Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Selamat tinggal!


__ADS_3

“Hei, Falcon! Kenapa kau diam saja? Jawab aku! Hei!” teriak Liana.


Gadis itu terus mengikuti Falcon hingga ke markas besar geng Jupiter yang berada di gedung terbengkalai kota Grey Town.


Dia sangat kesal karena sejak dia turun dari crane, tiba-tiba sikap Falcon seolah marah dan tak senang dengan kehadirannya.


Bahkan saat di dalam mobil, sepanjang perjalanan, gadis itu terus mengoceh dan bertanya tentang sikap sang ketua gangster. Namun Falcon tetap memilih diam seribu bahasa dengan mata yang tak sedikitpun terbuka.


Akhirnya, Liana pun membuang wajah ke arah luar kaca, dan tak mengkiraukan Falcon lagi. Tangannya terlipat ke depan dan wajahnya pun benar-benar kesal dengan pria itu.


Drama kembali terjadi, ketika Mike berbelok hendak mengantarkan Liana pulang ke apartemennya.


“Jangan ke apartemen! Aku ikut kalian pulang ke Grey Town saja,” ucap Liana.


Dia melirik sekilas ke arah Falcon, dan kembali membuang pandangan ke luar.


Di depan, Mike melihat ke arah belakang dan kemudian menoleh ke arah Nine yang sejak awal duduk di sampingnya. Mike kebingungan antara menuruti Liana atau tetap mengantarnya pulang.


Nine pun sama bingungnya, dan akhirnya Mike pun melambatkan laju kendaraan hendak putar balik. Namun, belum juga mobil berubah arah, kedua pria di depan kembali dikejutkan oleh orang yang duduk di belanag mereka.


“Antarkan dia pulang!” seru Falcon tiba-tiba.


Hal itu membuat Liana seketika menoleh ke atah pria di sampingnya. Rupanya, Falcon masih memejamkan matanya sambil memberikan perintah kepada anak buahnya.


Mike pun urung putar balik dan akhirnya tetap menuju ke apartemen Liana.


“PUTAR BALIK!” bentak Liana.


Mike dan Nine kembali dibuat pusing. Namun, kali ini Falcon tidak mendebat. Pria itu hanya menghela nafas panjang menghadapi keras kepalanya Liana.


“Mike, ku bilang putar balik ya putar balik! Aku ikut kalian pulang!” seru Liana tegas.


Tatapannya lurus ke arah spion yang bisa dilihat jelas oleh Mike dari balik kursi kemudi.


Si anak buah itu pun hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah, karena sikap kedua orang di belakang yang membuatnya serba salah.


Akhirnya, karena intimidasi dari gadis yang mendapat panggilan 'kakak ipar' dari seluruh anggota geng Jupiter itu, Mike pun memutar balik mobil dan menuju ke Grey Town.

__ADS_1


Tengah malam, mereka baru sampai di basecamp gang Jupiter. Sesaat setelah mobil berhenti, Falcon segera turun. Dia bahkan tak menunggu Nine atau Mike membukakan pitu terlebih dulu.


Gadis keras kepala itu pun ikut turun dan menyusul Falcon yang berjalan cepat menaiki gedung.


“Hei! Kenapa kau diam? Apa kau benar-benar marah karena aku berhasil selamat? Apa kau berharap aku celaka di dana?” cecar Liana.


Gadis itu terus mencerocos sambil mengimbangi langkah kaki Falcon yang snagat lebar. Dia seakan tak Terima dengan sikap sang bos gangster kepada dirinya. Awalnya Liana mengira, jika dia akan disambut dengan tepuk tangan yang riuh saat turun dari atas crane dengan kerennua. Tapi, falcon justru diam dang dingin padanya.


Di depan pintu, Long yang sedari tadi menunggu kedatangan semua orang, berdiri menyambut kedua orang itu dengan senyum.


“Selamat datang semua,” sapa Long.


Namun, bukannya menyahut, Falcon begitu saja menyingkirkan si germo nyetrik itu dari depan pintu, hingga membuat Long terbentur ke dinding.


Dia kemudian melihat Liana dan hendak menyapanya, namun ekspresi gadis itu seakan tengah emosi dan membuatnya urung.


Long pun melihta rekannya, Nine, yang berjalan di belakang kedua orang tadi. Dia menghampiri Nine dan bertanya tentang sikap kedua orang tersebut.


“Hei, Nine. Ada apa dengan mereka? Kenapa ekspresinya begitu?” tanya Long yang penasaran.


Nine pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Long. Lengannya merangkul pundak si germo itu.


“Hah?! Kenapa?” tantanyay Long.


Namun, Nine tak menjawab. Dia hanya menepuk bahu long beberapa kali dan kembali melangkah menuju ke dalam ruangan.


“Ada apa ini? Mike, ada apa?” tanya Long.


Namun lagi-lagi, Mike pun tak memberitahukan kebenarannya kepada Long, dan hanya mengedikkan kedua bahunya.


Sementara di dalam, Liana terus membombardir Falcon dengan pertanyaan seputar sikapnya yang tak masuk akal itu. Hingga Nine yang awalnya hendak melapor pun urung, dan memilih untuk menutup kembali pintu untuk membiarkan mereka berdua menyelesaikan masalah ini sendiri.


Di dalam basecamp, Falcon nampak berjalan menuju ke mini bar dan meraih sebotol minuman utuh dari dalam rak. Dia membuka penutup botolnya dan meneguk isinya langsung dari botol.


Sementara di belakangnya, Liana terus menyerangnya dengan pertanyaan yang sama hingga membuat kepalanya hampir meledak.


“Kalau tau kamu akan marah seperti ini, aku tak akan mau di tolong oleh anak-anak buahmu. Harusnya kau biarkan saja aku jatuh bersama besi pengait itu. Mungkin aku sudah sekarat saat ini dan kau akan senang melihatnya,” cerocos Liana.

__ADS_1


Namun, pria yang diajak bicara olehnya seolah tuli. Dia lebih memilih menekan emosinya dan terus membuat dirinya mabuk.


Liana semakin kesal dibuatnya. Entah kenapa dia begitu emosi karena tidak di pedulian seperti itu oleh Falcon. Padahal, dulu dia selalu tak peduli dengan pandangan dan sikap orang lain terhadapnya.


“Baiklah. Sepertinya keberadaan ku di sini memang tak ada gunanya. Maaf karena aku sudah mengikuti kalian pulang sampai sini. Kelak, aku tidak akan menggangu mu dan geng mu lagi, kemudian tolong tidak usah untuk peduli lagi dengan apa yang terjadi pada ku. Terimakasih untuk bantuanmu selama ini. Selamat tinggal,” ucap Liana.


Gadis itu berbalik dan berjalan ke arah pintu keluar. Matanya terasa pedih hingga bulir bening mulai menggenang di pelupuk mata.


Sesak. Kenapa sesak sekali? Dasar brengs*k! Ini pasti karena aku kesal setengah mati tadi, batin Liana.


Dadanya terasa nyeri hingga dia sekuat hati menahan bulir itu jatuh di pipinya. Dia melangkah dengan cepat. Ketika hampir mencapai pintu, sebuah suara benda pecah terdengar begitu nyaring, hal itu pun membuat Liana seketika kembali menoleh ke belakang.


Belum sempat dia melihat benda yang peraah itu, Falcon tiba-tiba telah berada di depannya, dan serta merta memeluk erat tubuh kecil Liana.


Gadis itu membeku seketika. Karena begitu terkejut, dia bahkan sampt menahan nafas beberapa saat, hingga dia sadar karena suara degupan jantung mereka berdua pun saling bersahut dan begitu keras.


Liana mengangkat tangannya dan mencoba mendorong Falcon. Namun, pria itu justru memeluknya semakin erat.


“Jangan pergi! Tolong jangan katakan selamat tinggal lagi!” ucapnya.


Suara Falcon terdengar parau dan lemah. Seperti ada sebuah ketakutan yang sedang melanda diri pria itu. Hal itu pun membuat Liana urung untuk kembali menolak Falcon, dan terpaksa membiarkan pria itu terus mendekapnya erat.


Meski awalnya dia begitu emosi pada pria tersebut, entah kenapa sebuah rasa hangat menyelinap ke dalam dada Liana. Pelukan Falcon terasa begitu nyaman bagi gadis yang sangat kurang akan kasih sayang sejak kecil.


Dia diam. Kedua tangannya menggenggam erat ujung baju yang dikenakan oleh Falcon, dan meresapi kehatan yang begitu membuatnya nyaman.


.


.


.


.


Maaf baru bisa up malam sekali🙏besok masih weekend jadi masih 1 bab yah😊✌


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2