Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Semangat pagi


__ADS_3

Siang hari, Liana baru saja bangun dari tidurnya dengan tenggorokan yang terasa begitu kering. Dia pun bangun dan merasakan jika matanya terasa berat, akibat terlalu lama menangis di makam sang bunda.


Saat menoleh ke samping, dia melihat segelas air telah tersedia di atas nakas. Gadis itu pun meraihnya dan meneguk hingga habis.


Dia melihat ponselnya, dan menyadari bahwa saat ini sudah pukul sepuluh siang, bahkan menjelang sebelas.


Liana pun berusaha bangun dari tempat tidur, dan berjalan menuju ke kamar mandi. Dia mencuci wajahnya yang amat sangat kusut karena tidur dengan sisa air mata yang mengering, melumuri seluruh jengkal wajahnya.


Gadis itu melihat pantulan dirinya di cermin, dan merasa bahwa kondisinya semalam benar-benar kacau.


Liana teringat pada sang kekasih yang sudah pasti telah mengantarkannya pulang. Setelah membersihkan diri, Liana kembali ke tempat tidur dan duduk di bibir ranjang.


Dia meraih ponselnya dan mencoba menghubungi sang pangeran.


Beberapa kali gadis itu mencoba melakukan panggilan, namun Falcon tidak kunjung menjawab. Liana pun kemudian meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas, dan berjalan ke arah walk in closet untuk berganti pakaian.


Namun, baru saja dia hendak membuka pakaian, ponselnya tiba-tiba berdering. Gadis itu pun kembali menutup pakaiannya dengan cepat, dan segera meraih benda pipih berlayar hitam itu dan menempelkannya di telinga.


“Halo,” sapa Liana.


“Ehm... Sweety, apa kau masih merasa pusing?” tanya suara di seberang.


“Tidak. Aku baik-baik saja. Kenapa?” tanya Liana.


“Apa kau yakin?” tanya Falcon.


“Honey, ada apa denganmu? Aku tahu semalam aku sangat kacau tapi sekarang aku...,” cerocos Liana.


“Sweety, aku saat ini sedang melakukan videocall,” sela Falcon.


Liana pun tersadar dan melihat layar ponselnya. Sang pria nampak melambaikan tangannya ke kamera, dengan wajah kebingungan.


Sementara Liana, gadis itu menepuk keningnya karena sudah bersikap konyol di depan sang kekasih.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Falcon lagi.

__ADS_1


Liana pun menjauhkan ponselnya agar sang pria bisa melihatnya dengan jelas.


“Yah, aku baik-baik saja. Maaf, aku terlalu buru-buru menerima panggilanmu hingga tak menyadarinya,” sahut Liana.


“Apa kau begitu merindukanku, Sweety?” goda Falcon.


“Cih! Narsis. Bukanlah kau yang sangat merindukanku? Sampai-sampai melakukan panggilan vidio," sanggah Liana.


"Hehehe... baiklah. Aku mengaku," sahut Falcon.


"Apa kau sudah kembali ke Kantormu?” tanya Liana.


“Yah, seperti yang kau lihat. Akhir pekan aku akan mengunjungimu di rumah kakekmu, sekaligus membawamu kembali ke mari. Musim dingin hampir tiba. Pakailah pakaian hangat agar kau tidak sakit,” seru Falcon.


“Baiklah, Tuan cerewet,” sahut Liana.


Gadis itu terkekeh dan membuat Falcon pun ikut tersenyum melihatnya. Senyum akhirnya kembali terbit di wajah Liana, dan membuat hati Falcon sedikit merasa tenang meninggalkan sang kekasih jauh darinya.


“I miss you,” ucap Liana.


“Ah.... Aku harap besok sudah akhir pekan. Kenapa aku jadi seperti ini? Apa kau menggunakan sihir untuk mengikatku?” ucap Liana.


“Kau benar. Aku telah menyihirmu agar tidak bisa berpaling kepada yang lain, dan hanya ada aku seorang di hatimu,” sahut Falcon.


Senyum pun kembali merekah di bibir gadis itu, setelah mendengar ucapan Falcon yang terkesan omong kosong, namun membuatnya senang.


“Apa kau tidak sibuk sampai sempat menggodaku seperti ini?” tanya Liana.


“Ehm... Aku sedang di tengah rapat sekarang,” jawab Falcon.


Pria itu bahkan mengalihkan kamera depan menjadi kamera belakang, dan mengarahkannya kepada semua peserta rapat yang ada di hadapannya.


“Hei, Tuan. Kau membuatku malu saja. Sudahlah, sebaiknya ku tutup dulu teleponnya,” gerutu Liana.


“Hahahaha... Baiklah. I love you, Sweety,” ucap Falcon.

__ADS_1


“Love you too, Honey,” sahut Liana.


“Begitu saja?” tanya Falcon.


“Memang apa lagi?” tanya Liana balik.


“Mana morning kiss untuk ku?” rengek Falcon.


“Tidak ada. Lagi pula ini sudah hampir tengah hari. Tunggu sampai akhir pekan, dan ambil saja sendiri langsung,” sahut Liana kesal.


“Kau sudah bilang sendiri. Tidak boleh ingkar,” goda Falcon.


“Sudah sana, lanjutkan saja rapatmu!” seru Liana kesal.


Falcon kembali tergelak karena berhasil membuat gadisnya tersipu malu.


“Baiklah. Aku tutup sekarang, bye,” ucap Falcon.


“Bye,” sahut Liana.


Panggilan pun benar-benar telah berakhir. Liana tersenyum-senyum sendiri, melihat tingkah kekasihnya yang begitu konyol.


“Bagaimana bisa seorang calon pewaris klan terbesar di Empire State melakukan hal konyol seperti itu? Dia pasti sudah gila,” gumam Liana.


Liana pun kembali masuk ke dalam walk in closet, dan mengganti pakaiannya.


.


.


.


.


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2