Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Welcome


__ADS_3

Q yang sedari tadi diluar pun masuk karena mendengar teriakan Falcon. Dia melihat bosnya sedang memarahi seorang perawat di sana.


“Ada apa, Kak? Kenapa kau berteriak seperti tadi?” tanya Q.


“Dia! Dia hanya diam melihat istriku kesakitan. Dia hanya meminta Liana bernafas dengan benar dan tak melakukan apapun. Kau bisa menyuntikkan obat penghilang rasa sakit atau apa agar dia tidak kesakitan lagi kan!” seru Falcon emosi.


“Kak, ikut aku sebentar. Sus, tolong temani nyonya ini,” seru Q.


“Baik, Dok,” sahut sang perawat.


Dokter itu pun membawa Falcon keluar dan memberi pengertian padanya.


“Apa yang kau lakukan? Istriku sedang kesakitan di sana dan kau malah menarik ku keluar? Aku akan kembali lagi kesana,” cecar Q.


“Untuk apa? Membuat keributan lagi? Kau tidak akan membantu kakak ipar sama sekali. Dia sudah memutuskan untuk melahirkan secara normal bukan? Itu artinya, dia sudah siap dengan konsekuensinya. Semua orang melahirkan pasti seperti itu. Kau memintanya diberi obat penghilang sakit? Itu sama saja kau membahayakan ibu dan anak. Kalau kau tidak siap menemani kakak ipar melahirkan, sebaiknya biarkan orang lain saja yang menemaninya,” tutur Q.


Dokter itu mencoba menasehati Falcon dengan cara yang sedikit keras, karena pria itu tidak sanggup melihat Liana kesakitan dan hanya dibiarkan saja.


Setelah lama terdiam, dia pun akhirnya memilih untuk kembali dan menemani sang istri. Rupanya Liana telah dipindahkan ke ruang perawatan VVIP yang juga telah disediakan peralatan persalinan. Di sana sudah ada mertuanya, Peter, yang dengan cepat menyusul ke rumah sakit.


“Ayah,” sapa Falcon.


“Kau sudah kembali, Nak? Apa kau mau menemani istrimu lagi?” tanya Peter.


“Iya, Ayah,” sahut Falcon.


Peter pun kemudian beranjak dari samping Liana dan membiarkan sang menantu menemani putrinya melewati masa-masa persalinan.


Sebelumnya, perawat berpesan bahwa cukup satu orang saja yang menemani di dalam, agar si ibu bisa fokus melewati fase tersebut.


Meski Peter juga tidak berpengalaman akan hal seperti itu, akan tetapi pria ini mencoba untuk tetap bersikap tenang sesuai arahan dari perawat.


Tiga jam berlalu sejak Liana tiba di rumah sakit. Wanita itu masih terus mengalami kontraksi yang semakin lama semakin menyiksanya. Setiap setengah jam, dokter akan datang dan melihat perkembangannya.


Falcon sampai tak tega melihat sang istri terus merintih kesakitan. Dia bahkan tak mempedulikan tangannya yang telah berdarah karena diremas dan tergores oleh kuku Liana sejak tadi.


Fokusnya hanya pada kondisi sang istri yang terus merintih kesakitan. Dia berkali-kali menciumi pelipis Liana, yang semakin lama semakin basah oleh keringat.


“Maafkan aku, Sweety. Aku telah membuatmu kesakitan seperti ini. Maafkan aku,” ucapnya lirih


Tuan Harvey serta yang lainnya telah datang, sejak mendengar kabar dari Peter bahwa cucu mantunya sedang dalam proses melahirkan. Mereka sudah lama menunggu di luar ruangan Liana.


Kakek Joseph pun sedang di dalam perjalan menuju ke Empire State dengan menggunakan pesawat jet pribadinya begitu mendengar kabar tersebut.


Semua menunggu Liana melahirkan dengan cemas. Sesekali Aster, sang nyonya kedua mencoba melihat ke dalam ruangan untuk memastikan kondisi Liana.

__ADS_1


Dia terharu karena Falcon dengan sabarnya menemani sang istri dan merelakan dirinya tersakiti seperti itu.


“Nak, biar kan aku menggantikan mu sebentar. Kau minum atau makanlah sesuatu dulu,” bujuk Aster.


“Tidak perlu, Nyonya. Aku akan terus menemaninya di sini saja,” tolak Falcon.


Dia enggan meninggalkan istrinya dalam kondisi seperti itu hanya untuk makan atau minum. Dia lebih memilih kelaparan dan kehausan demi menemani sang istri.


Aster tak bisa membujuk falcon lagi. Dia hanya bisa melihat Liana dan membantu mengusap-usap punggung wanita itu, untuk membantu mengurangi sakitnya.


Setidaknya, wanita itu sudah pernah merasakan bagaimana rasanya proses melahirkan, sehingga dia tahu apa yang perlu dilakukan untuk membantu sang ibu hamil tersebut.


Falcon yang melihat hal itu pun kemudian mengikutinya. Aster senang karena bisa membantu meski tidak banyak. Tapi setidaknya, dia bisa mengajari Falcon bagaimana menghadapi hal menegangkan ini.


Setengah jam kemudian, dokter kembali masuk dan memeriksa Liana. Tiba-tiba, dia memerintahkan suster untuk mempersiapkan peralatan melahirkan.


Semua orang menungggu dengan cemas saat Aster keluar dan mengatakan bahwa Liana akan segera melahirkan. Saat itulah, Kakek Joseph tiba dengan tergesa-gesa.


“Bagaimana cucuku? Apa dia baik-baik saja? Kenapa tidak operasi saja?” cecar kakek tua itu.


“Dia tidak mau, Tuan Wang. Nona Wang memilih untuk melahirkan secara normal,” jawab Q.


“Dasar. Anak ini benar-benar keras kepala,” gumam Kakek Joseph lirih.


Dia begitu tegang menunggu cucunya melahirkan. Tak hanya pria tua itu saja, melainkan yang lainnya pun sama.


“Saat terasa tekanan dari dalam, Nyonya dorong kuat-kuat dan jangan mengeluarkan suara. Oke, siap?” seru sang dokter.


Liana menggenggam tangan Falcon dengan erat. Saat waktunya tiba, Liana meremaas tangan itu kuat-kuat dan mengejan untuk mendorong bayi keluar.


Falcon mencoba tetap tenang, meski tangannya terasa hampir remuk karena remaasan Liana yang begitu kuat.


Percobaan pertama masih belum bisa. Liana nampak bernafas dengan terengah-engah. Saat kontraksi kembali datang, Liana kembali mencoba sekuat tenaga untuk mendorong bayi keluar, namun belum berhasil juga.


Barulah pada percobaan ketiga, terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruangan. Semua orang yang menunggu di luar nampak bernafas lega, dan mengucap syukur atas kelahiran anak pertama Liana yang masih dirahasiakan jenis kelaminnya.


Tak lama kemudian, seorang perawat keluar dan membawa bayi itu untuk dibersihkan dan dibawa ke ruang bayi.


“Sus, apa jenis kelamin bayinya?” tanya Tuan Harvey.


“Bayi ini berjenis kelamin laki-laki, Tuan,” jawab sang perawat.


Pria tua itu sangat senang mendengar hal itu. Semua orang merasa lega dan saling berpelukan. Tiba-tiba dari arah dalam, kembali terdengar suara bayi yang kedua.


"Lagi?" tanya Tuan Harvey.

__ADS_1


"Kembar! Cicit kita kembar! Hahahaha...," sahut Kakek Joseph.


Semuanya kembali bersorak, karena rupanya anak Liana dan Falcon kembar. Seorang pewarat kembali membawa bayi keluar, dan diserbu oleh kedua pria tua itu.


“Sus, kali ini bayi laki-laki atau perempuan?” tanya Kakek Joseph.


“Ini bayi perempuan, Tuan,” jawab sang perawat.


Semua kembali bersorak, karena Liana dan Falcon memiliki bayi kembar sepasang.


Setelah dibersihkan dan mendapat perawatan, perawat memperbolehkan semua orang untuk masuk dan menjenguk Liana.


“Silahkan semuanya bisa menjenguk pasien. Tapi tolong jangan terlalu ramai karena pasien harus istirahat setelah proses melahirkan yang panjang,” seru perawat.


“Baik, Sus,” sahut Peter.


Semua masuk dan melihat kondisi Liana yang masih lemah. Aster maju dan memberi pelukan selamat pada menantunya itu.


Kakek Joseph dan Tuan Harvey secara bergantian memberi selamat pada cucu mereka, karena berhasil melewati proses yang sangat menyakitkan itu.


“Kau hebat, Nak. Kakek bangga padamu,” ucap Tuan Harvey.


“Dasar anak nakal! Lain kali operasi saja. Buat orang cemas saja,” keluh Kakek Joseph.


Semua orang nampak bergembira. Setelah semua maju dan mengucapkan selamat, Peter memilih menjadi yang terakhir mendekati putrinya. Dia masih enggan terlalu dekat dengan dengan Liana di hadapan Kakek Joseph, karena pria tua itu seperti belum rela jika cucunya lebih akrab dengan ayahnya dari pada kakeknya.


“Selamat, Nak. Akhirnya, kau menjadi seorang ibu,” ucapnya.


Liana merentangkan kedua tangannya, pertanda meminta sang ayah datang dan memeluknya.


Peter pun tersenyum. Dia segera maju dan memeluk putri semata wayangnya yang masih tampak pucat dan lemah itu.


“Terimakasih, Ayah,” ucap Liana lirih.


.


.


.


.


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


 


__ADS_2