Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Sepenggal kisah


__ADS_3

“Kalau kau adalah anak yang ditunggu-tunggu, lalu kenapa kau bisa berakhir di pulau itu? Apa yang sudah mereka lakukan padamu sampai bisa begitu?” tanya Liana.


“Mereka mengarang sebuah cerita yang dibumbui sedikit rekayasa, dan memfitnah ibuku bahwa dia telah berzina dengan seseorang selama menjadi istri ayahku. Saat itu, tentu saja teknologi belum secanggih sekarang ini, di mana tes DNA banyak digaungkan untuk memberi kepastian akan hubungan darah. Apalagi, tempat yang bisa melakukannya masih sangat jarang ada. Akhirnya, hanya bermodalkan kemiripan wajah, mereka memberikan penilaian padaku,” ungkap Falcon.


“Apa kau serius? Apa keluarga nomor satu seantero negeri pernah berpikir sampai seprimitif itu? Ayolah! Kalian itu orang yang kaya raya. Mana mungkin untuk tes DNA saja tidak mampu?” tanya Liana.


“Dulu kami tak se jaya ini. Usaha Presdir Harvey masih merintis dan belum menguasai setengah dari Empire State,” ucap Falcon.


“Lalu pulau itu? Mana mungkin keluarga yang belum sukses bisa memiliki pulau pribadi,” tanya Liana lagi.


“Pulau itu milik ibuku. Dia bukanlah seorang gadis dari kalangan biasa. Dia seorang putri yang bernasib sial karena harus menikah dengan ayahku, dan menjadi istri ketiganya. Ibuku sama denganku. Dia anak yang dibuang keluarganya, hanya karena seorang pria kelas atas lebih menginginkannya dibanding kakak perempuannya.”


“Dia dihadiahi sebuah pulau di hari pernikahannya dengan ayahku, meski sebenarnya itu bukanlah hadiah melainkan jaminan agar ibu ku tak kembali lagi ke keluarganya. Seingatku, Kakek dulu sangat menyayangi ibu, karena bagaimana pun juga, berkat ibuku, perusahaan Kakek mendapatkan dana yang besar, yang berasal dari keluarganya. Tapi karena hasutan itu, dia justru membuangku ke sana, ke pulau itu dan memisahkan aku dari ibu. Kau beruntung karena tak akan pernah merasakan persaingan dengan keluargamu sendiri,” ungkap Falcon.


Liana bangkit berdiri. Dia berjalan menghampiri Falcon yang masih terduduk di sofa, dengan wajah yang tertunduk lesu.


“Setiap orang punya jalan hidup yang berbeda-beda, dengan kesulitan yang berbeda pula. Kau bilang aku beruntung, tapi menurutku kau lebih beruntung. Setidaknya, kau tau siapa keluargamu, siapa ibumu, bagaimana rupa mereka, bisa merasakan hangat pelukannya. Sedangkan aku, kau tahu sendiri yang ku alami,” sahut Liana.


Gadis itu kini telah duduk di samping Falcon. Dia menyandarkan punggungnya di sofa, dengan kedua tangan yang terlipat ke depan dada.


“Lupakan soal keberuntungan b*doh itu. Waktu itu kau bilang kalau anak kecil di pulau itu putus asa ingin bertemu ibunya, dan akhirnya memilih untuk terjun ke laut. Apa yang terjadi selanjutnya dan kenapa kau bisa berakhir menjadi ketua gangster?” tanya Liana.


Falcon mengangkat wajahnya dan bersandar di sofa. Kepalanya mendongak dan menyandarkan tengkuknya di sana.

__ADS_1


“Namanya Moses Jung. Kau mungkin kenal Yayasan Xing Ping. Dialah pemilik yayasan itu. Awalnya, aku mengira jika dia adalah penyelamat, yang dikirim Tuhan untuk membawaku pergi dari pulau itu. Aku ingat betul, jika saat itu aku memang terjun ke laut. Dalam keadaan tak sadarkan diri, dia membawaku ke Grey Town dan memasukkan ku ke dalam gengnya, Jupiter, yang saat ini kukendalikan. Dia sama sekali tak kenal ampun. Bahkan anak kecil yang belum genap sepuluh tahun, sudah harus memegang pisau dan pistol, untuk bertarung serta ikut membunuh musuhnya. Apa kau tau betapa takutnya aku saat itu?”


“Dia mendidik ku agar bisa bersikap kejam, berhati dingin, dan juga tak kenal ampun. Dia pun menjadikan aku sebagai calon penerusnya, dan melemparkan tubuh kecilku ke depan semua musuh. Hingga akhirnya, dia mendapatkan kedudukan tinggi di Empire State dan meninggalkan Grey Town, serta geng Jupiter padaku. Aku bertekad menjadi orang paling kuat dan kejam, agar kelak aku tak bisa lagi ditindas oleh siapapun. Aku sangat berterimakasih pada Moses, tapi setelah aku tau dia juga bersekongkol dengan salah satu Nyonya di keluarga Harvey, aku pun berbalik membencinya,” tutur Falcon.


“Moses Jung? Memangnya apa yang dia lakukan dengan Nyonya di keluarga Harveymu?” tanya Liana.


“Dialah yang memberikan racun kepada ibuku atas perintah Nyonya pertama. Wanita itu adalah seorang yang sangat pencemburu. Posessive. Dia tak mau ada orang lain yang lebih baik darinya dan merebut miliknya.”


“Racun yang diberikan olehnya, lambat laun membunuh ibuku setelah membuatnya berubah menjadi mayat hidup. Belakangan aku mendengar, jika Moses Jung juga pernah melakukan hal yang sama kepada seseorang atas perintah Nyonya pertama di masa lalu."


"Saat itu, dia masih seorang remaja yang sedang jatuh cinta pada seorang pemuda. Dia begitu terobsesi dengan sosok lelaki tersebut. Namun, pemuda itu sama sekali tak melihatnya, hingga mendorongnya untuk menikah dengan ayahku. Tiba-tiba, dia mendengar jika pemuda itu telah memilih gadis lain. Dia marah dan bahkan bersekongkol dengan ayah dari pemuda itu untuk memisahkan dua orang yang saling cinta tersebut."


"Setelah berhasil dipisahkan, Nyonya pertama mencoba mendekatinya lagi meskipun dia sudah berstatus istri orang. Namun hingga akhir, si pemuda lebih memilih untuk menutup hatinya dari siapa pun, dan menolak menikah dengan gadis manapun, hingga membuat Nyonya pertama menyerah dan menerima takdirnya menjadi istri ayahku. Tapi aku sempat mendengar, dia depresi dan menghilang selama setahun karena masalah itu, dan tiba-tiba kembali lagi ke rumah,” jelas Falcon.


“Lalu, kenapa Nyonya kedua masih baik-baik saja sampai sekarang?” tanya Liana.


“Lalu, kenapa sekarang kau bisa pulang pergi ke pulau itu? Kau bilang kau melarikan diri dari sana. Bukankah itu berarti kau melarikan diri dari kurungan keluargamu?” tanya Liana.


“Tempat itu sejak awal adalah milik ibuku. Sekalipun Lunar Grup, mereka tak akan pernah bisa mengambil atau merebutnya dari kami. Saat aku sudah berhasil menduduki posisi ketua gangster, aku pulang ke rumah, dan mendapati ibuku sudah sangat parah. Dia sudah tak bisa turun dari tempat tidur, dan bahkan tidak mengenaliku lagi. Akhirnya, aku menemui kakek dan meminta untuk membawa ibu pergi. Aku merawatnya di pulau, hingga pada bulan ke dua, ibu akhirnya meninggal dan ku makamkan di tempat itu,” jawab Falcon.


Pria itu kembali meraih sekaleng bir dan meneguknya lagi.


“Dengan kekuasaanku saat itu, aku dengan mudah mengubah pulau itu menjadi benteng yang kokoh. Tak ada orang yang bisa sembarangan mendekat, apa lagi menjejakkan kakinya di sana hingga saat ini. Dulu, itu adalah tempat yang ku benci, karena di sanalah aku dibuang dan terpisah dari orang yang begitu berharga untuk ku. Tapi setelah ibu meninggal, di sana adalah tempat ternyaman yang ku miliki di dunia ini,” pungkasnya.

__ADS_1


Liana nampak tersentuh dengan cerita dari pria yang duduk di sampingnya. Matanya terasa panas hingga berair. Namun, dia cepat-cepat menyekanya.


“Pertanyaaan terakhir, kalau kau sudah dibuang, kenapa kau kembali lagi ke rumah itu?” tanya Liana.


Falcon menoleh ke arah gadis itu. Dia menatap lekat ke dalam manik hitam Liana. Namun, sejurus kemudian dia memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Liana yang tak kalah tajam.


Falcon berdiri. Dia nampak memasukkan kedua tangannya ke saku, dan tak mau menatap lagi gadis yang masih menunggu jawabannya.


“Sudah sangat larut. Sebaiknya kau istirahat. Aku akan keluar,” ucap Falcon.


Dia berjalan menjauh, namun Liana buru-buru berdiri dan berteriak padanya.


“Apa karena aku?”


.


.


.


.


Eh, udah hari minggu, hari ini terkahir buat even minggu pertama ya😊 pengumuman akan diumumkan besok hari senin😉

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2