Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Serangan bertubi-tubi


__ADS_3

Tuan Harvey kembali terbahak mendengar ocehan Liana yang panjang lebar. Dia benar-benar tertarik dengan gadis yang berbicara seenaknya itu. Selama ini, semua orang terus berpura-pura patuh dan berkata sesuai yang dia inginkan. Bahkan, nyaris tak ada perbincangan lain selain masalah bisnis dan perusahaan, saat mereka berada di meja makan.


Saat makan malam pertama Liana waktu itu pun, Liana dan Nona Shu hanya membahas rencana proyek kolaborasi mereka.


Namun kali ini, kedatangannya membuat warna tersendiri di kediaman Lunar Group. Meski dia banyak sekali bercanda dengan hal yang keterlaluan seperti meminta Lunar Group bangkrut, namun hal itu justru membuat Tuan Harvey tergelak.


“Jadi maksudmu, cucu-cucu ku ini sudah tidak tertolong, begitu?” tanya Tuan Harvey.


“Oh, ayolah, Tuan. Aku ini gadis yang berpandangan luas. Pikiran ku tak sesempit itu. Dunia ini begitu besar. Di atas langit bahkan masih ada langit. Pohon yang terlihat besar dan kokoh pun bisa tumbang karena akarnya sudah rapuh. Jika kita terus menganggap diri kita paling hebat, justru akan terlihat semakin kerdil di mata dunia,” jawab Liana.


“Hahahhaha... Benar-benar gadis yang menarik. Lalu menurutmu, perusahaan mana yang harus ku buat bangkrut secepat mungkin?” tanya Tuan Harvey.


Semua nampak tegang. Tak ada seorang pun yang berani menggerakkan alat makannya, saat Tuan Harvey bertanya demikian pada Liana.


Sedangkan Liana, dia melirik ke sebuah arah, di mana di sana sudah terlihat jelas seseorang yang nampak geram, sambil menggenggam pisau dan sendok di tangannya.


“Ehm... Bagaimana kalau Lunar Gass?” ucap Liana.


Seketika, sebuah gebrakan terdengar begitu kerasa dari arah salah satu anggota keluarga Harvey. Semua orang pun terkejut dan melihat ke arah tersebut.


Nampak di sana, seorang wanita yang selalu terlihat elegan, tenang dan angkuh, kini jelas-jelas begitu emosi. Wajahnya terlihat memerah dengan kedua tangan menggenggam erat sendoknya yang mengarah ke atas.

__ADS_1


“Aku sudah selesai. Aku ijin ke kamar lebih awal,” ucap Amber.


Wanita itu pun berlalu dari sana, dengan diikuti tatapan mata semua orang, tak terkecuali Tuan Harvey.


“Ehm... Nona Wang. Sepertinya Anda sedikit keterlaluan kali ini. Harusnya Anda tak menyebutkan Lunar Gass. Itu adalah perusahaan yang dipegang oleh Nyonya pertama,” ucap nyonya kedua.


“Oh, ya ampun. Maafkan aku. Maafkan aku, Tuan Harvey. Bercandaku sudah terlalu kelewatan,” timpal Liana dengan wajah polos dan rasa bersalahnya.


Falcon sangat paham, bahwa semua itu hanya topeng sang gadis. Dia yakin, jika saat ini, dalam hatinya, Liana tengah bersorak karena berhasil membuat kesal lawannya.


“Tak apa. Kau kan memang belum tahu semua tentang keluarga ini. Benar begitu kan,” sahut Tuan Harvey.


Liana yang melihat itupun hanya mengedikkan kedua bahunya ke atas, dengan ekspresi masa b*donya, yang tersamar dengan gerakannya yang sambil meneguk minuman.


“Sepertinya aku juga sudah selesai. Perutku sudah benar-benar kenyang. Apalagi dapat jatah dua porsi dessert,” ucap Liana.


“Hahahaha... Baiklah. Aku sudah meminta pelayan menyiapkan kamar untuk mu. Menginap lah malam ini di sini. Besok, Alex akan mengantarkanmu lagi ke kota,” seru Tuan Harvey.


“Biar aku yang mengantarkan ke kamar,” sahut Falcon.


Dia buru-buru menawarkan diri untuk mengantarkan sang kekasih ke kamar, karena ada hal yang juga ingin dia ketahui dari gadis itu.

__ADS_1


Dia pun mengelap bibirnya dan berdiri menunggu Liana.


“Kalau begitu, saya permisi dulu. Selamat malam Tuan Harvey, Nyonya dan Nona,” pamit Liana.


Gadis itu pun berjalan ke sisi kekasihnya, dan berjalan ke arah kamar tamu yang telah di siapkan oleh tuan rumah.


.


.


.


.


Tidur nyenyak Liana☺si amber bakal nggak bisa tidur malam ini🤣🤣🤣


apa yang akan dilakukan amber selanjutnya? nantikan besok ya bestie 🥰


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2