
Saat terjadi tarik menarik antara Liana dan Lusy, saat itulah Moses hadir di antara ketiganya. Liana yang sedari tadi diam dan hanya memprovokasi Lusy lewat gerakan tubuhnya, serta pandangan merendahkan ke arah Lusy, kini mendadak berubah.
Tatapannya tajam ke arah pria paruh baya yang seusia dengan sang ayah, Peter. Pria itu menghampiri sang putri yang sudah akan membuat kekacauan semakin besar.
“Sayang, ada apa ini? Mereka juga tamu kita. Perlakukan dengan baik,” seru Moses lembut pada sang putri.
Liana begitu muak melihat pemandangan di depannya. Dia berusaha sekuat hati menyembunyikan amarah yang meluap di dadanya saat ini.
Bahagia sekali kalian berdua. Mengasihi satu sama lain, memperhatikan satu sama lain, hidup dengan baik, bergelimang harta. Sedangkan aku? Aku menderita sejak kecil, kehilangan orang tua dan keluarga, tak ada siapapun yang menjadi sandaran. Aku pastikan akan membuat kalian merasakan hal yang sama, batin Liana.
Christopher merasakan remasan tangan Liana semakin kuat di lengannya, saat melihat interaksi antara ayah dan anak itu.
Dia pun menoleh ke arah Liana dan menepuk punggung tangan gadis itu yang masih melingkar di lengannya.
Liana teralihkan dari fokusnya dan balas menoleh ke arah sang sepupu. Sebuah gelengan yang begitu pelan dari Christopher, seakan meminta Liana untuk menahan emosinya saat ini.
Gadis itu pun memejamkan mata sambil menghela nafas panjang. Seketika, raut wajahnya pun kembali berubah. Seperti seorang penjudi yang tengah memasang pocker face.
“Sepertinya putri Anda marah karena saya bersama dengan Tuan muda Chen kemari. Tapi maaf, Tuan Jung. Saya yang lebih dulu memiliki janji dengan dia untuk menjadi pasangannya malam ini,” ucap Liana menyela perbincangan Moses dan Lusy.
“Saya juga minta maaf atas sikap putri saya yang kasar ini. Mohon maklum. Mereka sudah saling mengenal sejak kecil, jadi bisa dikatakan bahwa mereka memang sudah saling dekat,” sahut Moses.
“Benarkah? Kami juga sudah sangat dekat sejak sama-sama kuliah di Universitas Negeri Metropolis. Aku juga mengenalmu, Nona Jung. Apa kau ingat aku?” tanya Liana.
Lusy nampak mengerutkan keningnya, mencoba mengingat wajah yang saat ini berada di hadapannya.
Melihat Lusy diam dan kebingungan, Liana pun kembali berucap.
“Ah, benar. Dulu wajahku ini sangat jelek. Jadi mungkin saja kau tidak kenal aku yang sekarang. Jadi, sebaiknya aku perkenalkan diriku lagi saja,” ucap Liana.
Gadis itu melepas rangkulannya dari lengan Christopher, dan mengulurkan tangannya kepada Moses Jung.
__ADS_1
“Namaku Liana Wang, cucu tunggal dari Joseph Wang, Presdir Wang Construction,” ucap Liana penuh penekanan.
Tatapannya begitu tajam menatap ke arah Moses. Pria itu pun menjabat tangan Liana dan ikut memperkenalkan diri.
Sementara Lusy, dia mencoba mengingat nama tersebut.
“Aku tidak mengenalmu sama sekali. Kau tidak usah menipuku,” serunya.
“Aku tidak menipu mu. Apa kau ingat gadis buruk rupa yang selalu memakai masker kemana-mana? Seorang mahasiswi yang mendapatkan beasiswa dari yayasan kalian berdua di Universitas itu?” tanya Liana.
Lusy semakin tak paham dengan omongan Liana. Dia hanya ingat satu orang gadis buruk rupa, dan marganya tak sama dengan gadis yang saat ini berdiri dengan angkuh di hadapannya itu.
“Apa kau ingat Liana Yu?” tanya Liana.
“Liana Yu? Si jelek yang selalu mengganggu Christopher itu?” tanya Lusy balik.
“Ya, si jelek itu. Kau pasti mengenalnya bukan? Dia adalah aku,” ucap Liana.
“Jadi... Jadi, kau..,” ucap Lusy terbata.
“Wah... Siapa sangka kau masih saja lamban seperti dulu? Bahkan dipertemuan sebelumnya, aku jelas-jelas sudah memberimu petunjuk. Tapi rupanya, kau masih belum bisa menebaknya,” ejek Liana.
Melihat anak gadisnya terpojok, Moses pun menengahi dan menyelamatkan wajah putrinya.
“Lusy, sebaiknya kita duduk. Acara akan segera dimulai. Silakan tempati kursi kalian masing-masing,” ucap Moses kepada sang putri dan juga pada kedua orang di depannya.
Dia membawa putrinya menjauh dengan sesekali menoleh ke samping, seolah ingin melihat ke arah Liana lagi.
Sementara Liana, dia melihat pasangan ayah dan anak itu dengan tatapan datar. Kedua tangannya terlipat didepan dada dengan tatapan merendahkan.
“Kenapa kau langsung menyerang Lusy? Bagaimana kalau Tuan Jung langsung bertindak padamu?” tanya Christopher.
__ADS_1
“Apa kau tak melihat kalau tadi dia berusaha melindungi wajah anaknya? Sudah jelas bukan, putrinya adalah kelemahannya. Akan lebih efektif saat kita menyerang titik terlemah dari seseorang untuk membuatnya kesakitan berkali-kali lipat,” ucap liana.
"Aku tahu. Tapi apa tidak terlalu ceroboh jika kau langsung menunjukkan aura permusuhan mu dengan Lusy? Kau hanya memancing harimau yang sedang tertidur, untuk segera bangun," keluh Christopher khawatir.
"Bukankah selama ini mereka berpura-pura hidup sebagai warga negara yang baik? Pasti dia akan berpikir berkali-kali untuk menyerang ku saat ini," sahut Liana dengan entengnya.
Area tengah sudah dibersihkan dari para tamu undangan, karena acara akan segera dimulai. Tinggal Liana dan Christopher yang masih berdiri di salah satu sisinya.
“Kau tenang saja, Sepupu. Pesta baru akan dimulai. Sebaiknya kita cari tempat duduk terbaik untuk melihatnya,” seru Liana.
Gadis itu kembali merangkul lengan Christopher, dan mengajaknya mencari tempat duduk di antara para tamu yang hadir.
Sementara dari tempat duduk yang berada di sudut ruangan, seseorang terus melihat ke arah Liana dan Christopher yang terus berjalan bersama di acara tersebut, dengan tatapan dingin.
.
.
.
.
Nah lho kan... ada yang lihatin mulu🤭siapa yah kira-kira🤔tunggu besok lagi ya bestie.
oh ya, maaf kalau mulai slow lagi, soalnya lagi mikir balesan kek apa yang pas buat semua bazingan itu🙈
yang masih setia sama novel ku ini, othor ucapin makasih banya-banyak😘😘😘😘😘😘
pokoknya sayang kalian semua deh🥰🥰🥰🥰
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘