Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Diganggu


__ADS_3

Malam semakin larut, seiring bertambah ramainya dunia malam di kota-kota besar. Begitu pun di Golden City, sebuah tempat hiburan malam terbesar di sana, yang berjarak tak terlalu jauh dari Emerald Hotel, nampak seorang wanita duduk seorang diri di depan meja bar.


Dia terlihat sedang menghabiskan sebotol vodka sendirian, hingga tak peduli dengan tatapan liar para pria yang sedari tadi terus melihatnya, bak singa yang mengintai mangsanya.


Seorang pria terlihat mendekarinya dan duduk di kursi yang berada di samping gadis itu.


“Hai, Nona. Mau aku temani?” tanya pria itu.


Jessica yang sudah terlihat mabuk, menoleh ke samping dan memicingkan matanya, karena sudah tak bisa lagi melihat dengan jelas wajah orang tersebut.


“Siapa kau? Jangan coba-coba kurang ajar denganku,” ucap Jessica dengan gaya bicara khas orang mabuk.


“Tidak... Tidak... Aku hanya ingin menemanimu minum saja,” ucap pria itu.


Tangannya terulur dan mengusap sisa minuman di bibir bawah Jessica. Namun, gadis itu segera menipisnya.


Pria itu justru menyeringai, sambil menyesap ibu jarinya yang sempat menyentuh bibir gadis itu.


“Manis sekali,” ungkapnya.


Karena merasa terganggu, Jessica akhirnya turun dari kursi dan hampir saja terjatuh. Namun, pria tadi meraih pinggangnya, dan membuat gadis itu jatuh ke pelukan.


“Lepas!” ronta Jessica dengan tenaga yang begitu lemah.


“Tenanglah! Aku tidak akan menyakitimu,” ucap pria tadi.


Dia kemudian  memapah gadis itu keluar dari klub malam, dan membawanya menuju ke dalam sebuah motel yang berada tepat di seberang tempat tersebut.


Pria itu nampak memesan sebuah kamar, dan membawa gadis itu masuk ke dalam. Saat hendak membuka pintu, seseorang menepuk pundak si pria dari belakang.


Seketika, pria itu menoleh, dan tiba-tiba, sebuah pukulan melayang ke arah wajahnya, dan mengenai pria tersebut hingga tersungkur jatuh.


Jessica yang terlepas pun, seketika terhuyung, namun segera ditangkap oleh orang yang memukul pria tadi.


“Pergilah! Sebelum ku panggil polisi ke mari,” ucap orang itu.


Pria tadi pun pergi meninggalkan Jessica, berdua bersama dengan orang asing itu.


Samar-samar, Jessica melihat wajah orang yang menolongnya. Dia kemudian tersenyum, dan memajukan wajahnya, hingga bibir keduanya bertemu.


Pengaruh alkohol sudah merasuki Jessica, hingga dia terus menyerang orang tersebut, sampai orang tersebut pun ikut tersulut gair*h.


Keduanya pun masuk ke dalam kamar tadi, dengan h*srat yang telak memuncak dan akal sehat yang telah menipis.


...👑👑👑👑👑...

__ADS_1


Di tempat lain, terlihat empat orang tengah berbincang begitu akrab di sebuah restoran berbintang.


“Anda sangat mirip dengan Tuan Wang ketika masih muda. Begitu percaya diri dan ambisius,” ucap seorang pria yang tengah berada di tanya ketiga anak muda itu.


“Benarkah? Pantas saja Tuan Wang sangat senang dan selalu mendukung apapun yang gadis ini lakukan,” timpal Nona Shu.


“Ah, Kakak terlalu berlebihan. Itu semua karena kami kebetulan memiliki pemikiran yang sama. Itu saja,” sanggah Liana merendah.


“Saya sangat senang bisa bertemu dengan anak muda seperti Anda. Seorang yang cerdas, visioner tapi tetap rendah hati. Sangat berbeda dengan gadis yang sebelumnya,” ucap Tuan Harvey.


“Anda terlalu memuji saya. Saya bisa sombong nanti,” sahut Liana.


Semuanya pun tertawa mendengar jawaban malu-malu dari Liana.


“Untuk kejadian yang kurang menyenangkan tadi, kami selaku tuan rumah di kota ini mengucapkan mohon maaf. Kami harap, hal tersebut tidak lantas membuat Tuan Harvey enggan untuk datang berkunjung kemari lagi kedepannya,” lanjut Liana.


“Tentu tidak. Lagi pula, dia tidak ada hubungannya dengan rencana kerja sama kita,” ucap Tuan Harvey.


Liana dan Nona Shu saling pandang. Dalam hati, mereka khawatir apa yang akan terjadi, jika Tuan Harvey sampai tahu siapa Jessica sebenarnya.


Keduanya pun tersenyum begitu kaku, dan mencoba bersikap biasa saja.


Setelah makan malam selesai, mereka berempat berpisah di depan pintu lift, karena Tuan Harvey akan kembali ke kamarnya yang berada di hotel ini.


“Aku akan menunggu kalian berdua datang ke Royal State. Kita akan membicarakan kontrak kerja sama di kantorku. Tenang saja, aku akan menjamu kalian dengan baik di sana,” ucap Tuan Harvey.


“Aku menunggu kalian di sana. Sampai ketemu di Royal State,” ucap Tuan Harvey.


Pria tua itu pun kemudian masuk ke dalam lift bersama dengan sang asisten, dan meninggalkan Liana serta Nona Shu.


Kedua gadis itu membungkuk memberi hormat kepada Tuan Harvey, sampai pinti lift tertutup.


Terdengar helaan nafas panjang dari mulut Nona Shu, saat lift telah pergi membawa klien potensial mereka.


“Cucu Tuan Wang itu benar-benar hampir membuat makan malam ini berantakan. Untung saja kau bertindak cepat. Kalau tidak, pasti kita langsung ditolak sebelum mulai maju,” ucap Nona Shu.


“Jangan begitu, Kak. Itu karena dia belum biasa dalam hal bisnis seperti ini. Sepertinya, aku sudah gagal dalam mendidiknya,” ucap Liana.


Tampak gadis itu merasa bersalah, dan membuat Nona Shu menepuk pundaknya.


“Sudahlah. Ini bukan salah mu. Dia memang sudah aneh dari awal. Benar-benar menyusahkan,” ucap Nona Shu.


“Terimakasih ya, Kak,” sahut Liana.


“Sama-sama. Ayo kita pulang. Ini sudah cukup larut. Kita masih harus menyusun proposal kerja sama ini pekan depan,” ucap Nona Shu.

__ADS_1


Liana mengangguk. Mereka pun memutuskan untuk kembali ke kediaman masing-masing.


Bulan merangkak semakin naik. Saat ini jam menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.


Liana nampak berbelok menuju ke sebuah caffe, yang berjarak satu blok dari apartemennya.


Dia nampak keluar dari dalam mobilnya, dan berjalan memasuki tempat tersebut. Baru saja selangkah dia melewati pintu, seorang pria di ujung ruangan, nampak mengangkat tangannya dan melambai ke arah Liana berada.


Gadis itu nampak mendengus kesal, dan berjalan menuju ke arah pria tersebut.


“Apa kau tidak tau kata nanti?” keluh Liana begitu dia sampai di depan meja itu.


Pria tersebut nampak berdiri, dan menarikkan kursi untuk Liana.


“Datang-datang langsung ngomel-ngomel,” sahut pria itu.


Liana duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh pria tadi.


“Duduk saja! Jangan tunggu aku untuk berterimakasih,” ucap Liana ketus.


“Kau ini,” sahut pria itu.


Dia pun kembali ke tempat duduknya yang berada di seberang Liana.


“Di mana Nine?” tanya Liana.


“Dia menggantikan ku menjaga kota. Kenapa? Kau merindukannya?” tanya pria yang tak lain adalah Falcon.


“Kenapa tidak? Dia cukup tampan,” sahut Liana.


“Tapi, aku lebih mempesona bukan,” ucap Falcon penuh percaya diri.


Liana nampak menahan senyumnya, saat mendengar perkataan dari pria yang saat ini duduk di hadapannya itu.


 .


.


.


.


Tinggal 1 lagi ya🤭sabar yah😁


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2