
Malam itu, Liana tak bisa kembali memejamkan matanya. Pikirannya terus saja tertuju pada Kakek Joseph. Dia ingin segera kembali ke Dream Hill, dan memberi tahu kan pria itu semua yang telah diktehuai Liana hari ini.
Christopher pun ikut terjaga semalaman, dan mengawasi liana dari sofa yang ada di seberang kamar tidurnya.
Dia teringat kembali saat dirinya tengah mencoba bercerita tentang Liana menurut pandangannya, dan berharap gadis itu tersentuh oleh perjuangannya selama ini untuk mencari dirinya.
Namun, Liana yang selalu berkeras hati, tak merespon sedikit pun kata-kata Christopher, hingga pemuda itu memilih menyudahi ceritanya.
Dia mencoba menawarkan makan malam untuk Liana, karena gadis itu belum makan apapun sejak dari siang. Namun lagi-lagi, Liana memilih diam dan tak menghiraukan niat baik dari Christopher.
Akhirnya, pemuda itu pun menyerah. Dia tak lagi membujuk Liana, melainkan hanya meletakkan beberapa lembar roti yang sudah diolesi selai, dan segelas susu coklat hangat di atas nakas, berharap jika gadis itu mau mengisi perutnya barang sedikit.
Lama mereka diam, hingga tak sadar jika keduanya pun kembali terlelap dalam posisi yang sama, di tempat masing-masing.
...👑👑👑👑👑...
Keesokan harinya, badai telah berlalu, berganti dengan mentari yang bersinar cukup cerah di pagi itu. Sisa-sisa badai semalam kasih terlihat jelas di seluruh penjuru kota.
Banyak ranting pohon patah, bahkan ada pula yang tumbang dan terlepas hingga ke akarnya, serta menimpa semua yang ada di sekitarnya.
Dedaunan pun rontok dan menimpa apapun di bawahnya, tak terkecuali mobil Liana yang terparkir di area parkir luar apartemen.
Gadis itu bangun karena terusik oleh cahaya mentari yang masuk melewati celah tirai jendela, dan juga suara bising dari petugas kebersihan kota serta para tetangga yang tengah melihat sisa-sisa badai semalam.
Liana pun bangun dan bergegas menuju ke kamar mandi. Dia mencuci mukanya dan memastikan jika dirinya telah sadar sepenuhnya.
Setelah itu, dia kembali ke kamar, dan meraih tas beserta kunci mobil. Dengan segera, gadis itu keluar dari kamar, dan bermaksud meninggalkan Christopher yang masih nampak tertidur pulas.
Tak disangka, tas yang dibawanya justru menyenggol pemuda itu dan membuatnya segera terbangun, terlebih saat melihat jika Liana sudah siap untuk pergi dari tempatnya.
“Kau sudah mau pergi?” tanya Christopher.
Pemuda itu bangun dengan terburu-buru, hingga tak menghiraukan kepalanya yang masih terasa pusing.
Sedangkan Liana, gadis itu terus berjalan menuju ke pintu depan, dan tak menghiraukan orang yang sduah memberinya tumpangan semalam tadi.
__ADS_1
Karena tak juga direspon oleh Liana, akhirnya Christopher meraih tangan gadis itu dan menahannya untuk pergi.
Liana menoleh dan meronta ingin melepaskan tangannya dari cengkeraman Christopher.
“Lepas!” seru Liana dingin.
“Apa kau akan pergi dengan kondisi seperti ini? Setidaknya makanlah dulu. Kau bahkan belum mengisi perutmu sejak kemarin,” ucap Christopher.
“Apa pedulimu. Urus saja urusanmu sendiri,” sahut Liana ketus.
Gadis itu tetap meronta, hingga membuat Christopher akhirnya melepas cengkeraman tangannya.
“Tunggu di sini!” seru Christopher.
Dia berbalik dan masuk ke dalam kamarnya. Tak lama kemudian, dia keluar dengan membawa sepasang sepatu.
Dia kemudian tiba-tiba berjongkok begitu saja di depan Liana, dan membuat gadis itu mundur selangkah.
“Setidaknya, pakailah alas kaki saat kau pergi keluar rumah. Kau bahkan tak peduli dengan kakimu yang lecet karena berlarian kesana kemari tanpa sepatu,” ucap Christopher.
“Apa sudah selesai?” tanya Liana datar, saat melihat Christopher masih diam meski kedua sepatu sudah terpasang.
Pemuda itu pun lalu bangkit dan berdiri di hadapan Liana, dengan senyum yang terlihat getir.
“Hati-hati di jalan,” ucap Christopher.
“Terimakasih,” sahut Liana cepat.
Gadis itu pun tak menunggu lagi. Liana segera pergi meninggalkan Christopher di apartemennya, dan berjalan ke arah parkiran yang berada di luar.
Kondisi masih begitu berantakan di sana. Petugas kebersihan kota pun tengah bekerja untuk menyingkirkan ranting-ranting serta menyapu dedaunan yang jatuh akibat badai besar semalam.
Gadis itu tak terlalu peduli dengan banyaknya warga yang tengah berkerumun melihat sisa-sisa amukan alam itu. Fokusnya hanya satu, secepatnya kembali ke negara bagian A dan menemui Bibi Caroline terlebih dulu.
Dia harus merebut kembali kalung ibunya sebelum bicara dengan Kakek Joseph, barulah dia bisa mengakui siapa dia sebenarnya di hadapan keluarga satu-satunya yang tersisa.
__ADS_1
Setelah masuk ke dalam mobil, Liana mengambil ponselnya yang sedari semalam mati. Dia tak bisa mengisi daya di dalam sana, karena pemadaman sampai saat ini masih berlangsung. Gadis itu pun menyambungkan kabel charging yang ada di mobil ke ponselnya, setelah itu dia melajukan mobilnya pergi dari area tersebut.
Saat hendak keluar kota, Liana kembali melihat jika jalanan terlihat begitu lengang. Tak ada satu pun mobil yang melintas, baik dari dalam maupun luar kota.
Sesampainya di pos penjagaan, Liana menurunkan laju kecepatan, karena seorang petugas menghadang mobilnya kembali.
“Permisi, Pak. Badainya sudah berhenti, tapi kenapa saya masih tidak bisa lewat?” tanya Liana.
“Maaf, Nona. Ada longsoran tebing serta beberapa pohon tumbang yang menutup jalan akibat badai semalam. Saat ini, tim evakuasi tengah membersihkan sisa longsoran tersebut. Mohon Anda menunggu sebentar hingga jalanan kembali bisa dilewati,” tutur petugas lalu lintas.
“Longsor?” ucap Liana setengah memekik.
Dia tak percaya, jika ada saja hal yang menghalanginya untuk segera pergi ke negara bagian A.
Kali ini, Liana memilih untuk menunggu di pinggir jalan tak jauh dari pos penjagaan, agar saat jalan kembali di bukan, dia bisa segera pergi dari sana.
Saat cukup lama menunggu, dia kembali teringat ponselnya. Liana pun melihat jika baterainya sudah terisi setengah. Gadis itu pun menghidupkannya.
Tak berselang lama, semua notifikasi masuk begitu banyak ke ponselnya. Mulai dari panggilan tak terjawab hingga pesan teks serta pesan chat dari aplikasi percakapan.
Liana melihat banyak sekali panggilan tak terjawab dari nomor asing, yang terakhir kali menelponnya sesaat sebelum keluar dari mansion Dream Hill.
“Nomor siapa ini?” gumamnya.
.
.
.
.
Ada aja halangannya yah🙈Sabar ya gais, nggak seru dong kalo cepet selesai masalahnya 🤭
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘