Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Bermalam


__ADS_3

Malam menjelang. Akibat badai yang akan datang, hampir seluruh hotel dan penginapan di kota metropolis telah penuh.


Entah sudah berapa banyak tempat yang di datangi oleh Liana saat itu, akan tetapi dia belum juga mendapatkan tempat untuk bermalam.


Christopher hanya diam, dan melihat bagaimana gadis itu memecahkan masalahnya untuk malam ini. Hingga akhirnya, Liana berencana untuk tidur di dalam mobilnya selama semalaman.


“Antarkan aku se suatu tempat,” ucap Christopher.


Liana tak menoleh. Dia sudah cukup lelah karena harus keluar masuk hotel dan penginapan sedari tadi. Kini, dia ingin beristirahat, dan meyandarkan punggungnya di kursi dengan mata yang terpejam.


“Jika kamu lelah, biarkan aku yang mengemudi,” tawar Christopher.


Terdengar helaan nafas yang begitu berat dari gadis itu. Liana benar-benar tak ingin berdebat lagi dengan pria yang menurutnya sangat aneh, dan selalu saja mengganggunya.


Dia pun keluar dan berjalan ke arah pintu belakang. Dia segera masuk, dan menyandarkan punggungnya di kursi penumpang, sambil kembali memejamkan matanya.


Christopher pun mengambil alih kursi kemudi, dan melajukan mobil tersebut menuju ke sebuah tempat.


Setelah beberapa waktu, kini mereka tiba di suatu komplek hunian elit di wilayah Metropolis, tepatnya yang berada di blok A. Rupanya, Christopher membawa Liana ke apartemen pribadinya, yang dulu sempat ia tinggali saat masih kuliah di Universitas Negeri Metropolis.


Liana nampak tertidur di kursi belakang, karena seharian ini dia sudah sangat kelelahan, lari ke sana kemari dari negera bagian A hingga Metropolis, demi mencari kebenaran akan identitasnya.


Gadis itu bahkan tak sadar, jika telapak kakinya sudah lecet akibat berlarian tanpa alasan kaki di jalanan beraspal. Christopher mencoba membangunkan Liana, namun sepertinya gadis itu tidur begitu lelap, hingga menurunkan kewaspadaannya.


Pemuda itu kemudian keluar dari mobil dan menuju ke kursi belakang. Dengan perlahan, dia mengangkat tubuh lelah Liana dan membawanya ke atas, di mana unit miliknya berada.


Dengan sedikit kesulitan karena kedua tangannya mengangkat tubuh Liana, Christopher pun harus meminta pertolongan orang yang lewat, untuk membantunya membukakan pintu dengan kunci yang ada di dalam tasnya.


Setelah berhasil masuk, pemuda itu membaringkan Liana di atas tempat tidur dengan perlahan.


Nampak kondisi apartemen tersebut cukup bersih, seperti baru saja dibersihkan oleh seseorang.


Pemuda itu kemudian keluar dan menuju dapur. Dia menyiapkan air hangat, dan mengambil sebuah handuk kecil kemudian memasukkannya ke dalam sebuah wadah.


Ia kemudian kembali ke kamar, dan duduk di tepi ranjang. Christopher mulai memeras handuk itu, dan menempelkan nya di telapak kaki Liana.


“Akan lebih efektif jika kau merendamnya. Tapi tak apa, kali ini ku bantu kau mengompresnya,” gumam Christopher.


Setelah cukup lama, Christopher pun menyudahi kegiatannya itu, dan mengambilkan selimut untuk Liana.


Angin mulai berhembus kencang dengan rintik hujan yang terdengar turun membasahi balkon kamar tidur itu.

__ADS_1


Christopher membiarkan Liana untuk tidur di kasurnya, sedangkan dia memilih untuk beristirahat di atas sofa yang ada di seberang kamar.


Lampu tiba-tiba mati. Pemuda itu melihat keluar jendela, dan mendapati jika seisi kota gelap gulita.


“Sepertinya ada pemadaman listrik,” gumamnya.


Dia pun berjalan menuju ke dapur dan membawa beberapa lilin dari sana. Christopher kemudian menyalakannya dan menempatkan dua buah di kamar, dan satu di meja yang berada di dekat sofa yang ditidurinya.


Di tengah malam, saat badai masih terjadi di luar, terdengar suara rintihan dari dalam kamar Christopher.


Pemuda itu mendengarnya dan segera berlari masuk ke dalam kamar menghampiri Liana yang masih terpejam. Gadis itu mengigau dan memanggil-manggil seseorang.


“Ibu ... Jangan ... Aku takut ... Ibu ...,” rintih Liana dalam tidurnya.


Keningnya berkerut, dan keringat nampak merembes dari pelipisnya. Christopher berusaha memanggil-manggil gadis itu, dan mencoba membangunkannya.


“Liana! Liana, bangun! Liana!” panggil Christopher semakin lama semakin keras, sambil menggoyangkan tubuh Liana.


Gadis yang terus mengigau itu pun akhirnya terbangun dengan setengah menjerit.


“IBU!” pekiknya.


Gadis itu nampak memejamkan mata kembali dan mencoba menarik nafas dalam, agar bisa menormalkan kembali degupan jantungnya yang juga tak beraturan.


“Kau mimpi buruk. Bangun dan minumlah air putih ini,” seru Christopher seraya mengangkat gelas yang sedari tadi berada di atas nakas.


Liana pun kembali membuka mata, dan duduk bersandar di head board. Gadis itu meraih gelas dari tangan Christopher dan meneguknya hingga tandas.


“Terimakasih,” ucap Liana sambil meletakkan kembali gelas kosong itu ke atas nakas.


Dia menoleh ke kiri dan kanan seolah tengah mencari sesuatu.


“Apa kau mencari tasmu?” tanya Christopher.


Liana seketika menatap pemuda itu. Dia tak bersuara, namun dengan tatapan matanya Liana seolah mengatakan iya.


Christopher pun sedikit menunduk dan membuka laci nakas. Pemuda itu mengambil sesuatu dari dalam sana, dan menaruhnya di samping Liana.


“Ini tasmu,” ucap Christopher.


Liana pun segera meraih tasnya dan membuka resleting atas tas tersebut. Dia mengeluarkan sebuah ponsel pintar, dan segera menekan tombol power.

__ADS_1


Namun, karena seharian fokusnya hanya mencari bibinya, dia sampai lupa mengisi daya pada ponsel tersebut, hingga benda pipih hitam itu kehabisan daya.


“Si*l!” umpat Liana.


Dia meletakkan ponsel itu dengan sedikit melemparnya ke arah kaki.


Liana nampak mengusap wajahnya dengan kasar, dan menekuk kedua lututnya, kemudian memeluk keduanya dengan erat.


Dia meletakkan kepala di atas kedua lutut yang tertekuk itu, dan menatap lilin yang menyala tak jauh darinya.


“Aku tahu kau pasti kesal karena harus terjebak di sini, saat kamu ingin segera menemui seseorang bukan,” ucap Christopher.


“Bukan urusanmu!” sahut Liana ketus.


“Hei, Nona. Sikapmu dingin sekali. Aku jadi ingat dengan seorang junior yang memiliki sifat sama sepertimu. Dingin dan datar,” ucap Christopher.


Liana tak menyahut. Namun, dalam hati dia meyakini jika yang dimaksud pemuda itu adalah dirinya.


“Kau tau. Dia itu berwajah cacat. Namun, sifat pantang menyerahnya, membuatku kagum. Aku diam-diam selalu membantunya agar bisa tidur di dalam perpustakaan. Terkadang, aku merasa aneh pada diriku. Meski dia selalu bersikap acuh dan dingin pada setiap orang, namun dia memiliki daya tarik tersendiri untukku,” ucap Christopher.


Liana sama sekali tak peduli. Dia terus berpura-pura tenang, meski hatinya terus tertuju pada Kakek Joseph. Ditambah, cerita Christopher yang tak lain menceritakan kesan pemuda itu terhadap dirinya.


“Aku ingin lebih dekat dengannya. Aku tak peduli dengan parasnya yang buruk rupa. Yang paling penting, aku tahu dia gadis yang baik. Namun, beberapa tahun yang lalu, dia menghilang bagai di telan bumi. Aku mencurigai sebuah kecelakaan di rute pelariannya. Bahkan, jejak kamera pengawas, laporan kepolisian dan informasi di rumah sakit, semuanya tak ada yang merekam informasi tentang kecelakaan tersebut. Bukankah itu aneh,” lanjut Christopher.


Liana kembali teringat kejadian dua setengah tahun yang lalu, saat dirinya harus bertemu dengan Kakek Joseph lewat cara yang tak terduga. Dia harus menjalani berbagai macam operasi dan terapi demi memulihkan kembali kondisi fisiknya yang terluka parah.


Memang benar, saat itu aku bak hilang di telan bumi. Bahkan, tak ada yang menyadari jika hari itu ada sebuah kecelakaan, batin Liana.


.


.


.


.


Di sini hujan gais, ngopi enak nih🤭


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2