
“Cukup! Cukup, Jung! Jangan pernah sebut hal itu lagi. Karena sampai kapanpun, aku tak akan pernah menganggap aib itu ada!” tepis Amber.
“Em, apa kau sama sekali tak pernah merindukannya? Dia selalu menanyakan mu, bahkan diusianya yang sudah dua puluh tiga tahun ini. Apa sebagai ibu, kau sama sekali tak memiliki kasih sayang sedikit pun untuknya?” tanya Moses.
Pria itu mencoba membujuk Amber untuk menerima sang Putri. Moses kembali memikirkan perkataan putrinya pagi ini, sebelum dia pergi menemui Amber.
Sejak dulu, dia selalu mengalah dan mencoba membohongi Lusy tentang ibunya. Dia bahkan membuat sang putri percaya bahwa ibunya telah meninggal, demi membuat posisi Amber tidak terancam di keluarga Harvey.
Cinta butanya membuat kebahagiaan putrinya tergadai. Namun dengan munculnya berita ini, Lusy yang awalnya berhenti menyinggung tentang sang ibu di depan Moses, kini kembali mau berbicara mengenai wanita yang telah melahirkannya itu. Hal ini membuat hati Moses kembali terluka.
Sejak dulu, cintanya pada Amber begitu besar, hingga dia rela mengorbankan apapun, bahkan kebahagiaan sang putri, buah cintanya dengan Amber yang dianggap aib oleh wanita itu.
Amber terlihat sudah tak bisa tenang. Saat ini yang ada di otaknya hanyalah bagaimana cara untuk menyingkirkan Liana, agar rahasianya tetap aman dan tak ada seorang pun yang akan curiga lagi soal kemiripannya dengan putri Moses.
Wanita itu bangkit berdiri dan meraih tasnya. Dia menatap Moses Jung yang masih terdiam, dengan wajah yang menghadap lurus ke depan, dan sorot mata yang kosong.
“Sekali lagi ku peringatkan padamu, Jung. Kau itu hanya anak seorang budak di keluarga Callister! Cinta mu itu hanya mimpi, dan putrimu itu hanya aib. Jadi, jika kau masih ingin terus menjadi orang ku, masih mau berguna untuk ku, lenyapkan gadis itu selamanya!” ucap Amber.
Dia kemudian berjalan pergi dan hendak keluar dari ruang VIP tersebut. Namun, langkahnya terhenti, saat Moses kembali membuka suara.
“Dia adalah putri Peter Chen,” ungkap Moses.
Amber seketika mematung. Matanya membola mendengar penuturan dari pria yang telah berkali-kali ia hina dan sakiti itu.
Wanita tersebut pun kemudian menoleh, dan menatap ke arah Moses dengan kening yang berkerut.
__ADS_1
Sementara pria itu, dia meneguk sake, dan bangkit dari duduknya. Dia berjalan menghampiri Amber yang masih ada di depan pintu.
“Kali ini kau menemui lawan yang berat. Gadis itu sangat licik. Meskipun aku berhasil membuatnya menghilang, tapi dia tak akan pernah membiarkan musuhnya menang. Dia pasti telah menyiapkan sebuah rencana cadangan, yang akan membuatmu ikut jatuh, sekalipun dia sudah tak ada lagi di dunia ini,” ucap Moses.
Pria itu kemudian membuka pintu ruangan tersebut, dan berdiri di ambang pintu.
“Aku beri kau kesempatan terakhir. Datanglah padaku, sebelum semuanya terlambat. Kami menunggu mu,” ucap Moses Jung tulus.
Pria itu kemudian pergi meninggalkan Amber, yang masih tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Moses.
Dia tak menyangka, jika yang dihadapinya kali ini adalah putir dari pria yang selama ini menjadi obsesinya, hingga dia mampu melakukan segala macam cara demi mendapatkannya.
Namun, semuanya percuma dan hanya menciptakan malapetaka untuk banyak orang selama puluhan tahun ini.
Amber murka. Dia mengamuk di dalam ruangan tersebut, dan membuat semua hidangan serta peralatan makan berserakan dalam kondisi pecah di lantai.
Menejer restoran sampai harus turun tangan, dan mengamankan wanita gila itu, serta memintanya untuk mengganti semua kerugian yang telah ia lakukan.
Amber tak bisa berkutik. semua aksinya langsung tertangkap tangan, karena pintu ruangan tersebut masih terbuka dan membuat semua orang melihat kelakuannya.
Wanita itu pun tak mau berlama-lama menjadi bahan tontonan orang, dan memilih melempar kartu sakti tanpa limitnya ke wajah menejer restoran tersebut.
Dia pun segera pergi menuju mobilnya yang terparkir di basement. Saat Amber baru saja keluar dari lift, seseorang menghadang jalannya, dan membuat wanita itu bersikap waspada.
“Siapa lagi ini? Mau apa kau menghalangi jalan ku? Apa kau juga suruhan gadis itu, hah?” tanya Amber kesal.
__ADS_1
Orang itu berbalik, dan seketika Amber bisa mengenali wajahnya.
“Kau kan...,” ucap Amber.
“Saya tahu permasalahan Anda, dan saya punya solusi untuk itu semua. Jika Anda tertarik, datanglah ke tempat ini jam sepuluh malam nanti. Saya tunggu di sana,” sela orang tersebut.
Dia memberikan secarik kertas, yang berisikan sebuah alamat, dan pergi dari hadapan Amber begitu saja.
Menarik. Jika sebuah barang sudah tak berguna lagi, tiba saatnya untuk mengganti dengan yang baru, batin Amber.
Seringai muncul di wajah cantiknya, namun terlihat begitu mengerikan.
.
.
.
.
No spoiler, tebak-tebak sendiri aja ya 🤭
hari ini sampai sini dulu, besok lanjut lagi bestie ku sayang😘😘😘😘
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘