Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Kabar dari kawan


__ADS_3

Malam sebelumnya, Liana yang datang ke markas besar geng Jupiter, tiba-tiba saja pingsan setelah melihat nama seorang wanita bangsawan yang disebut oleh ayahnya, sebagai dalang dibalik kejadian yang menimpa sang bunda dulu.


Long yang saat itu juga berada di sana menjadi panik. Dia memerintahkan beberapa anak buah yang berada di luar ruangan Chip untuk membawa Liana ke luar, dan membaringkannya di atas sofa yang ada di ruangan pimpinan.


Sementara Chip, sang hacker itu lebih bisa berpikir tenang, dan segera memanggil Q untuk datang secepatnya ke markas.


Tak berselang lama, Dokter Q tiba di markas besar geng terbesar di Grey Town tersebut, dan langsung memberikan pertolongan pertama pada Liana.


“Sudah berapa lama dia demam?” tanya Q.


“Aku tidak tahu. Saat aku datang, dia sudah pucat dan tak lama kemudian dia pingsan,” ucap Long.


“Demamnya sangat tinggi. Aku perlu menyiapkan beberapa peralatan terlebih dahulu. Kita lebih dulu harus menurunkan demamnya. Ganti bajunya dengan yang lebih nyaman, dan ambil air hangat segera. Kita perlu untuk mengompresnya,” seru Q.


“Tapi di sini semuanya pria. Apa kau sudah gila mau menyentuh tubuh gadisnya bos?” keluh Long.


“Kenapa tiba-tiba kau jadi b*doh, Kak? Kau kan bisa meminta bantuan salah satu wanita mu dari club malam itu?” sahut Q


“Ah, kau benar!” ucap Long.


Dia pun kemudian menghubungi seseorang yang saat ini sedang berada di clubnya.


“Carikan pakaian yang nyaman untuk wanita dewasa, dan bawa seorang wanita di club kita ke markas. Cepat!” seru Long.


Dia pun segera mematikan panggilan dan kembali fokus pada Liana.

__ADS_1


Air hangat telah sampai dan Q mulai mengompres badan Liana di beberapa titik lipatan yang menjadi sumber panas tubuh, sampai wanita yang diminta oleh kakaknya datang.


Tak lama kemudian, salah satu wanita club milik Long datang. Dia kini mengambil alih tugas untuk merawat Liana yang masih demam tinggi.


Q bisa saja terus merawat Liana, namun dia memilih berhenti, mengingat status gadis itu yang adalah kekasih Falcon. Terlebih, dia harus melakukan tindakan medis lainnya untuk menangani kemungkinan gadis itu mengalami dehidrasi dan kejang, mengingat tingginya demam yang diderita Liana saat ini.


Sementara itu, Long menghubungi Nine yang sudah pergi ke Empire State menemani Falcon. Sang tangan kanan sekarang bertugas menjadi pengawal, sekaligus asisten pribadi sang calon pewaris The Palace itu.


Selain Nine, Falcon juga membawa pergi Mike sebagai anak buah yang berjalan di dalam bayangan, di mana setiap gerakannya tak terlihat namun tepat sasaran.


Dia membutuhkan semua dukungan dari Grey Town, tempat yang selama ini selalu membantunya menjadikannya sosok yang disegani di dunia bawah.


Dan saat dia harus muncul ke permukaan, dia pun tak bisa lepas begitu saja dari geng yang selama ini menjadi keluarga baginya, dan membawa serta kekuatan itu untuk turut mendukungnya. Hal ini tak lepas dari saran yang pernah diberikan oleh Liana padanya.


“Ada apa? Bos sedang istirahat sekarang,” sahut Nine.


Nine nampak melihat ke belakang mobil melalui kaca spion depan. Saat ini, dia sedang berkendara bersama Falcon, setelah seharian harus mengurus beberapa urusan perusahaan di kota sekitaran ibu kota Empire State.


“Kakak ipar tiba-tiba datang ke markas di tengah malam, dan saat ini dia jatuh pingsan,” tutur Long.


“Apa kau tidak sedang bercanda?” tanya Nine memastikan.


“Untuk apa aku main-main dengan hal ini? Kau kira aku ini kurang kerjaan apa?” keluh Long yang tak dipercaya oleh rekan seperjuangannya.


“Baiklah. Akan ku coba sampaikan kepada bos,” sahut Nine.

__ADS_1


Sambungan pun terputus. Nine kembali melihat ke belakang. Beberapa saat yang lalu, ia melihat jika mata bosnya sedang terpejam, akan tetapi kini, Falcon telah bangun dengan mata yang terbuka sepenuhnya.


“Ada apa?” tanya Falcon.


“Kakak ipar... Ehm, maksudku Nona Wang datang ke markas di tengah malam begini dan sekarang dia sedang pingsan,” tutur Nine.


“Apa?” pekik Falcon yang terkejut dengan berita tersebut.


Setelah mendengar hal itu, Falcon pun segera meminta Nine untuk menyiapkan pesawat dan pergi ke Grey Town saat itu juga.


Setelah menyetujui untuk menerima persyaratan dari sang kakek yang mengharuskan dia belajar menjadi seorang pewaris, semua fasilitas pun telah diberikan kepada pria itu.


Tuan Harvey tak peduli untuk apa semua fasilitas tersebut digunakan, selama Falcon mau meneruskan kursi kepemimpinannya di The Palace suatu hari nanti.


.


.


.


.


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2