Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Terkejut


__ADS_3

Malam hari, sebelum malam badai, di Grey Town, nampak seorang pria tengah duduk dengan kedua tangan merentang di atas sandaran sofa, dan kepalanya mendongak ke atas.


Sesekali dia memijat pangkal hidungnya, seolah tengah berpikir keras akan sesuatu.


Seseorang nampak masuk, dan duduk di samping pria yang merupakan ketua gangster terkuat di Grey Town, Falcon.


“Hei, Bos. Kenapa kamu tidak memanggil para wanita kemari seperti biasa? Seharian ini kau terus saja terlihat murung. Apa karena gadis itu lagi?” tanya Long, si penanggung jawab tempat hiburan milik kelompok tersebut.


Falcon tak menjawab. Dia lebih memilih tetap diam dan memejamkan matanya.


Ini seperti bukan dia. Apa mungkin dia tertarik dengan gadis ini? batin Long.


Falcon tak bersikap seperti biasanya. Dia cenderung diam, dan terus menyendiri seharian ini. Sebelumnya, setiap datang ke klub, Falcon akan selalu meminta beberapa wanita penghibur untuk menemaninya, meskipun hanya untuk sekedar menemani duduk dan minum saja.


Bahkan, Falcon bisa dibilang tak pernah menyentuh mereka, justru merekalah yang terus meraba tubuh Falcon semaunya. Namun, pria itu tak merespon sama sekali, seolah mati rasa.


Pria itu bahkan terkenal tak memiliki ampun, baik itu perempuan, Anak-anak, maupun orang tua. Jika mereka sudah menyinggung nya dan membuatnya marah, maka Falcon tak akan segan-segan bertindak kasar dan bahkan kejam pada mereka.


Berbeda dengan saat ini. Falcon terlihat begitu peduli dengan Liana. Gadis itu bahkan tidak memiliki keterkaitan apapun dengan si ketua gangster. Hanya karena pernah menolong pria itu sekali, Falcon seolah berhutang seluruh hidupnya pada gadis tersebut.


Long yang merasa tidak dipedulikan pun memilih untuk menuang minuman kedalam gelas yang kosong, dan meminumnya sendiri.


“Apa istimewanya gadis ini, sampai-sampai kau begitu peduli dengan masalahnya,” tanya Long.


“Aku berhutang budi padanya. Jadi, apa salahnya aku membayar akan hal itu,” sahut Falcon.


“Hutang budi? Benarkah? Bukankah sejak masalah Victor terkahir kali, kau bahkan tak mau berurusan lagi dengan masalah pelayan di kediaman keluarga Wang itu,” tanya Long.


“Aku hanya memberi sedikit petunjuk pada gadis itu. Selebihnya, biarkan dia yang mencari tahu sendiri. Jika beruntung, dia bisa menemukan orang yang dicari-cari selama ini,” jawab Falcon.


“Benarkah?” tanya Long.


“Yah,” sahut Falcon.


“Baiklah,” ucap Long.


Dia kembali menyesap minumannya dengan sudut bibir yang terangkat sebelah.


...👑👑👑👑👑...


Malam berlalu begitu saja, dan Falcon masih berada di tempat semula, di salah satu ruangan VVIP tempat hiburan malam mereka.


Saat pagi tiba, Nine datang dan menghampiri Falcon di sana, bersama beberapa anak buahnya.

__ADS_1


“Bos, aku sudah dapatkan infonya,” ucap Nine.


Falcon yang sedari tadi memejamkan mata, kini membukanya dan menegakkan kepala yang sedari semalam terus mendongak ke atas, seolah terasa berat.


“Cepat katakan!” seru Falcon.


“Berdasarkan informasi yang didapat dari Nyonya tua Mo, bahwa Vivian adalah kakak kandung dari Caroline. Kami sudah mencoba mencari tahu di Metropolis, dan menemukan kabar jika gadis itu telah hilang sekitar dua tahun yang lalu, karena hendak di jual pada seorang pria tua bernama Paulo. Semuanya sesuai dengan yang diceritakan oleh Nyonya tua itu,” ungkap Nine.


“Jadi, masih tetap belum ditemukan?” tanya Falcon.


“Kami masih mencoba menelusuri jejaknya di tempat terakhir dia terlihat. Menurut warga sekitar, ada dua gadis yang dibawa pergi Paulo dari rumah itu, yang pertama adalah Jessica, putri Caroline, dan satunya lagi adalah anak yang disebut oleh mereka sebagai putri dari Vivian,” lanjut Nine.


“Jadi, ada dua gadis yang berusia sama dan dibawa pergi oleh Paulo. Terakhir kali Lilian mengatakan, jika gadis itu ada di Grey Town, mungkinkah yang diketahui orang-orang Pak tua Wang adalah Jessica, bukannya gadis satunya?” gumam Falcon.


“Kemungkinan seperti itu,” sahut Nine.


“Kelihatannya menarik. Siapa gadis itu?” tanya Falcon.


“Nama gadis itu adalah Liana Yu, yang dikenal sebagai putri dari Vivian Yu,” jawab Nine.


“Bagus. Cari terus keberadaan gadis bernama Liana itu. Dan pastikan, orang-orang Jimmy tidak menyadari pergerakan kita ini,” seru Falcon.


“Baik, Bos,” sahut Nine.


Setelah perginya Nine, ketua gangster itu meraih ponsel barunya, dan melihat sebuah nama yang tertera di daftar kontak.


Dia menekan tombol hijau, dan mencoba melakukan panggilan. Namun, beberapa kali tak dijawab, dan hanya mesin penjawab otomatis yang berbicara.


Falcon pun akhirnya pergi dari tempat tersebut dan kembali ke tempat rahasianya untuk beristirahat.


Semalaman ia tak tidur, dan membuatnya begitu mengantuk saat ini. Hanya di tempat persembunyiannya yang tempo hari di datangi Liana lah dia bisa menurunkan kewaspadaannya.


Menjelang siang hari, Falcon yang memang tak bisa tidur berlama-lama, akhirnya terbangun dan kembali teringat akan hal yang belum ia lakukan.


Dia kembali meraih ponsel dan menelpon nomor sebelumnya. Kali ini, pada sering yang pertama segera diangkat.


“Halo,” terdengar suara yang terdengar bergetar dari seberang.


Falcon diam sejenak karena merasa mendengar seseorang menahan tangisnya.


Kenapa gadis itu? Apa dia menangis? Apa ini bukan waktu yang tepat membicarakan tentang masalah ini? batin Falcon.


Namun, sedetik kemudian, pikirannya kembali berubah, dan berpikir jika tugasnya hanya membantu gadis itu untuk mencari orang yang diinginkannya.

__ADS_1


Persetan dia menangis atau tidak. Secepatnya kuberi tahu saja, biar dia tidak mendesak ku terus, batin Falcon.


Pria itu pun mulai memberitahukan gadis di seberang, yang tak lain adalah Liana, tentang kabar yang pagi ini dia dapatkan dari Nine.


Namun, setelah mengatakan hal tersebut, Liana segera mematikan sambungan, dan bahkan tak berucap sepatah katapun lagi padanya.


Falcon dibuat kesal olehnya, merasa jika kebaikannya pada gadis itu adalah sebuah kekonyolan.


“Si*lan! Jangankan berterima kasih, dia bahkan acuh dan langsung menutup teleponnya. Kurang ajar,” umpat nya.


Setelah itu, Falcon memutuskan untuk keluar dan pergi ke markas gangster mereka.


Prakiraan cuaca hari ini akan terjadi badai, sehingga mereka meliburkan semua kegiatan malam di tempat hiburan dan juga cassino.


Mereka pun memilih berkumpul dan menghabiskan waktu di markas sambil minum dan sekedar berkumpul.


Menjelang sore hari, Nine mendapatkan kabar dari anak buahnya yang melakukan penelusuran mengenai gadis yang hilang itu.


Dia begitu terkejut. Bahkan wajah datarnya pun tak bisa menutupi rasa terkejutnya itu, hingga Long dan Falcon yang ada di sana penasaran dengan berita yang didapatkan temannya itu.


“Ada apa, Nine?” tanya Long.


“Kita sudah menemukan gadis itu,” ucap Nine.


Falcon seketika menegakkan duduknya dan menatap tajam ke arah Nine.


“Dia adalah Lilian Wu yang kita kenal. Dialah Liana Yu yang hilang itu,” ucap Nine.


“APA!” pekik Long dan Falcon hampir bersamaan.


.


.


.


.


Dah banyak yang tau nih, sekarang giliran mikir gimana caranya ngomong sama si kakek😁


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2