
Di bawah ancaman dari Henry, akhirnya Christopher pun memilih untuk menyerah dan bersedia ikut pulang bersama mereka.
“Bawa aku pergi, dan lepaskan dia,” ucap Christopher.
Seketika, sebelah sudut bibir Henry terangkat ke atas setelah mendengar perkataan dari sang pewaris Empire Group itu.
“Baik, Tuna muda. Dengan senang hati,” sahut Henry.
Pria itu menoleh ke arah rekan wanitanya dan memberikan isyarat pada Alice. Wanita itu pun maju menghampiri Christopher.
“Mari ikut saya, Tuan Muda Chen,” seru Alice.
Christopher berjalan mengikuti langkah wanita itu. Saat berjalan melewati Falcon, dia berhenti sejenak dan keduanya pun saling melempar pandangan.
“Tolong jaga dia,” ucap Christopher.
Falcon diam. Dia memilih tak membalas dan membuang pandangannya ke depan. Namun, Christopher yakin jika pria itu akan menyelamatkan Liana, karena dia tahu betul keberadaan Falcon di tempat itu adalah untuk menolong gadis tersebut.
Christopher pun kembali melangkah dan masuk ke slama sebuah mobil yang sudah disiapkan oleh orang-orang Tuan Jung.
Kini, tinggal kelompok Henry dan Falcon yang berada di area tersebut. Saat melihat targetnya telah masuk ke mobil, Henry memberi sebuah perintah kepada anak buah yang berada di dekatnya.
“Lepaskan gadis itu!” ucapnya.
Falcon pun bisa mendengar dengan jelas perintah tersebut. Meski begitu, dia dan anak buahnya semua bersiap, jika tiba-tiba pihak lawan melakukan tindakan tak terduga.
Terlihat anak buah yang tadi mendapat perintah dari Henry, berbicara dengan seseorang menggunakan alat sejenis walky talky.
Sebuah seringai muncul di wajah Henry, dan itu bukan pertanda baik. Falcon bisa mengetahui hal itu dengan sangat jelas, mengingat hubungan mereka di masa lalu.
“Nine, bersiap lah!” ucap Falcon lirih kepada sang tangan kanan.
“Baik, Bos,” sahut Nine.
Tak berselang lama, sebuah bunyi rantai bergemerincing saling bergesekan terdegar nyaring. Semua anak buah Falcon melihat jika sesuatu meluncur turun dari atas dengan begitu cepat, hingga mereka tak bisa melihat dengan jelas apa yang sedang tetjatuh.
__ADS_1
Tiba-tiba, dentuman keras terdengar di area tersebut, dan membuat tempat itu ditutupi debu pekat. Falcon melihat ke atas dan sudah tak mendapati Liana di sana. Rupanya, dentuman tadi adalah besi pengait tempat dimana Liana diikat sebelumnya.
Menyadari hal tersebut, Falcon meradang. Dia pun memerintahkan anak buahnya untuk menyerang kelompok lawan.
“Serang!” serunya.
Semua maju. Perkelahian antar geng pun tak bisa dielakkan lagi. Pukulan dan tembakan saling bersahutan. Tak sedikit di antara meraka yang terluka dan tumbang.
Sementara itu, di dalam mobil, Christopher yang melihat jatuhnya besi pengait crane, menjadi histeris. Dia yakin betul jika itu adalah pengait di mana Liana berada tadi.
“Buka pintunya! Aku harus melihat kondisi gadis itu!” seru Christopher.
Pemuda itu terus melawan orang-orang yang mengapitnya di kiri dan kanan, serta terus mencoba untuk keluar.
“Tuna muda. Sebaiknya Anda menurut,” ucap Alice.
“Brengs*k! Kalian bilang mau melepaskannya. Kenapa justru melemparnya dari ketinggian? Itu sama saja membunuhnya!” pekik Christopher.
“Itu cara kami melepaskan orang. Selanjutnya, tergantung bagaimana dia bisa bertahan hidup. Ayo kita jalan!” ucap Alice dingin.
Dia terus meronta, meski tau bahwa semuanya hanya sia-sia. Dia sudah masuk ke dalam perangkap dan tak mungkin bisa lepas lagi.
...👑👑👑👑👑...
Di sisi lain, masih di area proyek, peperangan terus berlangsung. Falcon dan Nine serta beberapa anak buah yang memegang senjata api, menembak mati semua anak buah Henry.
Sedangkan yang lain, bertarung dengan menggunakan tongkat pemukul. Hampir separuh anak buah Henry tewas, namun tak satu pun anak buah Falcon yang terluka parah.
“Nine, bereskan mereka semua. Aku akan mencari si keparat itu,” seru Falcon.
Nine menggaguk. Seketika, Falcon pun menerobos medan perang dan mencari keberadaan lawannya. Dia tampak dingin saat menembak mati semua anak buah musuh yang mencoba menghalangi jalannya.
Dia menyisir semua lokasi proyek, mencoba mencari keberadaan Henry yang tiba-tiba saja menghilang di tengah pertarungan.
Dengan langkah hati-hati, Falcon seolah menjadi seekor elang yang sedang memburu mangsanya dalam kesenyapan. Matanya tajam melihat ke sekeliling, menangkap pergerakan sekecil apapun.
__ADS_1
Cukup lama dia menyisir semua tempat seorang diri, namun tak kunjung menemukan keberadaan Henry di sana.
Sepertinya dia sudah lari, batin Falcon.
Dia pun kemudian kembali ke tempat semua anggotanya berada. Setumpuk mayat berada di tengah lahan proyek dengan darah yang bercecer di mana-mana.
Falcon mendekat dan bergabung dengan semua anggota kelompoknya.
“Apa kau menemukannya, bos?” tanya Nine.
“Tidak perlu memikirkan hal itu. Henry hanya seorang diri. Semua anak buahnya sudah kita kalahkan. Dia tak akan bisa melakukan apapaun pada kita saat ini,” ucap Falcon.
Dia berbalik dan menoleh ke arah jatuhnya besi pengait crane. Nine pun turut melihat ke arah yang ditunjukan oleh pandangan mata sang ketua geng.
“Nona Wu tidak ikut jatuh ke bawah, Bos. Sepertinya, dia berhasil melepaskan diri tepat waktu,” ucap Nine.
Tiba-tiba, terdengar kembali suara mesin crane bergerak. Mereka semua melihat ke atas. Tak lama kemudian, sebuah rantai turun membawa seseorang, yang berdiri dengan sebelah kaki bertumpu pada besi pengait dan kedua tangannya berpegang pada rantai.
“Hai! Apa kalian mencariku?”
.
.
.
.
Sudah 3 bab ya😁besok lagi😊 othor kekenyangan nih gegara makan jatah si kecil😅 biasakan ya emak-emak itu seakan jadi pembuangan makanan sisa anaknya 🤭
Dah ah, yuk mana nih kopinya???? butuh buat begadang nih😉
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1