh oleh pria yang bahkan sempat membuatnya begitu kesal.
Apa aku mendadak jadi b*doh? Kenapa aku bisa melakukan hal itu? Oh, tidak! Itu sangat memalukan. Bagaimana ini? Apa aku langsung berjalan keluar saja dan pergi dari sini? Tapi, di luar pasti sangat berbahaya dan dia akan memaksa untuk mengantarku pulang, batin Liana.
Dia terus menyesali disorder yang baru saja terjadi pada dirinya, ketika otak dan tubuh tidak bisa bekerja sama dengan baik.
Memori di otaknya seolah terus memutar ulang rela adegan, saat dia dan Falcon berciuman. Badannya yang tiba-tiba saja beku, secara tak langsung memberi ijin pada pria itu untuk melakukan lebih. Bukan hanya sekedar kecupan, melainkan ciuman yang begitu panas.
Dengan arahan Falcon, Liana melingkarkan lengannya di leher pria itu, dan semakin erat memeluknya. Ciuman mereka bahkan semakin dalam.
Liana terlihat begitu amatir, hingga Falcon terus menuntunnya dan membuat Liana semakin hanyut dalam gelora yang mereka ciptakan.
"Eeehhhmmm...,"
Lenguhan bahkan lolos begitu saja di sela mulutnya yang terbungkam oleh bibir Falcon. Pria itu semakin bern*fsu dan membuatnya makin liar mereguk manisnya bibir mungil itu.
G*irah yang semakin memuncak, membuat Falcon begitu beringas meluumaat bibir ranum merah muda Liana, merebut semua udara di sekitar gadis itu, hingga membuat Liana seolah tak sempat bernafas untuk mengisi paru-parunya.
Merasa begitu sesak dan kepayahan, Liana berusaha mendorong Falcon dan memukul-mukul pundak pria itu agar menghentikan aksinya.
Falcon pun tersadar dari h*sratnya dan melepaskan bibir Liana yang sudah terasa kebas. Falcon kembali menempelkan keningnya ke kening Liana, dan keduanya pun mencoba bernafas meski dengan tersengal-sengal.
Liana masih belum sadar sepenuhnya akan apa yang telah mereka perbuat. Tangannya masih merem*s pundak Falcon dan membuat pria itu merasa jika Liana masih terkejut.
Dia menjauhkan sedikit jarak wajahnya dengan gadis itu. Nampak bibir Liana basah oleh liur, dan dengan lembut, Falcon menyekanya dengan ibu jari.
Senyum terbit di wajah pria itu. Dia memutuskan untuk tak mengambil kesempatan, di saat Liana terlihat belum siap untuk melakukan hal lebih dari sekedar ciuman.
Falcon merangkul pundak Liana dan dengan perlahan menuntunnya untuk duduk di sofa yang ada di sana.
Dia kemudian pergi ke minibar dan mengambil sebotol minuman serta dua buah gelas kosong.
Kini, keduanya tengah duduk bersama, dan sudah hampir satu jam tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut masing-masing. Hingga akhirnya, Liana mulai menyadari apa yang sudah terjadi, dan membuat Falcon merasa perlu membuka suara.
“Apa kau tidak mau mengatakan apapun? Kenapa tiba-tiba jadi pendiam seperti ini?” tanya Falcon.
Pria itu menuangkan minuman ke dalam gelas yang diambilnya dari mini bar.
“Apa lagi yang mau ku katakan? Kau saja belum menjawab semua pertanyaan ku tadi,” sahut Liana ketus.
Gadis itu terus memalingkan wajahnya agar tak melihat mata Falcon yang sempat menghipnotis dia. Liana juga menyembunyikan rona merah di wajahnya, karana begitu malu dengan pria di sampingnya.
__ADS_1
“Bukankah sudah ku katakan tadi?” tanya Falcon balik.
“Kapan? Aku tak ingat,” elak Liana.
Gadis itu terus berusaha menutupi kegugupannya di depan Falcon. Dia pun meraih gelas di depannya dan meneguk minuman di sana.
Falcon menyeringai melihat hal tersebut. Seketika, otak jahilnya bekerja dan mendorongnya untk menjahili Liana.
“Wah, aku tadi sudah mengatakan panjang lebar pada mu tentang semuanya, tapi kamu bahkan tidak mengingatnya?” ucap Falcon.
Pria itu menatap lekat Wajah Liana. Terus menatap gadis itu hingga Liana pun menjadi semakin salah tingkah.
Dalam hati, Falcon ingin sekali tertawa melihat pipi Liana yang semakin bersemu. Dia yakin jika gadis itu hanya ingin mengelak tentang apa yang sudah terjadi di antara mereka berdua.
“Baiklah. Kalau kau lupa, apa aku perlu mengingtakannya lagi?” tanya Falcon.
Dia kemudian meraih dagu runcing Liana dengan jari telunjuk, dan perlahan menuntun wajahnya agar menghadap ke arah Falcon.
Liana menegang karena sentuhan dari Falcon. Kedua tangannya meremas ujung kemejanya sendiri dengan tatapan yang turun ke bawah. Dia tak berani melihat ke arah sang bos gangster.
Nyalinya ciut saat dia teringat kembali akan perilakunya, yang dengan terang-terangan menyambut ciuman dari pria itu.
Falcon semakin mendekatkan wajahnya ke arah Liana. Gadis itu bahkan serta merta menutup matanya dengan kepalan tangan yang semakin kuat merem*s bajunya sendiri.
Hembusan nafas Falcon bahkan sudah terasa menerpa kulit wajahnya. Namun, Tiba-tiba sebuah sentilan mendarat keras di kening Liana, hingga membuat gadis itu memekik kesakitan.
“Aawwwww!” pekik Liana.
Dia memegangi keningnya yang terasa panas akibat ulah Falcon barusan.
“Lalu, apa yang kau mau aku lakukan? Oh, Jangan-jangan kau mengharapkan aku menciummu lagi seperti tadi ya?” goda Falcon.
Seketika, pipi Liana kembali memerah bak tomat rebus. Merah dan panas.
“Tidak! Apa maksudmu? Aku tidak berpikir begitu,” elak Liana.
Falcon kembali mendekatkan wajahnya dan berada tepat di hadapan Liana.
“Lalu, kenapa kamu tutup mata?” tanya Falcon.
“Ehm... Itu... Itu karena... Ehm... Ah, sudah lah. Lupakan! Anggap tadi hanya kecelakaan,” sahut Liana.
“Oh ya? Jadi, itu adalah kecelakaan yang dilakukan dengan sadar?” goda Falcon.
“Ehm... Sudah malam. Aku sebaiknya mencari penginapan di dekat sini saja,” ucap Liana mengalihkan topik.
Gadis itu bangkit berdiri. Namun, Falcon kembali meraih tangan Liana dan membuat gadis tersebut kembali duduk di posisinya semula.
“Ingat! Ini adalah Grey Town. Kami tidak bisa berharap ada sebuah tempat aman, yang bisa ditinggali oleh gadis baik-baik seperti mu,” ucap Falcon.
“Jadi, apa kau akan mengantarku pulang sekarang juga?” tanya Liana.
“Hei, Nona. Ini sudah terlalu larut. Sebaiknya kita tunggu sampai fajar, baru aku akan mengantarmu pulang,” jawab Falcon.
__ADS_1
“Lalu, aku harus tidur di mana?” tanya Liana lagi.
“Kau tinggal saja di sini,” sahut Falcon.
Liana membola. Gadis itu langsung menyilangkan kedua lengannya di depan dada, seraya memicing ke arah Falcon.
“Jangan macam-macam denganku ya!” seru Liana memperingatkan.
Mendengar perktaan Liana, Falcon justru mendengus kesal. Tiba-tiba, pria itu kembali menjentikkan jarinya di kening Liana, hingga gadis itu kembali memkik.
“Aawwww! Sakit! Kenapa kau menyakiti ku lagi sih?” pekik Liana.
“Kenapa kau mendadak mesum begini? Apa aku bilang akan tidur dengan mu? Aku hanya mengatakan agar kau tidur di sini. Aku akan keluar bergabung dengan yang lain,” tutur Falcon.
Liana hanya bisa tertawa canggung mendengar perkataan Falcon tadi. Dia malu sendiri karena mempunyai pikiran liar seperti itu.
Kenapa aku jadi selalu berpikir ke arah sana sih? Apa otakku ini benar-benar sudah tidak waras? batin Liana.
Melihat gadis itu diam dengan senyum kikuknya, Falcon pun kembali ingin menggodanya.
“Ah, aku tau. Atau jangan-jangan, kau mau aku tetap di sini dan tidur denganmu? Benar begitu kan?” ucap Falcon.
“Apa? Tidak, terimakasih. Lagipula, di sini hanya ada sofa. Terlalu sempit untuk ditempati kita berdua,” sahut Liana cepat.
“Tidak juga. Sofa ini cukup untuk kita berdua, jika kita tidur sambil saling berpelukan,” goda Falcon dengan menunjukkan seringainya.
Liana tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Falcon tadi. Dia pun meraih bantal sofa dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
“Hei, Tuan. Sebaiknya kau cepat keluar! Keluar!” usir Liana.
Gadis itu memukul-mukukkan bantal empuk itu ke arah Falcon. Tapi bukannya kesakitan, Falcon justru tertawa geli melihat reaksi Liana yang menurutnya begitu lucu.
Dia bangun dari duduknya dan terus menghindar dari pukulan bantal yang terasa lembut itu, hingga dia pun keluar dengan terkekeh.
“Gadis yang lucu. Aku semakin suka untuk terus menggodanya,” ucap Falcon.
Dia mengusap bibir bawahnya dengan ibu jari, seolah membayangkan sentuhan bibir lembut Liana yang telah ia rasakan.
.
.
.
.
Nih ku kasih sisa semalam 😅 yang ngarep ada adegan haredang, maaf ya, Liana nggak segampang itu🤭 perlu pendekatan yang intens dulu😁babang falcon biar berjuang lebih keras dulu buat dapetin Liana 😉
kalo othor, akan berjuang lebih keras buat up banyak-banyak buat besties 🥰
nah, tugas bestie adalah siapain vote besok buat novel ini dan guyur kopi banyak-banyak buat Liana🤭tetep malak😅🤣
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘