
Pintu mobil terbuka. Seseorang menarik kaki Liana dan mengangkatnya keluar dari sana. Gadis itu digeletakkan di atas tanah begitu saja.
“Ikat kedua tangan gadis ini!” seru Henry.
Seorang anak buah mendekat ke arah Liana dan mengikat kuat kedua tangan gadis itu. Liana masih berpura-pura pingsan demi bisa mencari celah untuk meloloskan diri.
“Siapkan crane nya. Kita akan pajang dia di atas saat tamu kita datang,” seru Henry.
“Apa kau yakin? Kenapa tidak sekarang saja?” tanya Alice.
“Berbaik hatilah pada gadis ini. Dia baru saja kembali pada keluarganya dan kau mau menyiksanya lagi? Berperasaan lah sedikit pada tuan putri ini,” ucap Henry.
“Cih! Sejak kapan kau jadi selunak ini?” sindir Alice.
“Kau akan tau nanti,” ucap Henry.
Pria itu nampak melirik ke arah Liana yang masih tergeletak di atas tanah.
Aduh! Tanganku terikat. Kapan mereka akan lengah? Aku harus mengambil pisau di saku belakangku, batin Liana.
Alice terlihat kesal dengan Henry. Rekannya itu seolah bermain teka teki dengannya, padahal dia paling tak suka jika ada sesuatu hal yang dia tak ketahui.
“Kalian bersiaplah di tempat masing-masing. Sebentar lagi pasti tamu kita akan datang,” seru Henry.
Semuanya pun berpencar meninggalkan Henry dan Liana berdua. Pria itu menoleh ke arah gadis itu dan berjalan mendekatinya.
Entah kenapa, Henry sedari tadi terus memperhatikan gadis yang masih terlihat tak sadarkan diri itu.
Dia berjongkok di depan Liana. Tangannya terulur dan menyingkirkan rambut yang menutupi wajah sandranya. Pipi mulus itu tersentuh oleh punggung tangan Henry, dan membuat pria itu mengusapnya beberapa kali dengan lembut.
“Gadis cantik sepertimu biasanya selalu terlihat lemah. Tapi kamu begitu berbeda di mataku. Apa kau tau, aku selalu melihat setiap gerak gerikmu sejak kau menjadi targetku. Andai kedua pria itu tidak menemukanmu lebih dulu, mungkin saat ini sudah ku buat kau menjadi milikku,” ucap Henry.
Kedua pria? Siapa yang dia maksud? batin Liana.
__ADS_1
Henry berdiri dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Dengan tatapan yang begitu dingin dan seringai yang mengerikan.
“Malam ini, aku akan melihat pertunjukan yang bagus antar seorang putri yang hilang, pangeran pengelana dan Pangeran terbuang,” ucap Henry.
Dia kemudian pergi meninggalkan Liana seorang diri di sana. Kesempatan kali ini dimanfaatkan oleh gadis itu untuk mengambil pisau kecil dari saku belakang. Meski sulit, namun Liana terus berusaha untuk mendapatkan senjata satu-satunya yang dia miliki.
Ah! Akhirnya dapat, batin Liana bersorak.
Baru saja dia hendak memotong talinya, tiba-tiba seseorang datang menghampiri, dan membuat Liana pun terpaksa kembali berpura-pura pingsan.
Orang itu mengangkat Liana dan memanggulnya di pundak. Gadis itu mulai gemetar karena memikirkan nasibnya kedepan.
Gawat! Apa yang mau mereka lakukan padaku? batin Liana.
Gadis itu tiba-tiba dijatuhkan begitu saja hingga dia pun mengaduh karena sakit, dan terpaksa mengakhiri pura-pura nya.
“Akhirnya kau bangun juga!” seru seorang pria yang membawa Liana tadi.
“Siapa kalian? Kenapa kalian menculik ku? Jangan harap kalian bisa mendapatkan uang tebusan yah! Itu hanya akan sia-sia karena aku ini cuma orang miskin!“ ucap Liana dengan tatapan nyalang.
“Umpan? Memangnya siapa yang akan kalian pancing? Aku tidak berhubungan dengan tuan muda mana pun juga. Kalian pasti salah orang!” elak Liana.
“Tunggu dan lihatlah! Dia pasti akan datang demi menolongmu,” sahut si pria.
Nampak dari arah atas, sebuah tali rantai terulur dengan bandul kait besar di bagian bawahnya. Semakin lama semakin turun dan tergantung hampir menyentuh tanah.
Pria itu meraih tangan Liana yang masih terikat, dan mengacungkannya ke atas. Dia kemudian meraih pengait dan mengaitkannya di antara kedua lengan Liana yang terikat.
“Hei! Apa yang akan kalian lakukan padaku? Kalian gila!” pekik Liana.
Gadis itu semakin panik saat tali rantai itu kembali di tarik ke atas, dan membuatnya ikut naik dan semakin jauh meninggalkan tanah.
“Hei! Lepaskan aku!” pekik Liana dengan keras.
__ADS_1
Gadis itu masih menggenggam pisau kecilnya, namun kondisinya yang tergantung membuatnya kesulitan untuk melepaskan diri.
Kalau aku potong talinya, bisa-bisa aku malah terjatuh dan semuanya tamat. Tapi kalau tidak, entah apa lagi yang akan mereka lakukan padaku, batin Liana.
Gadis itu pun berhenti bergerak-gerak karena ketinggian yang sudah membuat keberaniannya menipis. Meskipun Liana sangat senang bermain dengan mesin crane, namun kondisinya saat ini membuatnya panik, terlebih karena kedua tangannya terikat dan tak bisa bermain trik akrobat dengan alat proyek kesayangannya itu.
Di saat kebingungan melanda, sebuah iring-iringan mobil datang ke lokasi. Liana memperhatikan dari atas mobil-mobil tersebut. Gadis itu merasa familiar dengan kendaraan yang baru saja tiba di bawah sana.
Benar saja, saat semua orang keluar, matanya seketika tertuju pada pria yang baru saja keluar dari mobil paling depan, dengan postur tubuh tinggi tegap dan badan gegar yang gemar memakai pakaian hitam.
“Falcon? Jadi benar tuan muda yang mereka maksud adalah dia?” gumam Liana.
Namun, tiba-tiba netranya menangkap sebuah pergerakan yang cukup besar dari arah hutan yang ada di sekitar lahan proyek, dan mendekat ke arah tempat pembangunan tersebut. Dari arah berlawanan, nampak beberapa mobil sejenis yang terparkir di kejauhan dan semua penumpangnya turun seolah hendak mengepung tempat tersebut.
Saat semua anggota Falcon telah keluar dari mobil, dan orang-orang dari luar telah mengelilingi area sekitar, lampu-lampu mulai menyala dan menerangi tempat tersebut. Dari atas sana, Liana bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di bawah kakinya.
Semua anak buah Henry mulai keluar satu per satu dari tempat persembunyian. Namun, kedua netra Liana kembali menangkap sesuatu yang aneh. Orang-orang yang tadi mengepung di sekitar, turut masuk ke area proyek dan bergabung dengan anak buah Henry.
Seketika itu, sudut bibir Liana langsung terangkat ke atas sebelah, karena mengetahui trik yang sedang dimainkan oleh Falcon dan teman-temannya.
“Jadi, begitu? Menarik! Aku akan lihat dengan baik dari sini, sambil mencoba melepaskan tali sialan ini dari tanganku. Aaaahhhh ... Tanganku sudah mulai pegal digantung seperti ini,” ucap Liana kesal.
Saat di bawah mulai menegang dengan pertemuan kedua kelompok gangster, tiba-tiba dari arah ruang kendali mesin crane, Liana melihat Mike tengah berjalan mengendap-endap hendak menyerang orang yang menjaga ruang kendali tersebut.
.
.
.
.
Up date malam datang buat bacaan pengantar sahur😅wis pokoknya utangku hari ini lunas sama bestie semua😁✌
__ADS_1
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘