Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Sarapan di rumah kakek


__ADS_3

Hari-hari berganti, tak terasa sepekan telah berlalu. Persidangan kasus Amber telah memasuki babak kedua. Semenjak Moses mengungkap kecurangan dan kejahatan yang dilakukan Amber, banyak pihak yang merasa dirugikan oleh wanita itu ikut menuntutnya secara beramai-ramai.


Sehingga Amber tak hanya dibebani kasus penculikan Liana dan Peter saja, melainkan juga semua kasus yang pernah ia lakukan selama ini.


Kali ini, Liana telah berada di kediaman Dream Hill. Wanita itu datang dengan sang suami dan baru tiba malam tadi.


Setelah beristirahat, Liana dan Falcon kini telah bersiap untuk pergi ke pengadilan. Seperti biasa, mereka akan sarapan bersama Kakek Joseph terlebih dahulu.


“Kudengar kalian sempat berlibur ke resort sky,” tanya Kakek Joseph di sela sarapannya.


“Darimana Kakek tahu? Apa sekarang, informasi begitu cepat sampai ke telinga Kakek?” tanya Liana balik.


Liana ingat betul jika sebab kebuntuan Jimmy selama ini, adalah keberadaan Debora yang selalu menutupi semua informasi dari mereka.


Sehingga Liana langsung menerka seperti tadi, saat kini wanita itu tak lagi tinggal di sisi sang kakek.


“Kakek mertuamu yang mengatakannya pada ku,” jawab Kakek Joseph.


Liana seketika menghentikan gerakan tangannya dan menatap sang kakek dengan mata melebar. Sedangkan Falcon, pria itu tetap melanjutkan makannya tanpa peduli yang diomongkan oleh kedua orang tersebut.


“Kapan Kakek bertemu dengan Tuan Harvey?” tanya Liana penasaran.


“Beberapa hari yang lalu. Dia juga mengatakan telah menemukan sesuatu di atas tempat tidur kalian berdua,” jawab Kakek Joseph.

__ADS_1


Seketika itu, Falcon terbatuk karena mendengar ucapan dari Pak tua Wang. Liana yang melihat hal itu pun segera mengambilkan air minum dan menepuk-nepuk punggung sang suami.


“Kakek! Lihat ini. Karena Kakek, suamimu jadi menderita,” keluh Liana.


“Aku hanya mengatakan apa yang dia sampaikan. Santai saja, karena kami berdua sudah sangat mengharapkan akan bisa segera menggendong bayi kecil yang lucu. Kembar lebih baik,” sahut Kakek Joseph.


“Kakek!” pekik Liana.


Wanita itu kesal namun wajahnya merona dan terasa panas, karena malam pertamanya dengan Falcon kini telah sampai ke telinga sang kakek.


“Ehem... Maaf, Tuan...,” ucap Falcon.


“Ssshhh! Hei, anak muda. Mau sampai kapan kau memanggilku dengan cara seperti itu, hah?” sela Kakek Joseph.


“Ehm... Maaf, Kek. Ada hal apa yang membuat kakekku datang kemari?” tanya Falcon.


“Benarkah? Kapan itu, Kek?” tanya Liana antusias.


“Dia bilang setelah vonis menantunya dijatuhkan. Karena dia ingin kau fokus mengurus kasus itu terlebih dulu,” jawab Kakek Joseph.


Falcon meraih tangan sang istri dan menggenggamnya. Liana menoleh. Keduanya pun saling melempar senyum.


Kakek Joseph bisa melihat cinta di mata Falcon dan juga Liana. Dia merasa bersyukur karena menyerahkan cucu satu-satunya kepada pria yang begitu mencintai gadis itu.

__ADS_1


“Jam berapa sidangnya akan dimulai?” tanya Kakek Joseph.


“Sekitar pukul sembilan. Kami tidak bisa menemani Kakek mengobrol terlalu lama, karena setelah sarapan kami harus segera berangkat,” ucap Liana.


“Apa kakek perlu ikut dengan kalian?” tanya Kakek Joseph.


Liana berhenti sejenak dan kemudian kembali menggerakkan alat makannya.


“Tidak perlu, Kek. Kakek cukup melihat dari layar televisi saja. Aku tak ingin Kakek pingsan saat melihat orang di balik kesengsaraan yang dialami oleh ibuku,” sahut Liana.


Falcon menoleh ke arah istrinya. Dia melihat gurat kesedihan di sana, meski ucapannya terdengar begitu tegas dan kasar.


Begitu pun saat melihat ekspresi pria tua di ujung meja sana, yang juga terlihat kembali suram seolah kesedihan masih membayangi, bahkan setelah puluhan tahun berlalu.


.


.


.


.


ku tambahin lagi satu😁lanjutnya besok lagi ya

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2