Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Menarik pelatuk


__ADS_3

Peter yang malang hanya bisa diam melihat putrinya diperlakukan kasar seperti itu tepat di hadapannya, tanpa mampu melindungi sedikit pun.


Sedangkan Amber, dia sejak tadi terlihat penasaran dengan nama orang yang disebutkan oleh Liana dan Henry.


“Tunggu. Bagaimana kau bisa mengenal Alex? Bukankah gadis ini adalah kekasih anak haram itu? Apa hubungan kalian sebenarnya?” tanya Amber bingung.


Liana kembali terkekeh. Meski pipinya sudah bengkak dan terasa panas serta nyeri yang teramat sangat, namun gadis itu tetap saja meluncurkan kata-kata pedasnya.


“Apa kau tak tau, kalau anak tiri mu itu adalah penerus geng Jupiter milik Moses Jung? Apa kau kira dia hanya anak yang tak berdaya seperti dulu saat kau membuangnya? Kau salah, Nyonya. Ada kekuatan besar di belakangnya, dan itu lah yang membuat anjingmu ini iri,” ucap Liana.


“Hahaha... Dari mana analisis bodohmu itu, Nona? Aku iri padanya? Dia hanya seorang pria lemah yang bisa takluk hanya dengan gadis sepertimu,” sanggah Henry.


“Benarkah? Apa kau pikir aku tak bisa melihatnya?” timpal Liana.


“Hei, ada apa ini sebenarnya?” tanya Amber.


Liana dan Henry masih saja berhadapan. Gadis itu terlihat sangat tenang dan terus memprovokasi lawannya.


“Biar ku jelaskan padamu, Nyonya. Jika anjing tak setia ini lebih baik dari Alex, Moses Jung tak mungkin menyerahkan gengnya yang sudah ia besarkan kepada anak tiri mu itu. Sedangkan pria ini, pasti merasa dirinya lebih baik dari pada Alex dan marah karena dia justru tetap menjadi bawahan seorang Moses Jung. Bukankah itu sangat masuk akal?" jelas Liana.

__ADS_1


“Apa lagi sekarang, dia sudah berani mengigit majikannya. Apa Anda tidak takut jika dia akan mengigit mu juga, Nyonya Harvey?” pungkasnya.


Liana bisa dengan cepat mengetahui hal itu, meski tak ada yang memberitahukan sebelumnya. Analisisnya benar-benar tajam.


Henry sudah tak bisa tahan dengan semua ocehan Liana, yang terus saja merendahkannya. Belum pernah ada orang yang bisa bersikap sekurang ajar ini dan meremehkan dirinya seperti yang dilakukan oleh Liana.


Dia pun mengambil senapan yang sejak tadi terselip di celana bagian belakangnya, dan mengarahkan senjata tersebut ke kepala Liana.


“Sepertinya aku sudah tak bisa lagi menunggu sampai tengah malam. Ucapkan saja selamat tinggal dari sekarang. Biar nanti ku sampaikan padanya saat dia datang,” seru Henry.


“Benar. Cepat bunuh saja dia!” seru Amber.


Berbeda dengan Liana. Gadis itu tak terlihat takut sedikit pun, seolah dia benar-benar telah siap untuk mati saat itu juga. Dia menatap lurus ke arah Henry, dan tersenyum seolah mengejek pria bersenjata di hadapannya.


Liana sekilas melirik reaksi ayahnya yang sudah sangat tak tenang, dan terus meronta hingga membuat ruangan semakin gaduh.


“Hei, Ayah. Ternyata aku yang akan lebih dulu menemui ibu. Jika aku bertemu dengannya, aku akan adukan kalau kau bertemu lagi dengan rubah itu, agar dia tidak mau mengingat mu lagi selamanya,” ucap Liana.


Peter semakin meronta dan ingin melepaskan tali yang mengikatnya, namun apa saya dia tetap tak bisa. Kakinya yang masih cidera pun membuatnya tak bisa bergerak sedikitpun dan hanya bisa meronta di tempat.

__ADS_1


Tuhan, tolong selamatkan putriku. Lilian, lindungi putri kita, batin Peter memohon.


Henry sudah bersiap untuk menembak. Dia tak peduli lagi jika harus menghadapi kemarahan Falcon yang melihat kekasihnya telah menjadi mayat saat dia sampai nanti.


Pria itu terlihat sudah menarik pelatuknya, dan tinggal melepasnya, membiarkan peluru melesat menembus tempurung kepala serta otak Liana, membuat gadis itu mati seketika.


DOOOR!!!!!


.


.


.


.


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2