Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Twins L


__ADS_3

Suasana bahagia memenuhi ruang rawat Liana. Semuanya bergembira menyambut kelahiran penerus keluarga mereka. Karena sangkin ributnya, dokter sampai harus turun tangan dan memperingatkan kepada semua orang untuk memberi waktu sang ibu beristirahat.


Tuan Harvey dan Presdir Wang pun sangat menurut karena peduli dengan kondisi Liana. Mereka meninggalkan wanita itu bersama Falcon. Sedangkan mereka, memilih untuk pergi ke ruang bayi dan melihat kedua bayi lucu itu.


Di sana, terjadi kejadian yang sangat lucu antara kedua pria tua itu. Keduanya saling berebut memberi nama kepada makhluk kecil yang rapuh di dalam sana.


Mereka belum diperbolehkan masuk ke dalam, karena bayi masih dalam masa inkubasi dan pengamatan pasca lahir.


Semuanya hanya bisa melihat dari kaca besar yang tembus pandang, dan berdesakan mencari di mana bayi-bayi mungil itu di antara banyaknya bayi di sana.


“Itu! Itu cicit ku di sana. Tampan sekali. Lihat di sampingnya. Malaikat kecil yang cantik,” pekik Tuan Harvey


“Itu juga cicit ku. Lihat, wajahnya lebih mirip dengan ibunya,” tepis Kakek Joseph.


“Apa kau sudah rabun? Lihatlah, mereka lebih mirip dengan Alex. Lihat hidung dan bibirnya,” sanggah Tuan Harvey.


“Anda yang sudah rabun. Jelas-jelas mereka mirip ibunya,” kilah Kakek Joseph.


Keduanya terus berebut tentang siapa yang lebih mirip dengan kedua malaikat kecil itu, hingga membuat semuanya geleng-geleng kepala.


Setelah beberapa jam kemudian, kedua bayi itu dibawa ke ruangan sang ibu untuk mendapat asi pertamanya. Liana pun tampak telah lebih segar setelah istirahat sejenak dan memakan sesuatu.


Semuanya kembali berbondong-bondong masuk ke ruang rawat Liana yang super luas dan mampu menampung semua orang. Mereka sangat penasaran dan ingin menggendong kedua bayi kembar itu.


Seorang perawat mengambil bayi perempuan dan memberikannya pada Liana. Dia menarik tirai pembatas agar Liana bisa mulai belajar menyusui sekaligus merangsang keluarnya ASI dengan tenang.


Sementara itu, perawat menawarkan kepada Falcon untuk mencoba menggendong bayi laki-lakinya. Pria itu pun mengiyakan meski merasa ragu.


Dengan kakunya, dia menerima bayi merah itu dan menggendongnya. Rasa takjub dan haru memenuhi dada pria itu. Dia sampai berkaca-kaca memandangi putra pertamanya yang saat ini berada di gendongan.


“Putraku,” ucap Falcon haru.


“Siapa namanya?” tanya Peter.


“Namanya Leonard,” sahut Liana dari balik tirai.


“Leonard Alexander,” lanjut Falcon.


Kedua kakek yang sedari tadi ingin menggendong bayi itu pun ikut menyahut.


“Leonard Alexander Joseph,” timpal Presdir Wang.


“Leonard Alexander Joseph Harvey. Itu baru benar,” sahut Tuan Harvey.

__ADS_1


Semuanya tertawa melihat tingkah kekanakan kedua pria tua itu.


“Kakek, kenapa kalian merusak nama anakku? Aku dan suamiku susah-susah mencari nama yang bagus untuknya,” keluh Liana.


“Itu nama yang pas untuk anakmu, Nak,” sahut Tuan Harvey.


“Terima saja pemberian dari kami. Dasar tidak tahu berterimakasih,” gerutu Presdir Wang.


“Haih, lalu apa putriku juga akan bernasib sama?” tanya Liana.


“Siapa namanya?” tanya Aster.


“Luciana Alexander,” jawab Falcon.


“Luciana Alexander Joseph,” timpal Presdir Wang.


“Luciana Alexander Joseph Harvey. Itu baru benar,” sahut Tuan Harvey.


Liana menepuk keningnya mendengar mereka dengan seenaknya menamai putra dan putrinya. Sementara yang lainnya hanya terkekeh melihat tingkah kocak kedua kakek tua yang benar-benar lucu.


Setelah kedua bayi itu selesai menyusu, mereka kembali dibawa ke ruang bayi. Semua orang berbincang hingga Tuan Harvey menyinggung perihal pesta pernikahan yang tertunda cukup lama.


“Apa masih perlu, Kek?” tanya Liana.


“Iya, Nak. Kita harus memberitahukan kepada publik secara resmi soal hubungan kalian. Itu penting untuk kedepannya, Nak,” bujuk David.


“Mertuamu benar. Meskipun tertunda sangat lama, tapi itu bukan berarti terlambat untuk melaksanakannya,” sahut Peter.


Wanita itu melihat ke arah sang suami yang terus berada di sampingnya sejak tadi.


Falcon mengerti tatapan mata sang istri, dan mengusap puncak kepala Liana.


“Pulihkan dulu dirimu. Biarkan mereka semua yang mengurusnya. Kita ikut saja, hem,” seru Falcon.


“Hah, baiklah. Aku serahkan persiapannya pada kalian semua. Tapi ingat, aku tak mau yang biasa. Aku mau yang luar biasa. Pastikan itu,” seru Liana.


“Kau tenang saja. Ibu akan menyiapkan pesta yang sangat meriah dan mewah untuk mu. Kau cukup pilih mana yang kau suka saat ibu membawakan WO kemari,” sahut Aster.


Semuanya pun setuju.


...👑👑👑👑👑...


Masa pemulihan Liana berlangsung cepat, karena wanita itu menjalani persalinan normal, sehingga tidak banyak memakan waktu untuk bisa kembali beraktifitas seperti biasa.

__ADS_1


Meski mereka memiliki bayi kembar, namun kedua pria tua, Presdir Wang dan Tuan Harvey, selalu memberikan perhatian tak terhingga, dan membuat Liana mudah mengurus kedua bayinya.


Tak terasa, kini sudah hampir tiga pekan sejak Liana melahirkan. Liana masih memilih untuk tinggal bersama dengan ayahnya.


Hampir setiap hari, Aster diperintah oleh mertuanya datang membantu Liana mengurus anaknya, mengingat dia masih dalam proses pemulihan pasca melahirkan, ditambah ibu muda itu yang belum mau memakai jasa babysitter.


Tuan Harvey pun menyempatkan diri untuk datang mengunjungi mereka setiap harinya sepulang kerja, sedangkan Kakek Joseph akan datang di setiap akhir pekannya. Mereka menyempatkan diri untuk melihat kedua cicit mereka yang sudah mulai tumbuh menjadi bayi yang menggemaskan.


Keduanya sudah mulai aktif menendang-nendang. Peter menyiapkan satu kamar khusus untuk kedua cucunya, yang terkoneksi langsung dengan kamar kedua orang tuanya.


Dua orang babysitter telah disiapkan oleh Tuan Harvey untuk membantu Liana menjaga keduanya selama dua puluh empat jam. Awalnya Liana menolak, karena ingin merawat kedua anak kembarnya sendiri, akan tetapi semuanya khawatir jika Liana kewalahan, mengingat sifatnya yang mudah kesal dengan anak kecil.


“Aku bisa. Mana ada ibu yang akan menyakiti anaknya sendiri. Kalian benar-benar meremehkanku!” keluh Liana.


“Sweety, aku tahu kamu sangat menyayangi mereka. Tapi, mengurus satu bayi berbeda dengan dua bayi. Kau butuh bantuan orang lain,” bujuk Falcon.


Liana nampak kesal karena diremehkan, bahkan oleh suaminya sendiri. Falcon sebenarnya tak bermaksud seperti itu. Tapi dia takut Liana akan mengalami baby blouse, seperti yang pernah dikatakan oleh dokter kandungan sebelum Liana keluar dari rumah sakit, mengingat istrinya akan mengurus dua bayi sekaligus.


“Bagaiaman kalau begini saja, kau tetap merawat mereka sendiri, dan babysitter hanya menemani mereka bermain atau membantumu melakukan sesuatu. Semacam asisten."


"Kau bisa menyiapkan makan, memandikan, bermain apa pun dengan mereka. Sedangkan babysitter, mereka tetap berada di sekitar anakmu, dan hanya membantu bila mana kau butu bantuan. Bagaimana?” saran Peter.


“Begitu juga kedengarannya bagus. Bagaimana kalau kita coba dulu saja, Sweety. Aku lihat kau benar-benar kerepotan seharian tadi. Mau yah,” bujuk Falcon.


Liana masih diam. Dia kembali melihat kedua putra putrinya yang berada di dalam keranjang bayi, yang memang sengaja diletakkan di ruang tengah, agar saat sedang berkumpul, ada tempat untuk kedua bayi tersebut.


Tangannya meraih jemari putranya, dan segera digenggam erat oleh bayi mungil itu. Dia ingin seperti ibunya yang merawat seorang diri tanpa bantuan siapapun. Liana benar-benar terobsesi ingin menjadi ibu seperti Lilian.


Meskipun semua tahu, jika wanita itu sama sekali tidak ingat bagaimana sang ibu merawatnya, dan Lilian meninggal bahkan sebelum Liana mulai mengingat sesuatu.


Akan tetapi, perasaan Liana mengatakan jika ibunya pasti sangat menyayanginya, dan merawatnya dengan segenap jiwa raga, meski tak ada siapapun disampingnya.


.


.


.


.


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2