
Liana buru-buru memalingkan wajahnya dan menghadap ke arah yang lain, agar Falcon tak melihat matanya yang telah berair bahkan hampir saja menetes.
Dia enggan terlihat rapuh ketika di hadapan orang lain, termasuk Falcon. Liana selalu berusaha tampil percaya diri dan kuat, agar semua lawannya tak mudah meremehkannya. Hal itu sudah ia latih sejak kecil, karena harus berhadapan dengan bibi dan sepupunya yang kejam.
Selama perjalanan pulang, tak ada lagi ocehan dari Liana. Mobil itu terasa sangat sunyi. Bahkan Falcon pun seolah kehabisan ide untuk membuat suasana cair kembali.
Hingga akhirnya, mereka sampai di apartemen Liana. Falcon benar-benar mengikutinya hingga masuk ke dalam hunian tersebut.
Namun, Liana tak peduli dan masuk ke kamarnya begitu saja, meninggalkan Falcon yang masih berdiri di depan pintu kamar gadis itu.
Pria tersebut kemudian duduk di sofa, dan menyandarkan punggung serta merentangkan tangannya di sana.
Hari ini, dia sangat merasa lelah, hingga dalam sekejap dia seketika tertidur dengan lelapnya.
Selain di tempat rahasia, rupanya di apartemen Liana pun seorang Falcon bisa dengan mudah tidur dan menurunkan kewaspadaannya.
Satu jam berselang, Liana keluar dari dalam kamarnya, dengan membawa bantal serta selimut. Gadis itu nampak telah berganti pakaian dan terlihat lebih segar. Sepertinya, dia baru saja selesai mandi dan kini hendak melihat Falcon.
Dia berjalan ke arah sofa panjang, di mana pria itu berada. Dengan hati-hati, Liana meletakkan bantal dan selimut di atas sofa, tepat di samping Falcon.
Namun, Falcon terlihat sudah tertidur pulas, sedangkan udara begitu dingin. Liana pun akhirnya membuka lipatan selimut, dan hendak menutupi tubuh Falcon dengan benda tersebut.
Baru saja Liana membungkuk hendak menyelimuti Falcon, Tiba-tiba saja pria itu membuka mata, dan meraih kedua tangan Liana dan membanting gadis itu di atas sofa dengan kasar.
Liana pun memekik karena terkejut dan kesakitan.
Sementara Falcon, pria itu telah mengungkung Liana, dengan kedua tangannya menahan lengan gadis tersebut.
Dia pun begitu terkejut, terlebih saat menyadari jika yang dibantingnya adalah Liana, dan kini tengah berada tepat di bawahnya.
“Kau? Kenapa kau di sini? Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Falcon.
“Apa tidak lihat aku sedang memegang apa? Minggir dari atas ku!” seru Liana.
Falcon pun segera bangkit dari posisinya, dan kembali duduk di sofa. Sedangkan Liana, gadis itu nampak bangun dan berdiri di depan Falcon.
“Aku cuma mau memakaikan benda ini saja. Tadi ku lihat kau tidur pulas sekali, jadi aku ingin berbaik hati padamu. Tapi ternyata, kau malah membanting ku dengan sangat keras. Ini, pakai sendiri! Aku mau tidur,” omel Liana.
Gadis itu melemparkan selimut tepat ke depan wajah Falcon, dan berbalik menuju kamarnya.
“Hei Lilian, terimakasih,” ucap Falcon sedikit kencang, karena jarak mereka sudah jauh dan Liana tak menoleh sama sekali.
Gadis itu masuk ke kamar meninggalkan Falcon sendirian lagi di sana.
Terdengar helaan nafas panjang dari mulut pria tampan itu. Dia kemudian mengusap wajah dengan kasar, lalu kembali menyandarkan punggung dan kepala ke sofa.
“Aneh. Kenapa di sini aku juga bisa tidur nyenyak yah? Sampai aku tak menyadari kalau Liana datang menghampiriku,” tanya Falcon pada dirinya sendiri.
Dia kemudian teringat akan perkataan Liana ketika di caffe, saat gadis itu menanyakan tentang foto yang dikirimkan secara anonim kepada Jimmy.
Pria itu pun kemudian menghubungi seseorang, untuk mencari tahu hal tersebut.
__ADS_1
“Halo, Nine,” sapa Falcon.
“Ya, Bos. Apa kau butuh sesuatu?” tanya Nine.
“Bagaiamana kondisi di kota? Apa mereka masih mencariku?” tanya Falcon.
“Mereka sudah tidak di sini. Tapi, untuk sementara sebaiknya kau tetap di sana, setidaknya sampai besok malam,” ucap Nine.
“Baiklah. Aku sangat malas berurusan dengan mereka. Lebih baik aku berurusan dengan gangster lain dan bertarung sampai salah satu dari kami kalah,” sahut Falcon.
Nampak ketua gangster itu memijat pangkal hidungnya, seolah masalah yang tengah dihadapi begitu membuatnya pusing.
“Oh, iya. Aku ada satu tugas untukmu,” ucap Falcon kemudian.
“Apa itu, Bos?” tanya Nine.
“Cari tau, siapa orang yang sudah diam-diam melaporkan semua kejadian di sekitar Lilian pada Jimmy secara misterius,” seru Falcon.
“Memangnya ada apa dengan pengirim foto itu? Apa dia meneror Nona Wu? Perlu ku tangkap sekalian?” tanya Nine.
“Cukup cari tahu saja. Sejak kapan kau begitu cerewet? Apa kau sudah tertular si germo itu?” ejek Falcon.
“Hei, Bos. Aku mendengarmu!” seru orang yang berada di dekat Nine saat ini.
“Pantas saja. Kalian selalu bersama, jadi menulari masing-masing. Sudahlah, kututup dulu. Nine, jangan lupa tugas mu tadi. Cukup cari tahu siapa dan laporkan padaku,” ucap Falcon.
“Baik, Bos,” sahut Nine.
Pagi hari, Liana nampak baru terbangun dari tidur dan mendengar suara dari arah dapur. Tak lama kemudian, tercium bau harum masakan yang menyeruak ke dalam indera penciumannya.
Gadis itu pun bangun dan duduk sambil meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku setelah tidur semalaman.
Kemudian dia turun, dan berjalan keluar kamar, untuk melihat apa yang terjadi di sana.
Suara-suara itu terdengar dari arah dapur. Liana pun berjalan ke arah sana dan melihat seseorang sedang memasak sesuatu.
Liana mendesign dapurnya dengan menempatkan sebuah minibar yang juga difungsikan sebagai meja makan. Karena Liana hanya tinggal sendiri, sehingga ukuran dapur kecil sudah cukup untuknya menyiapkan makanan.
“Sedang apa kau?” tanya Liana saat melihat Falcon tengah sibuk di dapur.
“Cepat tolong aku ambilkan piring,” seru Falcon.
Liana pun membantu pria itu menghidangkan makanan buatannya ke meja. Seusai memasak, falcon membuka celemek dan duduk di samping Liana.
“Makanlah!” seru Falcon.
“Bisa masak juga rupanya,” puji Liana.
“Cuma pasta saja,” sahut Falcon.
__ADS_1
Pria itu meraih saus yang berada sedikit jauh darinya. Melihat pria itu tak bisa meraih benda yang diinginkan, Liana pun mengulurkan tangan dan mengambilkannya.
“Thanks!” ucap Falcon.
Saat dia handak menuang saus, Liana teringat jika benda itu sudah lewat tanggal kadaluwarsanya beberapa hari yang lalu.
Liana pun segera merebutnya dari Falcon, hingga tak sengaja menumpahkan isinya dan mengenai baju serta celana Falcon.
“Ups, sorry,” ucap Liana.
“Kenapa kau tiba-tiba merebutnya?” tanya Falcon.
“Maaf. Aku lupa kalau itu sudah kadaluwarsa,” jawab Liana.
“Lalu, bagaimana ini? Aku hanya punya baju ini saja,” ucap Falcon.
“Minta saja Nine untuk membawakannya untukmu,” seru Liana.
“Itu pasti memakan waktu lama. Apa kau tidak punya baju yang seukuran untukku?” tanya Falcon
“Entahlah. Coba ku lihat dulu,” sahut Liana.
Gadis itu hendak pergi, namun tangannya di tahan oleh Falcon.
“Makanlah dulu! Biar aku pinjam kamar mandi mu sebentar,” ucap Falcon.
“Baiklah. Kalau kau butuh handuk, ada di lemari,” ucap Liana.
Pria itu pun masuk ke dalam kamarnya dan menggunakan kamar mandi yang memang hanya ada satu di apartemen itu.
Liana nampak menyantap makanan yang dibuatkan oleh Falcon. Rasanya cukup enak, hingga gadis itu pun makan dengan lahannya.
Beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka, dan membuat Liana seketika menoleh. Namun, saat melihat ke arah sana, gadis itu berteriak begitu kencang.
“Aaaaarrrgghhhhhh!”
.
.
.
.
2 bab lagi nanti yah, siang atau sore🤭sekolah lagi banyak acara😁 kemarin habis pelepasan kelas xii, hari ini acaranya jalan santai🤭
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1