
Beberapa saat yang lalu, Liana mendapatkan informasi mengenai sebuah pabrik pengadaan bahan baku bangunan dari salah seorang pekerja yang bekerja di proyek Paradise.
Jika diingat lagi, Liana tak mengenal pekerja tersebut. Namun, dia sama sekali tak menaruh curiga dan berpikir jika itu adalah salah satu pekerja yang disiapkan oleh The Palace.
Namun, saat Falcon menanyakan perihal asal informasi tersebut, barulah dia mengetahui jika ada yang aneh dengan informasi tersebut. Akan tetapi, Liana tetap berencana untuk pergi ke sana sendiri.
Dia tak mau melibatkan Falcon secara langsung, karena pria itu pasti akan bertindak agresif, saat orang dibalik semua informasi ini muncul.
Seusai pekerjaannya di proyek hari itu selesai, Liana pergi seorang diri dengan menumpang sebuah taksi. Sejak awal, Liana memang sudah curiga dengan informasi pabrik tersebut, dan terus bersikap waspada. Dia bahkan mengirimkan sebuah pesan kepada Chip untuk meretas ponselnya, namun konsekuensinya sinyal ponsel akan sulit dilacak, begitu juga dengan sistem GPS.
Dia melakukan hal tersebut agar bisa menyimpan bukti, jika sesuatu yang berburuk terjadi padanya saat itu. Itulah sebabnya, dia memasukkan benda pipih tersebut ke dalam saku celana bagian belakang, agar tak mudah ditemukan oleh orang lain.
Sepanjang jalan, Liana terus memperhatikan kawasan sekitarnya, seolah tengah membuat jalur melarikan diri, jika terjadi penyergapan dan mengharuskannya menjadi pelarian.
Gadis itu benar-benar mempersiapkan semuanya, dan bahkan menyusun skenario terburuk jika nyawanya terancam. Semuanya ia persiapkan dengan sedetail mungkin dalam waktu yang begitu singkat.
Sesampainya di lokasi yang disebutkan oleh si pekerja bangunan, Liana melihat sebuah danau kecil yang terletak di tengah hutan, dengan sebuah pondok kayu kecil di tepinya.
__ADS_1
Mesin mobil dimatikan, namun Liana tak kunjung turun. Dia melihat ke sekitar, namun tak merasakan kehadiran orang lain di sana. Akhrinya, otak cerdansya menangkap sesuatu yang aneh pada diri sang supir taksi.
Dia pun beralih memperhatikan sang supir dari kursi belakang, melalui kaca spion depan.
“Kau bisa buka topimu sekarang, Tuan supir!” seru Liana.
Supir itu pun mengangkat wajahnya dan melihat Liana, yang telah lebih dulu menatap tajam ke arah pantulannya melalui kaca spion depan.
Sebuah seringai terlihat dari wajah pria, yang telah mengantarkan Liana ke tempat terpencil itu. Dia kemudian membuka topinya, hingga Liana pun bisa melihat wajahnya dengan sangat jelas.
“Halo, Nona Wang. Kita bertemu lagi,” ucapnya.
“Tidak perlu basa basi lagi! Katakan saja tujuanmu membawaku ke mari, Tuan Jung,” ucap Liana.
Gadis itu pun berusaha untuk tetap tenang di depan musuhnya, agar dia bisa memikirkan cara untuk melawan pria itu tanpa harus terluka sedikit pun.
“Aku yakin kau pasti sudah tahu tujuanku,” sahut Moses.
__ADS_1
“Yah, ini pasti rengekan dari nyonya besar itu. Ah... atau harus ku panggil dia kekasih gelapmu?” balas Liana.
Moses terbahak mendengar sindiran dari Liana.
“Aku yakin kau pasti sudah bertemu dengan ayahmu dan mendengarkan semua darinya. Bagaimana kabar pria itu? Apa dia masih sekarat atau mungkin justru sudah meninggal?” tanya Moses dengan entengnya.
“Kau bisa tau kalau sudah sampai ke alam baka,” sahut Liana tak kalah pedas.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘