Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Di mana dia?


__ADS_3

Seusai makan siang, Liana dan Kakek Joseph duduk di ruang tengah. Sedangkan Falcon, pria itu ijin ke depan untuk melakukan panggilan dengan seseorang.


Liana nampak tengah duduk sambil melipat kedua lengannya di depan dada, dan menatap ke arah sang kakek yang justru sibuk dengan surat kabar.


“Apa kau tahu, surat kabar ini dikirim langsung dari ibu kota. Kota itu sungguh semakin maju. Bisnis di sana pun berkembang dengan cepat dan pesat. Menurutmu, bagaimana kota Empire State itu?” tanya Kakek Joseph.


Matanya terus fokus pada surat kabar, meski dia mengajak bicara cucunya yang duduk di hadapannya.


“Aku sudah mulai mengambil langkah awal untuk membangun bisnis di sana. Aku rasa, kota itu akan terus melakukan pembangunan, dan itu menjadi lahan bisnis untuk profesi seperti ku,” ucap Liana.


“Benarkah? Tapi, Hati-hati saat kau menentukan pilihan akan bekerja sama dengan siapa nantinya. Jangan sampai kau merugi, karena mereka akan meremehkan kinerjamu yang masih sangat muda ini,” tutur Kakek Joseph.


“Bukankah aku sudah pernah bilang, kalau aku tidak akan mengambil suatu keputusan jika aku tidak yakin akan hal itu,” jawab Liana tegas.


“Yah, itu memang sifatku yang ku wariskan padamu,” sahut Kakek Joseph.


“Yah, kau mewariskan sifat angkuh dan sombongmu, dan juga logika yang selalu menuntunku pada setiap solusi terbaik dalam setiap masalah yang datang. Ibu mewariskan paras yang cantik serta hati yang bersih dan murni, penuh cinta kasih. Lalu, bakatku di bidang konstruksi, apa itu diwariskan oleh ayahku, Kek? Bukankah dulu dia bekerja di bawah kepemimpinanmu?” ucap Liana.


Gadis itu mulai menuju ke masalah utama kedatangannya ke tempat tersebut.


Mendengar ucapan Liana, pria tua itu pun menghentikan gerakannya. Bahkan matanya pun tak fokus lagi pada lembaran surat kabar di tangannya.


Dia kemudian melipat kertas tersebut, karena sang cucu pasti akan menanyakan keberadaan ayahnya saat ini.


“Apa yang ingin kau tanyakan pada ku?” tanya Kakek Joseph.


Suasana berubah menjadi tegang. Interaksi di antara keduanya terasa canggung.

__ADS_1


“Kakek sudah tahu apa yang ku mau,” sahut Liana.


“Bukankah sudah ku katakan bahwa dia tidak ada di sini?” ucap Kakek Joseph.


“Lalu, beritahu aku di mana dia sekarang, Kek!” seru Liana.


Kakek Joseph diam sejenak dan menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan sang cucu.


“Dia kritis dan sedang menjalani perawatan intensif di suatu tempat,” ungkap Kakek Joseph.


Liana seketika menegakkan duduknya dan mengurai lipatan lengannya.


“Di rumah sakit mana?” tanya Liana cepat.


“Dia tidak di rumah sakit manapun. Tempat-tempat umum seperti itu, saat ini sangat berbahaya untuk dia. Kami menemukannya saat dia sedang di serang oleh sekelompok orang. Beruntung, dia masih bisa bertahan hingga mendapatkan pertolongan medis,” tutur Kakek Joseph.


Liana mengepalkan tangannya geram, karena rupanya sang ayah telah lebih dulu mendapatkan serangan sebelum dia bisa menyelamatkannya.


Gadis itu berusaha meredam amarahnya dan terus memperlihatkan wajah tanpa ekspresinya.


“Ku dengar selama di kota ini, dia dibantu oleh seorang wartawan lokal. Dia lah yang membantu ku mencari tempat aman yang bisa digunakan untuk merawatnya selama beberapa hari ini,” tutur Kakek Joseph.


“Wartawan Liem?!” gumam Liana.


“Tolong berikan alamat tempat itu, Kek. Aku akan ke sana sekarang!” ucap Liana.


Gadis itu segera bangkit dan berjalan begitu saja melewati kakeknya.

__ADS_1


“Apa kau tidak berpikir bahwa aku yang menganiayanya?” tanya Kakek Joseph tiba-tiba.


Mendengar perkataan sang kakek, Liana pun menghentikan langkahnya, dan sedikit menoleh ke samping.


“Kita berdua punya sifat yang sama, bukan. Kita tidak akan melakukan sesuatu hal dengan setengah-setengah, melainkan sampai tuntas. Jika saat ini Kakek merawatnya, berarti sejak awal Kakek memang tidak pernah berniat untuk menyentuhnya. Bukan begitu, Kek?” jawab Liana mantap.


Kakek Joseph terdiam. Dalam hatinya, muncul rasa sejuk saat mendengar perkataan cucu satu-satunya itu.


“Pergilah temui ayahmu. Lakukan apa yang harus kau lakukan dan jangan libatkan kakekmu ini lagi. Mengerti!” ucap Kakek Joseph.


Liana tersenyum tipis setelah mendapatkan ijin dari sang kakek.


“Sampai disini, Kakek bisa serahkan semua urusan Ayah padaku. Terimakasih atas bantuannya. Aku pergi,” sahut Liana.


Gadis itu pun kembali melangkah meninggalkan sang kakek, dan menemui kekasihnya yang masih berada di luar.


Sementara di dalam rumah besar itu, Kakek Joseph tertawa dengan sangat keras setelah Liana menghilang dari balik pintu.


“Hahahahaha... Andai kau melihatnya, Jim. Lihatlah. Itu dia otak cerdas yang ku wariskan padanya. Itu lah cucuku. Dia tidak akan pernah terkecoh oleh apapun. Hahahaha....,” ucap Kakek Joseph pada diri sendiri.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2