
Liana dan Falcon masih betah berlama-lama menunggu di tepi pantai. Mereka berdua tengah menikmati angin laut yang bertiup sedikit kencang di sana, memainkan rambut gadis itu hingga berterbangan tak beraturan.
Dia masih menunggu respon dari Kenny, orang yang saat ini menjadi kunci keberadaan Peter di pemukiman nelayan tersebut.
“Kenapa tak coba tanya lagi pada kakekmu lokasi tepatnya?” tanya Falcon.
“Paman Jimmy saja tidak tahu, apa lagi Kakek,” ucap Liana.
“Kapan kau menghubungi Jimmy?” tanya Falcon.
“Hanya bertanya lewat pesan chat saja, dan dia langsung membalas tidak tau dan akan segera datang kemari,” ucap Liana.
“Jadi, Jimmy juga akan kemari? Apa tidak akan mengundang perhatian musuh nantinya?” tanya Falcon memastikan.
“Paman bilang, dia sudah mengantisipasi hal tersebut dan akan sangat berhati-hati dalam bertindak,” sahut Liana.
Disela obrolan mereka, tiba-tiba sebuah dering telepon berbunyi. Liana pun kembali menegakkan duduknya dan melihat siapa yang melakukan panggilan. Matanya membelalak ketika melihat nama yang tertera di layar ponsel.
Dia pun segera menggeser tombol hijau ke kanan, dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
“Halo, Wartawan Liem. Ini aku, Liana Wang,” sapa Liana cepat.
Falcon nampak mendengarkan dengan seksama perbincangan keduanya lewat telepon.
__ADS_1
Liana menanyakan letak tempat persembunyian ayahnya di pemukiman nelayan tersebut.
Kenny tak menjawab posisi tepatnya, namun dia akan mengutus seseorang untuk datang ke padanya dan menunjukkan jalan.
Liana pun hanya bisa mengkuti rencana wartawan tersebut.
Sambungan pun terputus. Kini, Liana hanya bisa menunggu orang yang diutus Kennny untuk menjemputnya.
Waktu telah lewat lima belas menit dari panggilan terakhir, dan belum ada tanda-tanda seseorang datang dari arah kampung belayan tersebut.
Tiba-tiba saja, seorang anak kecil sekitar usia dua belas tahun, datang menghampiri Liana dan Falcon yang masih menunggu di tempat yang sama.
“Selamat siang, Nona. Apa Anda ingin naik perahu dan berkeliling melihat-lihat ke sisi pulau di sebelah sana?” tanya anak kecil itu.
“Aku akan berikan kau diskon sepuluh persen, Nona. Kebetulan itu perahu milikku sendiri, dan namannya adalah Thingkerbell,” ucap anak tersebut.
Namun, Liana seolah tak peduli dan terus diam memandangai arah pintu keluar pemukiman nelayan yang berada tak jauh di depannya.
“Apa kau tidak tertarik melihat-lihat sisi pulau itu?” tanya Falcon.
“Kau tahu sendiri aku di sini untuk apa? Tidak ada waktu bersantai-santai begitu,” sahut Liana dingin.
“Baiklah kalau Nona memang tidak mau, tidak masalah. Aku akan tawarkan saja pada orang lain,” ucap anak kecil itu.
__ADS_1
Dia pun berbalik dan berjalan menjauh tanpa menoleh sedikit pun. Falcon memberikan isyarat mata kepada salah satu anak buahnya, yang berada tak jauh dari mereka untuk mengikuti anak kecil tadi.
Sedangkan Falcon sendiri, dia mendekat dan merangkul pundak gadisnya.
“Mungkin sebaiknya kau ikut anak kecil itu. Kita jauh-jauh datang kemari tidak mungkin kembali tanpa mendapatkan hasil apapun bukan,” ucap Falcon.
“Silakan saja kalau kau mau bersenang-senang di pulau sana. Aku tak keberatan menunggu di sini sendirian,” ucap Liana ketus.
Falcon mengusap-usap lengan gadisnya, mengingat angin semakin terasa dingin dan seperti masuk menembus lapisan pakaian mereka.
“Tapi apa kau dengar tadi? Nama kapalnya adalah Thinkerbell. Mungkin saja jika kita mengikutinya, kita bisa bertemu dengan Peterpan,” ucap Falcon.
Liana nampak masih tak peduli sama sekali dengan anak yang baru saja pergi itu. Namun tiba-tiba, Liana menoleh ke arah Falcon dengan tatapan yang terkejutnya.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘