
Beberapa hari berlalu, Kakek Joseph yang keras kepala, terus memaksa untuk pulang ke rumah besarnya di dream hill.
Para dokter dan Jimmy sudah berusaha untuk membujuknya agar tetap berada di rumah sakit untuk sementara ini. Namun, pria tua itu tetap bersikeras pulang, dan bahkan mengancam akan kabur jika tetap dilarang pulang.
Alhasil, Kakek Joseph pun dibawa pulang kembali menggunakan helikopter pribadinya menuju ke hutan pinus di sisi timur negara bagian A.
“Kakek, kenapa Anda keras kepala sekali? Apa Anda suka jika membuat orang lain khawatir?” gerutu Liana saat dia baru saja sampai di mansion keluarga wang, karena mendengar berita jika Kakek Joseph sudah pulang.
Nampak kamar mewah bernuansa klasik modern itu, kini dipenuhi dengan peralatan medis yang cukup mengganggu pemandangan.
Liana hanya mampu menghela nafas berat, melihat sikap arogan dari pria tua sakit-sakitan di depannya.
“Dasar cerewet! Kalau orang lain melihat ini, mereka berpikir kalau kau adalah cucuku. Hahaha...,”kelajar Kakek Joseph.
“Bagaimana kalau kita anggap saja itu benar? Aku cucu Kakek, dan aku meminta Kakek untuk segera dioperasi,” sahut Liana cepat bahkan menyela tawa kakek tua itu.
Joseph tampak diam. Raut wajah yang tadi sempat terbahak, kini berubah serius dan menatap tajam ke arah Liana.
“Aku memang sudah memperlakukanmu seperti cucu ku sendiri, tapi jangan pernah memintaku untuk menggantikan posisinya dengan mu. Ingat itu!” seru Joseph.
“Terserah Kakek. Tapi kalau dia cucu yang baik, apapun yang terjadi dengan Anda, dia pasti akan lebih senang jika Kakek sedikit peduli dengan diri Kakek sendiri. Coba bayangkan, sekarang Kakek selalu menolak operasi, dan membuat tubuh Kakek semakin rusak dengan obat-obatan itu. Kalau Kakek mati lebih dulu sebelum menemukan cucu Kakek bagaimana? Apa tidak akan menyesal di akherat?” cecar Liana.
“Apa bedanya dengan mati penuh penyesalan di meja operasi? Sama saja tidak bisa bertemu bukan?” debat Kakek Joseph.
“Ada bedanya, Kek. Ada bedanya! Jika Kakek dioperasi, setidaknya akan ada harapan Kakek untuk bisa hidup lebih lama lagi, dan mungkin saja dengan begtu, kesempatan Kakek untuk bertemu dengan cucu Kakek semakin besar. Apa tidak terpikirkan seperti itu, Kek?” tanya Liana.
“Sudahlah. Jangan ikut campur urusanku. Kau keluar, dan cukup urusi perusahaanku saja,” seru Joseph ketus.
“Baiklah. Tapi ku harap, Kakek mempertimbangkannya lagi. Jangan sampai, ketika cucu Anda ditemukan, Kakek justru sedang sekarat dan semuanya akan sia-sia,” ujar Liana.
Joseph tak menimpali. Dia memilih untuk berpura-pura tak mendengar dan menutup matanya.
Liana pun keluar dan berjalan ke arah pintu depan. Langkahnya terhenti saat melihat sosok Jimmy yang tengah berasa di gazebo samping, dan nampak serius berbicara dengan seseorang dari sambungan telepon.
__ADS_1
Gadis yang serba ingin tau itu pun kemudian berbelok, dan berjalan mendekat ke arah tempat Jimmy berada, namun dengan tetap menjaga jarak agar pria itu tidak menyadari keberadaannya.
“Kenapa lama sekali? Mereka di Grey Town dan itu sudah sangat dekat dengan kita!” seru Jimmy.
Dia kemudian tampak mendengarkan dengan seksama orang yang berada di ujung sambungan.
“Apa tidak ada pilihan lain? Kenapa Smith tidak bisa diandalkan. Bukankah dia juga berkuasa di sana?" tanya Jimmy.
Pria itu nampak memijat pelipisnya, sambil mendengarkan jawaban dari seberang.
"Kau tau sendiri kalau itu mustahil. Falcon pernah ribut dengan kita gara-gara masalah Victor empat tahun yang lalu. Cari cara lain untuk menemukan wanita itu. Kita sudah tak bisa menunggu lagi. Secepatnya harus temukan cucu tuan besar,” ucap Jimmy.
Liana mengerutkan keningnya, mendengar nama Falcon disebut oleh pria yang selalu dingin padanya itu.
Dia kemudian pergi dari tempatnya, sementara Jimmy masih berbincang melalui sambungan telepon dengan seseorang di ujung sambungan sana.
...👑👑👑👑👑...
Golden City, gedung Wang Construction. Ruangan kepala bagian perencanaan yang kini ditempati oleh Liana, setelah sebelumnya diduduki oleh kepala bagian Feng yang berakhir dipecat dari pekerjaannya, dan bahkan kini karirnya di bidang pembangunan merosot drastis, akibat kecurangan yang dilakukannya di masa lalu.
Namun, tak bertahan lama, hanya setengah tahun, kemudian arsitektur itu mundur dari jabatan tersebut dan memilih kembali menjadi bagian dari tim produksi.
Akhirnya, Liana yang saat itu sedang naik daun pun dipilih menjadi kepala bagian yang baru sampai saat ini.
Setelah pergi dari rumah besar di dream hill, Liana memutuskan untuk kembali ke kantor. Awalnya dia berencana menginap di mansion mewah tersebut, dan menemani kakek tua itu di sana. Namun dia urungkan, karena melihat sikap Kakek Joseph yang sudah membuatnya kesal.
“Hah, kalau dipikir lagi memang benar ini bukan urusanku. Tapi, entah kenapa aku jadi emosi kalau kakek tua itu selalu menyamping kan kondisi kesehatannya. Mungkin aku masih jadi manusia karena punya rasa peduli dengan orang lain,” gumam Liana setelah sampai di ruangannya.
Dia nampak memejamkan mata lalu menyandarkan punggungnya di kursi, dan memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.
Perjalanan pulang pergi antara Golden City dan Dream Hill cukup membuatnya kelelahan, karena paling tidak memakan waktu kurang lebih dua jam perjalanan, belum termasuk jika harus terjebak macet di jalan.
Sebuah ketukan di pintu membuat kedua netranya terpaksa ia buka kembali.
__ADS_1
“Masuk!” serunya.
Seseorang dari tim produksi, nampak membuka pintu dan masuk sambil membawa sebuah map yang berisi berkas yang cukup tebal.
“Maaf, Nona Wu. Saya membawakan ini untuk Anda,” ucapnya sambil menyerahkan map tersut kepada Liana.
“Ini tentang sebidang tanah di bagian selatan Bronze District itu bukan?” tanya Liana.
“Betul, Nona Wu. Ini adalah area yang akan menjadi lokasi pembangunan Golden Hospital. Semua informasi dari tempat tersebut ada di dalam sana,” sahut orang itu.
“Baiklah. Tinggalkan saja disini. Biar nanti aku pelajari,” seru Liana.
Orang itu pun pergi keluar dan meninggalkan Liana yang masih memikirkan kondisi kesehatan Kakek Joseph.
“Falcon! Apa aku harus ke Grey Town sendiri untuk mencarinya? Tapi kudengar, di sana sangat berbahaya,” gumam Liana.
Dia terus memikirkan perkataan Jimmy, yang mengungkapkan bahwa Kemungkinan cucu Kakek Joseph saat ini sedang berada di Gery Town, dan hanya Falcon lah yang bisa membantu mereka menemukannya.
“Mungkin memang sebaiknya aku ke sana dan minta balas jasanya atas kejadian malam itu. Jika aku behasil membawa kembali cucu kakek, anggap saja aku juga sedang membayar hutang budi ku pada beliau,” ujar Liana pada diri sendiri.
Dia pun kemudian meraih kunci mobilnya dan bergegas menuju ke kota penuh mafia, Grey Town, seorang diri.
.
.
.
.
ada yang bisa nabur kembang di novel ini nggak yah? kembang sekebon juga boleh🤭malak lagi deh😁
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘