
Keesokan harinya, pagi-pagi buta saat mentari bahkan belum muncul dari ufuk timur, kapal milik si kecil Paulo telah kembali berlayar meninggalkan tempat terpencil itu.
Kenny dan juga Q pergi untuk bekerja. Mereka harus terlihat se normal mungkin dan tidak mengundang kecurigaan dari pihak manapun. Karena satu kesalahan kecil saja, bisa membuat semua usaha mereka menyelematkan Peter menjadi sia-sia.
Liana masih tertidur, sedangkan Falcon, pria yang memang sulit terlelap di sembarang tempat itu terus terjaga, meski dengan mata yang coba ia pejamkan.
Hanya di tempat rahasianya di Grey Town, apartemen tempat tinggal Liana atau tempat lain yang ditinggali oleh gadis itu lah, dia baru bisa tidur dengan nyenyak.
Setiap hari, dia hanya tidur beberapa menit lalu terbangun dan tak bisa tidur lagi. Semua itu karena pelatihan beratnya sejak usia yang sangat muda, dituntut untuk selalu siap siaga, sehingga membuat dirinya selalu merasa tak aman, bahkan di kediaman Lunar Group yang memiliki tingkat keamanan super canggih sekalipun.
Berbeda saat bersama dengan Liana. Sekalipun tempat itu tak dijaga dengan ketat, dan keamanannya pun tak terjamin, namun dia merasa nyaman dan selalu bisa membuat tubuhnya tenang hingga mau diistirahatkan.
Akan tetapi, kali ini berbeda, mengingat situasi dan kondisinya yang sangat genting, membuat Falcon harus tetap siaga menjaga gadisnya, dan juga pria yang kini menjadi pusat perhatian Liana.
Falcon berbaring di samping gadis itu, sambil terus memandangi wajah cantik yang masih terlelap dalam buaian si peri mimpi.
Sesekali, ia mengecup kening gadis tersebut. Tangannya sesekali mengusap lembut surai hitam Liana.
Tak lama kemudian, mentari mulai bersinar dan cahaya masuk ke celah dinding jerami rumah tersebut. Liana tiba-tiba terbangun. Gadis itu nampak bergegas menuju ke kamar sang ayah. Di bukanya pintu kamar tersebut dan dia segera bersimpuh di samping pria itu.
Dia memegangi tangan Peter seolah tengah mencari denyut nadinya. Setelah merasakan denyutan di pergelangan tangan sang ayah, Liana menghela nafas lega, dan mundur sedikit hingga punggungnya bersandar di dinding.
Dia mencoba mengatur nafasnya yang terengah-engah, karena bangun dengan paniknya.
Sebuah tangan terulur menyentuh bahu Liana dari belakang.
“Ada apa, Sweety?” tanya Falcon yang juga ikut dibuat panik oleh gadisnya.
Liana menggeleng cepat.
__ADS_1
“Tidak ada apa-apa. Hanya mimpi buruk,” sahut Liana berusaha tersenyum.
Falcon berjongkok di depan pintu tepat di samping Liana.
“Kau sebaiknya segarkan dirimu dulu. Sebentar lagi pasti ayahmu akan bangun dan kau harus merawatnya bukan?” seru Falcon.
“Ehm, baiklah,” sahut Liana.
Gadis itu pun bangun dan bergegas pergi ke kamar mandi, sementara Falcon berjaga di depan pintu kamar Peter.
Saat Liana, sedang mandi, tiba-tiba saja pria malang itu mengerang lirih. Falcon yang berada di sampingnya pun segera mendekat dan mencoba bicara padanya.
“Li... Ana... Li... Ana...,” ucap Peter lirih.
“Putrimu masih di sini. Kau tenanglah,” ucap Falcon.
“Di... Mana... Dia...?” tanya Peter.
“Tunggulah sebentar. Dia sedang berganti pakaian. Apa kau butuh sesuatu?” jawab Falcon.
“Ehm... Haus... Air...,” ucap Peter.
Falcon pun pergi ke dapur untuk mengambil air. Saat itu, Liana baru saja keluar dari kamar mandi.
“Kau sedang apa?” tanya Liana.
“Ayah mu sudah bangun. Dia minta diambilkan minum,” jawab Falcon.
“Benarkah? Biar aku saja!” seru Liana.
__ADS_1
Gadis itu memberikan handuknya pada pria itu dan meraih gelas yang ada di tangannya. Dia bergegas menuju ke kamar sang ayah dan memberikannya minum.
Liana memasukkan sebuah sedotan untuk memudahkan sang ayah minum. Peter pun minum dengan perlahan. Namun, karena tenggorokannya terlalu kering, pria itu pun tersedak hingga air di dalam mulutnya menyembur kembali, membuat wajah pria itu basah.
Liana dengan sigap mengelap wajah ayahnya dengan perlahan. Peter pun menyadari jika yang berada di sampingnya adalah Liana, bukan pria yang sebelumnya.
“Nak...,” panggil Peter.
“Sebaiknya jangan banyak bicara dulu. Pulihkan tubuhmu terlebih dulu baru kau boleh bicara semaumu,” sela Liana.
Pria itu seperti ingin mengatakan sesuatu, namun Liana segera menyelanya, hingga Peter pun terpaksa kembali diam.
.
.
.
.
Neng, jangan ketus-ketus amat ama orang tua☺ntar kualat lho🤭
bestie, maaf nih, karena tgl merah anak-anak tahu emaknya libur jd malak emaknya minta diajakin makan bakso 😅.
hari ini cuma ku kasih segini, besok lanjut lagi, oke 😉udah lumayan banyak lho ini😁 have a nice day, bestie 🥰😘
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1