
Anak kecil itu bangun dan berjalan ke arah perahu motornya. Dia tak ingin berdebat lagi dengan Liana, ditambah melihat kondisi gadis itu yang saat ini sedang kacau, membuatnya tak ingin berdebat lebih lama dengannya.
“Apa kau tak mau ganti pakaian dulu? Angin laut sangat dingin. Kau bisa sakit kalau masih memakai pakaian basah seperti itu!” seru Paulo.
Ella menoleh ke arah Liana, namun gadis itu segera menggelengkan kepalanya.
“Tapi benar kata Paulo, Nona,” ucap Ella.
“Aku tak apa, Kak. Tolong gantikan aku menjaga ayahku di sini. Aku harus pergi untuk beberapa hari. Setelah selesai, mungkin aku akan datang lagi ke mari,” ucap Liana.
“Apa kau serius?” tanya Ella.
“Ehm,” sahut Liana mengangguk.
“Baiklah. Cepat kembali, oke,” seru Ella.
“Terimakasih, Kak,” sahut Liana.
Kapal sudah siap. Liana dibantu oleh Ella berjalan perlahan ke arah kapal tersebut. Setelah naik, Paulo memberikan sebuah kain yang sejak tadi ada di atas kapalnya.
“Pakailah ini! Setidaknya ini bisa membuat tubuh bagian atasmu hangat,” seru Paulo.
Liana meraihnya dengan kasar dan menyelimuti dirinya sendiri. Sementara Ella, pelayan itu terus melihat dari pinggir pantai.
“Hati-hati, Nona!” pekiknya.
__ADS_1
Dia melambaikan tangan dan dibalas oleh Liana. Perlahan kapal tersebut pun mulai melaju ke tengah laut, membawa mereka ke daratan besar yang ada di seberang sana.
Perlu sekitar setengah jam lebih, hingga kapal milik Paulo kembali mendarat di pantai seberang.
Angin laut benar-benar membuat Liana menggigil kedinginan, namun tekadnya yang kuat membuatnya menahan semua itu, dan mengabaikan rasa dingin yang menusuk hingga ke dalam kulitnya.
“Aku akan pergi ke rumah dan mencoba mencari taksi. Aku yakin kau ingin pergi ke suatu tempat bukan,” ucap si kecil Paulo.
Liana hanya diam, membuat Paulo memutar bola matanya merasa jengah dengan sikap Liana yang sedari tadi terus merengek.
“Dasar cengeng!” ledeknya.
Anak kecil itu pun keluar dari perahu meninggalkan Liana yang masih duduk di atasnya. Gadis itu mencoba memikirkan langkah apa yang akan ia ambil untuk saat ini.
Tak berapa lama, anak kecil itu sudah kembali ke tempat perahunya ditambatkan. Dia memberikan pakaian ganti untuk Liana, dan mengatakan jika dia sudah memanggil sebuah taksi untuk nya.
Liana pun kembali meraih pemberian anak itu dengan kasar, membuat Paulo mencebik kesal.
Liana berjalan ke arah kamar mandi umum yang berada tak jauh dari dermaga kecil milik warga nelayan. Dengan cepat, dia berganti pakaian yang lebih hangat dan kering. Setelah itu, anak kecil tersebut membawanya menuju ke jalan besar, di mana ia telah memanggilkan sebuah taksi untuk Liana.
“Hei, bocah! Apa taksi yang kau panggil ini aman? Kau ingat kan kalau ayahku itu sekarang sedang menjadi buronan gangster!” ucap Liana.
Belum sempat menjawab, sebuah mobil telah lebih dulu menghampiri kedua orang tersebut.
“Ah, itu taksinya. Kau tenang saja. Taksi ini milik tetanggaku. Dia tahu kondisi kalian. Jadi dijamin aman. Kau tahu, aku ini pintar dan tidak ceroboh sepertimu!” ucap Paulo sombong.
__ADS_1
“Cih! Dasar anak kecil yang menyebalkan!” sahut Liana ketus.
“Masuklah! Dia akan membawamu kemanapun tujuanmu!” seru Paulo.
Liana pun membuka pintu belakang dan masuk ke dalam taksi tersebut. Dia tak membuka kaca mobil dan hanya melihat dari dalam. Sifat keras kepalanya membuat dia enggan berterima kasih pada anak kecil yang sudah banyak membantunya itu.
Dari dalam mobil, Liana terus melihat ke arah Paulo. Dalam hati, dia mengucapkan banyak-banyak terimakasih pada sosok kecil itu.
Mobil pun mulai bergerak meningalkaan tempat tersebut dan si kecil Paulo.
“Kemana kita akan pergi, Nona?” tanya sang supir taksi.
“Antarkan aku ke Grey Town!” seru Liana.
.
.
.
.
Oh, si eneng mau ke sono🤔mau nyariin ayang beb ya 🤭
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘