
Pesta masih berlangsung hingga malam semakin larut. Setelah berdansa dengan Liana, Moses terlihat memilih untuk duduk dan memperhatikan anak gadisnya yang masih begitu senang menari dengan Falcon.
Begitu pun Liana yang terus meraih gelas demi gelas sampanye yang lewat di sekitarnya, yang dibawa oleh para pelayan.
Entah sudah gelas ke berapa dia meminum alkohol tersebut. Meski kadar alkohol dalam sampanye lebih rendah dari wine, namun jika dikonsumsi dalam jumlah banyak bisa menyebabkan mabuk pada peminumnya.
Wajah Liana sudah nampak memerah, dengan kepala yang terasa berat. Dia berkali-kali mencoba menyangga kepala dengan lengannya, namun lagi-lagi jatuh ke atas meja.
Christopher pun mencoba menghentikan kelakuan Liana itu demi menjaga wajahnya di mata umum. Terlebih karena di pesta tersebut, masih terdapat orang-orang berpengaruh di seluruh negeri.
“Kalau kau cemburu melihat kekasihmu dengan gadis lain, harusnya kau maju saja dan tarik dia keluar dari lantai dansa. Bukankah kau biasa berebut dengan Lusy?” seru Christopher sambil menjauhkan gelas sampanye yang masih tersisa
“Sssttt! Diamlah! Kau lihat betapa bahagianya dia? Biarkan dia tersenyum untuk malam ini, karena besok dia akan menangis lagi. Hehehehe...,” ucap Liana.
Gadis itu sudah hampir tumbang. Bicaranya pun sudah semakin kacau. Christopher berusaha membujuk Liana untuk pergi dari pesta, akan tetapi gadis itu menolak dan berkata ingin melihat sampai mana Lusy dan Falcon berlagak mesra di depannya.
__ADS_1
Sekitar pukul sebelas malam, Moses pergi dari aula pesta, dan mengajak Lusy untuk ikut dengannya kembali ke kamar hotel mereka. Meski awalnya menolak karena masih ingin bersama dengan Falcon, akan tetapi Moses tak bisa membiarkan anak gadisnya dekat dengan pria itu, mengingat hubungan mereka tak terlalu baik akhir-akhir ini.
Terlebih setelah Falcon tahu bahwa dialah yang memberikan racun pada Amber, untuk meracuni ibunya dulu.
Akhirnya, Lusy pun menurut dengan syarat bahwa Falcon harus mengantarkannya sampai ke depan pintu kamar hotel.
Falcon pun bersedia. Mereka akhirnya pergi bersama meninggalkan aula tersebut, diikuti oleh semua jajaran umum yayasan, termasuk Henry dan juga Alice yang berjalan di belakang mereka bertiga.
Pesta kembali diambil alih oleh sang penyelenggara, yaitu cabang Yayasan Xing Ping yang berada di Golden City. Acara masih terus berlangsung dengan berbagai suguhan menarik.
Namun, Liana tak lagi bisa menikmati semua penampilan para pengisi acara, karena sepertinya dia sudah sangat mabuk.
“Kau terlihat kurus, tapi siapa sangka saat kau mabuk bisa begini berat. Benar-benar merepotkan!? “ keluh Christopher.
Pemuda itu bisa saja menggendong Liana sampai ke lobi hotel, tapi dia masih menghormati Liana. Christopher yakin jika gadis tersebut tidak akan terima, apabila dia menyentuh tubuh gadis tersebut lebih dari ini tanpa seijinnya.
__ADS_1
Dengan susah payah, dia membawa Liana masuk ke dalam lift, dan turun sampai ke lantai dasar. Setibanya di bawah, pemuda itu menyerahkan kunci mobilnya pada seorang petugas lift, untuk diberikan kepada petugas parkir di depan sana.
Saat dia baru saja sampai di teras hotel tersebut, sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Seorang pria turun dari kursi penumpang depan dan membukakan pintu belakang.
“Tolong serahkan Nona Wang kepada saya, Tuan muda Chen,” seru pria itu.
.
.
.
.
Sarapan datang bestie🥰
__ADS_1
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘