
Di dalam ruangan gelap, dengan hanya satu lampu gantung saja yang menerangi, Liana masih duduk berjongkok di hadapan Jessica.
Sementara Jessica, dia tak tau kenapa kejadiannya bisa berbalik seperti ini.
“Apa kau kaget, karena rencana besarmu ini gagal?” tanya Liana dengan nada mengejek.
Jessica masih gemetar hingga membuatnya diam, meski banyak yang ingin ditanyakan.
“Apa kau kenal seseorang bernama Falcon? Pemimpin gangster terbesar di Grey Town? Ku beritahu kau satu hal. Mike adalah anak buah Falcon, dan Falcon ada di pihak ku. Jadi, kau masuk ke sarah singa dengan sendirinya. Ah, dan satu hal lagi, semua pengakuanmu tadi sudah didengar langsung oleh kedua pria b*doh itu. Mereka ada di ruangan sebelah dan menyaksikan semua yang telah terjadi di sini,” ungkap Liana, sambil menunjuk ke sisi kiri di mana ruangan tempat Jimmy dan Kakek Joseph berada.
Jessica menoleh dan melihat jika semuanya gelap. Tak terlihat apapun di sana.
“Kau berbohong kan? Kau pasti berbohong. Kau bukan Liana. Wajahnya... Wajahnya sudah cacat. Mana mungkin bisa kembali pulih?”elak Jessica.
Liana bangun dan berdiri, sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
“Kau ini benar-benar hidup lama di dalam hutan rupanya. Apa kau seb*doh itu sampai tak mengerti yang namanya operasi pemulihan wajah? INGAT, AKU HANYA MENJALANI OPERASI PEMULIHAN WAJAH UNTUK MENGHILANGKAN BEKAS LUKAKU, BUKAN MEROMBAK TOTAL WAJAH JELEK KU ITU!” ucap Liana dengan lebih keras di kalimat terakhir.
Tujuannya adalah, agar kedua pria itu tau jika Liana sedang berbicara pada mereka.
Namun di dalam sana, Jessica merasa jika Liana tengah membentaknya dan dia kesal bukan main.
Di tengah ketakutannya, Jessica masih bisa menatap penuh emosi kepada Liana, karena lagi-lagi gadis itu berhasil menghinanya.
“Kurang ajar! Jadi, selama ini kau memang sengaja untuk terus menyudutkanku?” tanya Jessica geram.
“Yah, kau benar. Aku marah karena kau telah mengambil posisi yang bukan untuk mu. Aku marah karena ibumu mengambil kalung peninggalan ibuku. Aku marah karena kau muncul dan mengaku sebagai cucu kakekku. Aku marah karena kau selalu mengambil miliki. Kau tahu, sejak dulu kau selalu merampas milik ku! MILIKKU!” teriak Liana.
Liana mengeluarkan semua kemarahan di dalam hatinya pada jessica saat itu juga, dan membuat semua orang sadar bagaimana sakit hatinya dia saat harus menghadapi semua ini sendirian.
“Dan sekarang, kau dan ibumu sudah tamat,” pungkas Liana.
Jessica tak percaya jika rencana jahatnya justru berbalik menyerangnya sendiri. Melihat kemarahan Liana, dia pun kembali memundurkan diri. Tiba-tiba, tak sengaja tangannya meraih tongkat kayu yang tadi sempat terjatuh.
Dari sudut pandang Liana, gadis itu tak bisa melihat keberadaan tongkat yang kini tengah di pegang Jessica, karena benda itu berada di sisi gelap ruangan dan tak terkena cahaya lampu.
Kalau memang aku sudah ketahuan, setidaknya aku harus menyingkirkan gadis tengik ini sekarang juga, sebelum aku tertangkap dan hanya bisa menyesal di penjara, batin Jessica.
Dia pun menggenggam tongkat itu, dan hendak menyerah Liana secara tiba-tiba.
“MATI KAU, LIANA!” pekik Jessica.
Gadis itu mengayunkan tongkat kayu tersebut dan mengejutkan Liana. Gadis itu pun tak sempat mengelak.
BUUGGG!
AAAAARRRRGHHH!
Sebuah pukulan yang cukup keras mengenai seseorang dan di susul sebuah teriakan dari seorang wanita. Liana menutup matanya dan merasakan jika ada yang sedang memeluknya.
Dia tak merasakan sakit sedikitpun dan seketika membuka mata untuk melihat siapa yang berdiri di sampingnya.
__ADS_1
“Falcon?” gumamnya.
Dia beralih ke arah Jessica. Rupanya, saat penipu itu hampir memukulnya, Falcon terlebih dulu maju dan menghadang pukulan tersebut. Jessica berhasil mengenai Falcon, dan pria itu dengan kasar menendang lengan Jessica hingga tongkat tadi terpelanting jauh ke sudut ruangan.
“Mike!” teriak Falcon.
Pintu pun terbuka dan muncullah beberapa orang anak buah Falcon masuk ke dalam.
“Jaga dia!” seru Falcon.
“Baik, Bos!” sahut mereka semua.
Falcon membawa Liana keluar dari sana, dan meninggalkan Jessica bersama anak buahnya.
Jessica tak habis pikir, bahkan Mike, orang yang dikenal sangat kejam, bisa tunduk pada Liana dan pria yang ada di samping gadis itu.
Dia mencoba bangun dan kembali hendak menyerang Liana. Namun, Mike dan teman-temannya menangkap tubuh gadis itu dan membuatnya kembali berlutut di atas tanah.
“Brengsek kau, Liana. Awas kau. Akan ku balas kau nanti. Liana!” teriak Jessica meronta.
Liana pergi bersamaan dengan Kakek Joseph dan juga Jimmy yang keluar dari ruang tempat mereka berada tadi.
Pandangan mereka bertemu. Nampak gurat penyesalan di wajah kedua pria itu saat melihat Liana.
Joseph melangkah maju dengan tangan yang terulur ke depan, seolah hendak meraih Liana. Namun, gadis itu justru mundur dan berdiri di belakang punggung Falcon.
Seketika itu, Joseph menghentikan langkahnya karena merasa telah ditolak oleh cucu yang selama ini diabaikannya.
Falcon pun berusaha menengahi dan memberikan pengertian pada Kakek Joseph.
“Sebaiknya, Anda berdua urus para penipu itu terlebih dulu. Biarkan Lilian bersama saya untuk sementara waktu ini,” ucap Falcon.
“Tapi...,” sahut Joseph.
“Tuan, biarkan Lilian tenang dulu. Benar kata Falcon, sebaiknya kita urus ibu dan anak itu sekarang, sebelum Caroline yang masih ada di rumah Anda, tahu akan hal ini dan melarikan diri,” sela Jimmy.
Joseph merasa berat jika harus membiarkan Liana pergi dengan Falcon. Rasanya, dia ingin sekali memeluk gadis malang yang selalu berjuang seorang diri itu.
Namun, Liana sepertinya masih marah padanya, dan bahkan menolaknya secara halus.
Akhirnya, Joseph pun membiarkan Liana pergi bersama Falcon, sementara dia dan Jimmy mengurus Jessica dan ibunya.
Mereka memanggil polisi dan meminta petugas untuk menangkap Caroline yang masih berada di rumahnya.
Dengan bantuan anak buah Falcon, mereka bisa mendapatkan bukti penculikan dan pengakuan Jessica atas penipuan, yang dilakukannya bersama sang ibu selama ini.
Keduanya kini berakhir di penjara, dan akan segera menerima hukuman berat atas apa yang telah mereka lakukan.
...👑👑👑👑👑...
Di tempat lain, di sebuah ruangan berdinding putih dengan banyak lilin aroma terapi di sekitarnya, nampak seorang pria berbadan besar dengan tato yang hampir menutupi separuh badannya, tengah berbaring di sebuah tempat tidur kecil.
__ADS_1
Seorang terapis tengah membaluri punggungnya dengan minyak esensial, dan memberikan terapi pijat pada pria tersebut.
Terdengar dering dari sebuah ponsel yang tergeletak tak jauh dari kepala pria itu. Dia pun meraihnya dan melihat siapa yang melakukan panggilan kepadanya.
Pria tersebut pun menggeser tombol hijau ke kanan, dan menempelkan benda pipih itu ke depan telinganya.
“Halo,” sapanya dengan suara berat.
“Sid sudah mati, dan kedua wanita itu sudah masuk ke penjara,” lapor orang diseberang.
“Hem, biarkan saja dua wanita itu membusuk di sana. Mereka tak akan tahu tentang kita, karena yang menyuruh mereka adalah Sid. Tapi, sangat disayangkan, mata-mata sehandal Sid harus mati. Lenyapkan semua bukti keterlibatan kita. Selanjutnya, kita akan bermain dengan cara berbeda,” ucap pria bertato itu.
“Baik,” sahut orang di seberang.
Pria itu menutup panggilan dan kembali menikmati pijatan dari sang terapis.
“Ehm, akan sangat menyenangkan jika bisa bersenang-senang dengan cucu pak tua itu. Hahahaha.... Hahaha...,” ucap pria bertato.
Tawanya menggelegar memenuhi ruangan tersebut.
.
.
.
.
Nah lho, yg kemarin minta cepetan tamat siapa hayooooo🤭masih banyak yang belum terkuak di cerita ini.
nih othor kasih listnya:
identitas Liana ✅
identitas Christopher ❌
identitas falcon ❌
dalang dibalik kaburnya ibu Liana ❌
Kenapa identitas kedua pria itu penting, karena mereka berdua punya kaitan dengan si dalang. terus siapa dalangnya?
Di episode ini masalah identitas Liana yang baru kelar, masih ada tiga lagi plus penyelesaian seluruh masalahnya. Jadi yah kira-kira segituan lah bab nya😅😅😅😅
intinya mah jangan bosen ngikutin cerita ini ya bestie 😘😘😘😘
Hari ini dah 3 bab, lanjut lagi besok ya😁
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1