
Setelah kejadian tempo hari di hari pertamanya bekerja, Jessica seolah terus mencari celah dan kesalahan yang Liana perbuat, untuk membalas gadis itu atas perlakuannya.
Dia masih kesal karena tak bisa berkutik di hadapan Liana, hanya karena dia tahu rahasia antara dirinya dan juga sang ibu.
Hari itu, waktu sudah menunjukan pukul sepuluh siang. Jessica yang memang tidak terlalu peduli pada pekerjaannya pun, memilih untuk naik ke lantai di atasnya, tempat di mana para tim produksi bekerja.
Dengan gayanya yang selalu terlihat glamor, Jessica berjalan seolah-olah menjadi atasan yang tengah melakukan inspeksi mendadak pada karyawannya.
“Dimana meja Lilian?” tanga Jessica pada salah seorang karyawan di sana.
Karyawan itu mengernyitkan keningnya, saat melihat Jessica yang tiba-tiba muncul dan bertanya tentang Liana.
Tanpa berkata, karyawan tadi pun menunjuk ke sebuah ruangan yang berada di ujung sana dengan telunjuknya.
“Oh, baiklah,” sahut Jessica.
Dia pun melangkah menuju ke arah yang ditunjukkan. Dia tak tau jika semua yang berada di lantai itu, berbisik membicarakan dirinya di belakang.
Saat sampai di depan ruangan kepala bagian, dia melihat papan nama bertuliskan Lilian Wu di depan pintu.
“Ini dia ruangannya,” gumam Jessica.
Dia mencoba membuka pintu tersebut, namun rupanya Liana telah menguncinya.
“Si*lan! Kenapa di kunci!” gerutu Jessica.
Dia pun kemudian berjalan ke samping, dimana terdapat sebuah kaca yang begitu lebar, yang bisa melihat ke bagian dalam ruangan.
Jessica berdiri dan melihat ke dalam ruangan Liana dari sana.
“Kurang ajar. Sementara aku ditempatkan di meja sempit itu, kamu malah enak-enakkan mendapat ruangan yang besar seperti ini. Awas kau, Lilian. Aku pasti akan membuatmu ditendang dari sini,” ucap Jessica.
Dia pun kemudian kembali berjalan ke arah meja para karyawan bagian produksi. Di sana, dia bertemu kembali dengan seorang karyawan lain, yang kebetulan berjalan ke arahnya.
Dengan serampangan, Jessica menghalangi langkah karyawan itu dengan tangannya.
“Tunggu dulu! Kenapa kepala bagian kalian tidak ada di tempat? Sejak kapan dia pergi keluar?” tanya Jessica dengan angkuhnya.
“Maksud Anda, Nona Wu?” tanya karyawan itu.
“Siap lagi kepala bagian perencanaan di sini? Apa tim produksi sebod*h ini?” bentak Jessica.
“Nona Wu hari ini meninjau lapangan sedari pagi. Beliau belum datang ke kantor. Biasanya baru akan kemari setelah selesai makan siang,” ucap karyawan itu.
“Apa? Seenaknya sekali dia. Setidaknya dia harus mengisi absensi dulu baru pergi. Tidak bisa di biarkan! Aku harus mendisiplinkannya!” ucap Jessica.
“Tapi, Nona Wu sudah...,” sanggah karyawan itu.
“Jangan membelanya! Katakan di mana dia sekarang?” tanya Jessica.
__ADS_1
Karyawan itu pun menyebutkan sebuah alamat, dimana saat ini Liana berada.
Setelah mendapatkannya, Jessica pun segera pergi, dan bermaksud membalas perbuatan Liana tempo hari.
Seperginya Jessica, para karyawan yang sedari tadi hanya bisa melihat, kini saling berbincang membicarakan gadis itu.
“Siapa sih dia? Sombong sekali,”
“Dari pakaiannya sih, seperti orang kaya. Tapi, sangat tidak sopan,”
" Benar. Lebih seperti mau pergi ke klub malam dari pada bekerja,"
“Apa dia punya masalah dengan Nona Wu?”
“Entahlah! Dia tadi bertanya kenapa Nona Wu tidak absensi dulu,”
“Apa dia tak lihat catatan absesi Nona Wu? Dia kan selalu tepat waktu,”
“Benar. Nona Wu kak bisa mengisi absensi dari area proyek pembangunan,”
"Mungkin dia karyawan baru,"
“Menurut ku bukan. Dia itu lebih seperti orang aneh,”
“Iya, benar-benar aneh!”
Begitulah para karyawan membicarakan Jessica di belakang.
Di area pembangunan apartemen warga, nampak Liana tengah berdiri di salah satu sudut, sambil menyesap kopi panas yang diberikan oleh salah satu pekerjaan proyek.
Dia baru saja selesai berkeliling memantau setiap pekerjaan, yang tengah dilakukan oleh setiap lini di proyek tersebut.
Matahari begitu terik siang itu. Waktu pun telah menunjukkan pukul sebelas siang. Hampir menjelang waktu istirahat.
Nampak dari kejauhan, seorang gadis dengan pakaian glamor, lengkap dengan segala pernak-pernik mewah, lengkap dengan sepatu high heels, tengah berjalan memasuki area proyek.
Dia bahkan tak mengenakan helm sebagai standar keselamatan di tempat berbahaya tersebut.
Liana diam melihat kedatangan gadis itu, dan memilih untuk memperhatikan terlebih dulu dari tempatnya berada.
Gadis yang tak lain adalah Jessica itu, benar-benar memutuskan untuk menyusul Liana ke tempat pembangunan apartemen.
Dia pun berjalan semakin masuk, dan mencari keberadaan Liana di sana. Dia melihat sekeliling, namun hanya ada para pekerja pria yang menatap aneh ke arahnya.
Jessica pun seketika membuang muka, karena merasa pandangan mereka semua sedang menggodanya.
“Pasti mereka mencoba mendekatiku,” gumamnya penuh percaya diri.
Dia kembali berjalan. Jessica sama sekali tak menghiraukan resiko berada di area pembangunan. Dia bahkan terus berjalan sambil mencari sosok Liana.
__ADS_1
Namun, posisinya terlalu dekat dengan bangunan. Dia tak tau jika kecelakaan bisa saja terjadi sewaktu-waktu di sana. Dan benar saja, sebuah batu bata jatuh dari atas, karena katrol yang menariknya bergoyang.
Liana dengan cepat menyambar tubuh Jessica, agar terhindar dari kecelakaan itu. Mereka terjatuh tak jauh dari tempat batu bata itu meluncur dan hancur.
Liana segera berdiri, sedangkan Jessica masih tampak terkejut dengan kejadian yang tiba-tiba terjadi itu.
“Apa kau gila? Apa kau bodoh? Dimana otakmu hah?!” maki Liana begitu keras.
Jessica segera tersadar dan ikut berdiri menghadap Liana.
“Apa maksudmu bicara begitu? Kau yang tidak tau aturan! Aku kesini karena ingin mendisiplinkan mu! Sudah siang begini dan kau bahkan tidak pergi ke kantor untuk absensi. Seenaknya saja kau bekerja. Ingat! Aku ini cucu yang diakui Tuan Wang!” balas Jessica tak kalah lantang.
Liana mengepalkan tangannya kuat-kuat, namun dia tetap berusaha tak terpancing oleh gadis di depannya.
“Kau bilang kemari ingin mendisiplinkan ku karena absensi?” tanya Liana.
“Benar. Kenapa? Takut?” ejek Jessica.
“Ikut aku!” seru Liana.
Dia pun kembali meraih tangan Jessica dan menariknya ke sebuah tempat. Liana membuat gadis sombong itu lagi-lagi berjalan kepayahan, terlebih karena harus berjalan dengan high heels di area tanah berbatu.
Berkali-kali kaki jessica tak mampu menapak dengan baik di tanah karena hak tingginya, yang membuatnya kesulitan berjalan di medan seperti itu.
Liana berhenti saat mereka tiba di depan pos penjaga. Dia mengeluarkan ID cardnya, dan menempelkan pada sebuah alat pemindai. Sebuah bunyi 'tut' terdengar, dan tertera tulisan 'Selamat Jalan' di layar kecil yang berada di samping sensor pemidai tersebut.
“Apa kau lihat sekarang? Disini ada mesin absensi. Semua pekerja pun memakainya untuk mengisi kehadiran mereka. Aku penasaran, selama ini kau tinggal di mana? Hutan?” ucap Liana.
Jessica benar-benar lupa, jika mesin semacam ini memang bisa berada di mana saja, terlebih untuk ukuran perusahaan besar seperti Wang Construction. Sudah pasti alat ini dipakai untuk memantau kehadiran para pekerjanya.
“Aku....,” ucap Jessica.
“Kau apa? Kau bod*h? Kau tol*l? Kau apa?” cecar Liana dengan sangat keras.
Bahkan setiap pekerja yang berada di dekat mereka pun, menghentikan kegiatan mereka, dan menyaksikan kejadian tersebut.
“Jaga bicaramu, Lilian!"
.
.
.
.
Jeng... Jeng.... udah ya, besok lagi🤭
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘