Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Sebuah keributan


__ADS_3

Lampu kota di seluruh penjuru Golden City telah menyala sepenuhnya. Bahkan cahaya sang ratu malam pun seolah terlihat begitu pias di atas sana.


Di sebuah gedung pencakar langit, hotel bintang lima berkelas dunia, Emerald Hotel, nampak seorang gadis tengah duduk di lobi bersama seorang gadis lainnya.


Mereka nampak berpakaian smart casual, dan berbincang ringan mengenai suatu hal yang akan mereka sajikan kepada seorang klien.



...Liana...



...Nona Shu...


Nampak beberapa berkas berada di atas meja, dan mereka pun saling mempelajari dan bertukar pandangan tentangnya


Seorang pria memakai setelan jas hitam, dengan gaya rambut Layered Undercut, dengan bagian atas yang lebih terkesan tebal,  dan bola mata kebiruan, datang menghampiri ke dua gadis itu.


“Permisi, apakah Anda Nona Wu dan Nona Shu dari Wang Construction?” tanya pria itu.


“Benar. Apa Anda Tuan Jack?” tanya Liana.


“Benar. Tuan Harvey meminta saya untuk mengantar Anda berdua menunggu di atas. Mari ikut saya,” ucap pria tersebut.


“Baiklah,” sahut Liana.


Mereka berdua pun membereskan semua berkas, dan kembali memasukannya ke dalam. tas.


“Kak, tolong kau bereskan sisanya. Aku harus menghubungi Jessica terlebih dulu,” ucap Liana.


“Baiklah. Suruh dia datang cepat. Merepotkan  sekali. Di saat seperti ini malah terlambat,” gerutu Nona Shu.


Liana hanya tersenyum kaku, saat mendengar gerutuan dari karyawan senior di perusahaan Wang.


Liana pun mengirimkan pesan kepada Jessica, agar gadis itu segera menuju ke tempat pertemuan di restoran rooftop, yang masih berada di area hotel


Setelahnya, Liana kembali membantu Nona Shu untuk membereskan semuanya, kemudian pergi bersama dengan pria bernama Jack tersebut.


“Apa Tuan Harvey sudah di sini?” tanya Liana.


“Kebetulan kami memang menginap di sini, dan saat ini, Tuan sedang berada di kamarnya. Beliau masih ada urusan, dan akan segera menyusul saat urusannya telah selesai,” jawab Jack.


“Baiklah,” sahut Liana.


Mereka menaiki lift hingga tiba di lantai paling atas. Liana ingat dengan betul, jika bagian atas hotel, di design untuk ruang terbuka hijau.

__ADS_1


Namun, dia sudah lama tak datang ke sana, dan baru mengetahui jika di bagian tersebut telah dibuat sebuah restoran bergaya terbuka.


Saat mereka mulai melangkah masuk, Liana yang merancang bangunan itu sendiri, bahkan takjub dengan apa yang dilihatnya saat ini.


Sebuah restoran yang berada di atas sebuah gedung bertingkat dengan puluhan lantai, namun tampak seperti sebuah Garden Restorant, dengan semua kehijauan yang ada di sana.


Suasana alami berpadu dengan gaya berkelas tinggi, menciptakan sebuah sensani makan yang sudah pasti terkesan mewah.


“Wah! Rupanya mereka tidak merubahnya, tapi justru mempercantik nya. Aku suka,” gumam Liana yang terlihat begitu senang.


“Yah, hasil karyawan memang selalu menakjubkan,” sahut Nona Shu lirih.


“Ei, kakak jangan memujiku. Nanti aku sombong,” sahut Liana.


Keduanya tertawa lirih di belakang Jack yang berjalan di depan, membimbing kedua gadis itu.


Sesampainya di sebuah meja, Jack mempersilakan keduanya untuk duduk, dan dia pun turut menemani kedua gadis itu.


Nampak pria itu mengangkat tangannya untuk memanggil seorang pelayan. Sesaat kemudian, seseorang datang dengan membawa buku menu ke meja, di mana Liana dan rekannya berada.


“Silakan, Tuan,” ucap pelayan itu.


“Nona Wu dan Nona Shu, silakan pesan terlebih dahulu. Mungkin Tuan Harvey akan sedikit terlambat, sebaiknya Anda berdua bersantai dulu sejenak,” seru Jack.


Liana dan Nona Shu pun memesan minuman terlebih dulu, untuk menemani waktu menunggu mereka.


Jika makan malam ini berkesan baik, maka kerja sama bisa dibicarakan pada pertemuan selanjutnya.


Nampak dari arah pintu masuk, seorang gadis datang dengan penampilan yang begitu seksi dan glamour. Dia melihat ke sekeliling tengah mencari seseorang.



Dari kejauhan, dia melihat Liana dan seorang gadis lain tengah berbincang akrab, dengan pria yang bertampang begitu mempesona, dengan setelan hitamnya.


“Wah, tampan sekali. Gayanya benar-benar berkelas. Toilet mana, toilet? Aku harus memastikan penampilan ku tidak memalukan,” gumam gadis berpakaian seksi itu.


Dia kemudian berbalik dan berjalan hendak ke toilet. Namun, saat berjalan, dia tak melihat ke depan, melainkan berkali-kali menoleh ke belakang, dan melihat ke arah pria yang tengah duduk di sana.


Hingga akhirnya, dia menabrak seseorang yang saat itu hendak masuk ke dalam restoran. Gadis itu pun memekik kesakitan, karena benturan yang terjadi cukup keras, bahkan orang yang tertabrak sampai terdorong dan membentur kusen pintu.


Beruntung, ada seorang pelayan restoran yang bertugas menyambut tamu, menangkap orang malang tersebut, hingga ia tak sampai jatuh ke lantai.


Gadis itu melihat jika pakaiannya sedikit kusut, serta rambutnya pun sedikit berantakan akibat benturan tadi. Dia mendengus kesal, dan dengan arogannya memarahi orang yang ditabraknya tadi.


“Anda punya mata tidak sih? Jalan seenaknya begitu. Apa tidak lihat kalau ada orang di depannya?” omel si gadis seksi sambil berkacak pinggang.

__ADS_1


Orang yang sepertinya berusia cukup tua, sekitar beberapa tahun saja di bawah Kakek Joseph, nampak kebingungan dengan sikap gadis di depannya.


“Nona, kau sendiri yang tidak melihat ke depan tadi. Aku lihat sendiri kalau kau terus menoleh ke belakang, sementara kau berjalan terus ke depan,” sanggah pria tua itu.


Gadis itu mengernyitkan keningnya, seolah menyadari jika perkataan pria tersebut memang benar adanya. Namun, sikap sombongnya, membuat dia tak mau disalahkan atas semua ini.


Dia pun mencoba mencari sesuatu yang bisa mengalihkan pembicaraan, dan membuat pria tua malang itu tak bisa melawannya.


Si gadis seksi kemudian melihat orang itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Nampak gaya berpakaian si pria tua begitu biasa dan terlewat santai, untuk datang ke tempat semewah ini.


Hanya dengan kemeja lengan pendek sederhana, serta celana pendek selutut, di tambah sepatu selop yang terlihat butut, menjadi outfit pria itu.



“Hem, hanya seorang pria tua yang miskin, sok-sokan datang ke tempat mahal seperti ini. Hei, Pak tua. Ini bukan tempat untukmu. Sebaiknya, kau pergi saja, dari pada merusak pemandangan bagus di sini,” ejek gadis itu.


Si pria tua terlihat menghela nafas, mendengar ocehan dari gadis itu, yang sangat merendahkan dirinya.


“Anak muda. Dunia ini sangatlah luas, dengan berbagai macam jenis manusia di dalamnya. Jika pandanganmu sesempit itu, maka kau selamanya tak akan bisa berkembang,” ucap pria tua itu.


“Peduli apa dengan semua omongan mu itu. Hei, pelayan, cepat usir dia dari sini. Kalian mau bisnis kalian hancur, gara-gara membiarkan orang rendahan ini di sini, hah!” maki Jessica.


Saat keributan semakin mengundang rasa penasaran para pengunjung, Liana dan juga kedua orang yang bersamanya pun, penasaran dan turut menghampiri kerumunan tersebut.


Saat mereka mencoba melihat ke dalamnya, Liana seketika tersenyum tipis. Namun sekejap kemudian, dia kembali berpura-pura terkejut, dan segera menyingkirkan orang-orang yang berada di hadapannya.


Dasar gadis b*doh! Sudah ku duga akan jadi seperti ini, batin Liana.


.


.


.


.


Sudah 3 bab ya guys😁berarti lanjut besok lagi😊


tapi kayaknya bakal Up malam deh, soalnya besok di sekolah mau ada perpisahan kelas XII😅🙏


sambil nunggu Liana up, mampir ke novel receh othor yang lainnya yuk😄



Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2