
“Katakan kondisinya!” seru Liana.
Q menurunkan tangannya dan berdehem, karena sapaannya tidak dibalas sama sekali oleh Liana. Gadis itu justru bertanya degan ekspresi yang datar dan dingin, membuat siapa pun pasti jadi salah tingkah.
“Ehm... Ehem... Sebelumnya perkenalan, namaku Lion Law. Seperti yang kau tahu, aku punya nama lain untuk dunia kakakku, tapi tolong panggil aku Lion saja saat kita berpapasan di jalan. Kau tahu, aku ini memiliki profesi resmi dan bersih,” ucap Q.
Liana masih diam dan menunggu jawaban atas pertanyaan yang sudah diajukan sebelumnya.
Q pun kembali dibuat berdehem, demi menghilangkan kegugupannya. Aura Liana benar-benar mengintimidasi siapa pun yang berhadapan dengannya, terlebih jika dia sudah memasang wajah seriusnya.
“Ehem! Baiklah, aku akan katakan padamu kondisinya yang sebenarnya. Saat ini dia masih belum sadarkan diri. Tubuhnya begitu lemah. Aku khawatir dia sudah terlalu banyak meminum obat yang sedikit demi sedikit merusak tubuhnya. Ditambah serangan yang dia dapatkan begitu brutal, dan membuat hampir seluruh tubuhnya babak belur. Meski tidak ada tusukan atau tembakan, namun luka-luka itu cukup untuk membuat organ dalamnya hancur,” ungkap Q.
Falcon semakin mengeratkan rangkulannya, seolah memberi dukungan dan kekuatan pada kekasihnya untuk menerima kenyataan tersebut.
“Apa masih bisa untuk disembuhkan?” tanya Liana.
“Aku termasuk dokter yang polos, berjiwa putih seperti malaikat dan percaya akan keajaiban. Kesembuhan seseorang, tidak hanya bergantung pada kemampuan dokter yang merawatnya saja, melainkan dukungan dari orang terdekat dan juga motivasi dari dirinya sendiri untuk sembuh seberapa besar. Aku telah mencoba merawat luka luarnya, dan sekarang giliran kau yang merawat jiwanya,” jawab Q.
__ADS_1
Liana terdiam sejenak saat mendengar perkataan dari sang dokter yang telah menyelamatkan ayahnya.
“Biarkan aku masuk ke dalam,” seru Liana.
Q menoleh ke arah Kenny yang berada di samping pintu. Dia memberi isyarat anggukan kepala, seolah meminta sang wartawan untuk membukakan papan kayu tersebut.
Falcon dan Liana kembali menoleh bersamaan ke arah kamar, di mana terlihat dengan jelas sosok pria yang penuh dengan balutan perban, tengah terbaring tak sadarkan diri.
“Masuklah! Temani ayahmu,” ucap Falcon.
Liana berbalik. Dia perlahan melangkah dan masuk ke dalam. Gadis itu terlihat menurunkan badannya sedikit-demi sedikit, hingga akhirnya duduk di samping tubuh ayahnya.
Mereka berjalan mengikuti Q yang pergi menuju teras depan. Sebuah lonceng angin bambu terus berbunyi seiring tiupan angin laut di sekitar sana.
“Sepertinya, ini ulah dari Ketua Jung, Bos,” ucap Q kemudian.
Falcon memilih berdiri di sisi lain teras, sementara Kenny duduk di salah satu kursi rotan yang ada di sana.
__ADS_1
“Apa ada bukti?” tanya Falcon.
“Menurut Chris, ini ulah orang-orang suruhan dari kakeknya, dan setahuku, Ketua Jung, mantan bos Jupiter lah yang sekarang memegang posisi keamanan keluarga tersebut. Bukankah dulu saat meminta Chris pulang, dia juga menggunakan orang-orang Ketua Jung untuk menculik Nona Wang dan menjadikannya sandra?” sahut Kenny.
“Bos, ku dengar, Kakak ipar adalah putri pria itu. Bukankah berarti dia cucu dari keluar Chen. Tapi, kenapa pria itu justru diburu hanya karena ingin bertemu dengan putrinya?” tanya Q yang memang belum tahu kisah Liana yang sesungguhnya.
Terdengar helaan napas yang panjang dari mulut Falcon saat memikirkan masalah gadisnya ini.
“Sementara, fokus kita adalah menjaga pria bernama Peter itu, dan juga Liana. Karena aku punya firasat, setelah gagal mendapatkan Peter, kemungkinan besar mereka akan mengincar Liana sebagai umpan,” seru Falcon.
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘