Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Menyuapi


__ADS_3

“Apa kau bisa makan sendiri?” tanya Falcon.


Liana diam dan bahkan tak melihat ke arahnya.


Falcon kemudian meraih mangkuk berisi bubur itu, dan bermaksud menyuapi Liana. Dengan telaten, dia meniup-niup bubur panas, agar cepat dingin dan tidak menyakiti mulut Liana.


“Makanlah!? “ seru Falcon saat mengarahkan sendok ke mulut gadis itu.


Namun, Liana lagi-lagi acuh. Mulutnya tetap tertutup rapat, dan tak peduli dengan perhatian yang diberikan oleh pria di depannya.


Falcon bukanlah tipe orang yang bisa bersabar, saat menghadapi gadis keras kepala yang bersikap menyebalkan seperti Liana.


Dia pun akhirnya memasukkan makanan di sendok itu ke dalam mulutnya sendiri, dan dengan cepat, Falcon meraih tengkuk Liana kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu. Liana terkejut bukan main, saat bibir mereka saling bersentuhan.


Mata Liana membola, saat lidah Falcon berusaha menerobos bibir dan membuka mulutnya. Rupanya, ketua gangster itu memilih menyuapi Liana menggunakan cara yang bisa di bilang aneh dan sedikit menjijikan.


Gadis itu meronta dan hendak memukul Falcon. Namun, tenaganya yang masih lemah, membuat pria itu dengan mudah menghentikan gerakan Liana.


Perlahan, Falcon memaksa Liana untuk menerima makanan yang didorong oleh lidahnya, hingga semua masuk ke mulut gadis itu.


Setelah mulutnya kosong, barulah Falcon melepaskan Liana, dan kembali duduk di posisi yang benar.


“Apa sekarang sudah bisa makan sendiri?” tanya Falcon.


Liana tak menyahuti. Dia justru menatap tajam ke arah Falcon. Gadis itu kesal bukan main, dengan cara pria di hadapannya itu, yang begitu sudah seenaknya. Ditambah, ini adalah pertama kali bibirnya tersentuh oleh laki-laki.


“Atau, kau mau ku suapi lagi?” lanjut Falcon.


Pria itu mengusap bibir bawahnya menggunakan ibu jari, sengaja untuk menggoda gadis polos di hadapannya itu.


“Brengs*k!” maki Liana.


Namun, saat Falcon kembali menyendok kan bubur ke mulutnya lagi, seketika itu, Liana meraih mangkuk yang ada di depan nya, dan menyendok kan bubur itu ke mulut, sebelum Falcon menyuapinya dengan cara liar seperti tadi.


Melihat Liana yang mulai patuh, seketika garis bibir Falcon oun melengkung asimetris ke atas. Dia pun tak paham. Kenapa muncul ide aneh seperti tadi di otaknya.


...👑👑👑👑👑...


Keberadaan Liana di klub malam hari itu, membuat Falcon pun merasa harus selalu berada di sana untuk mengawasi gadis itu.


Dia khawatir Liana memaksa pergi lagi dan malah membuat bahaya untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Saat ini, pria itu sedang berada di ruang kantor Long, meninggalkna Liana di dalam kamar istirahat seorang diri.


Dia sengaja membiarkan gadis itu beristirahat dan memulihkan kondisinya yang begitu lemah, karena tak ada makanan maupun minuman yang masuk sejak kemarin.


Meski awalnya Liana menolak makan, namun dengan cara Falcon yang cukup aneh, akhirnya Liana pun terpaksa menurut dan makan setiap makanan yang diberikan oleh pria itu.


Waktu menunjukkan sudah pukul setengah sebelas malam. Tempat itu terasa semakin ramai seiring naiknya sang dewi malam.


Beruntung, ruangan tersebut kedap suara, sehingga tak akan mengganggu waktu istirahat Liana.


Falcon nampak tengah duduk di kursi kebesaran Long, dan menyandarkan punggungnya di kursi tersebut.


Saat itu, pintu ruang istirahat terbuka, dan Liana nampak keluar dari sana, membuat Falcon seketika bangun dan menghampiri gadis itu.


“Kenapa keluar?” tanya Falcon.


“Aku bosan di dalam terus. Aku ingin melihat-lihat keluar,” sahut Liana yang masih nampak belum bisa berjalan tegap.


Kakinya masih terasa gemetar, hingga membuatnya harus berpegangan pada dinding yang ada di dekatnya.


Falcon pun maju dan meraih lengan gadis itu. Dia memapah Liana dan membawanya duduk di sofa yang ada di ruang kerja tersebut.


“Duduklah di sini. Kamu masih belum pulih benar untuk berjalan-jalan di luar,” seru Falcon.


“Kalau kau ingin jadi orang kuat, jagalah dirimu baik-baik! Jangan sampai sakit lagi, atau kau akan berakhir seperti ini,” ucap Falcon.


Pria itu duduk di samping Liana, dan menyandarkan punggung, dengan kepala mendongak ke atas bertumpu pada sofa.


“Sejauh mana kau tau masalahku?” tanya Liana.


“Kenapa tak tanya bagaimana aku bisa tau semua itu?” tanya Falcon.


“Aku tidak merasa heran orang-orang seperti kalian bisa dengan mudah mengetahui semua hal. Yang aku herankan adalah kenapa kalian tidak mau membantuku saat itu?” jawab Liana yang masih kesal, dengan penolakan Falcon tempo hari.


“Kau sudah dua tahun lebih bekerja dengan pak tua itu, apa kau pernah mendengar nama Victor? Peter atau Louis?” tanya Falcon.


Liana mengerutkan keningnya, saat mendengar nama-nama yang baru saja disebutkan oleh Falcon.


Selama ini, dia hanya tau nama Peter, itu pun lewat cetak biru terlarang yang ada di balik lemari buku, di ruang kerja kakek Joseph, sedangkan kedua nama yang lain, dia sama sekali belum pernah mendengarnya.


“Aku belum pernah mendengar ke tiganya. Tapi, aku pernah melihat nama Peter di rumah itu,” ucap Liana.

__ADS_1


“Kemungkinan besar, dia adalah ayah kandungmu. Pria yang dicintai oleh Lilian Wang. Dia difitnah oleh seseorang, untuk menutupi jejak Louis. Sementara Victor, dia adalah orang kepercayaan tuan Wang, yang sudah berhianat lima tahun lalu. Ketiganya berhubungan dengan kisah hilangnya Lilian Wu dan juga dirimu,” ungkap Falcon.


Liana menoleh dan duduk menghadap ke arah Falcon. Dia tak percaya, jika pria itu tahu banyak tentang semua masalah yang terjadi di dalam keluar Kakek Joseph.


Falcon menegakkan duduknya dan memandang Lurus ke depan. Sejenak kemudian, dia menoleh dan menatap langsung ke dalam mata gadis di sampingnya.


“Apa kau penasaran sekarang, dari mana aku bisa tahu semuanya?” tanya Falcon.


“Tidak. Sudah ku bilang kalau aku sama sekali tidak heran. Aku lebih tertarik dengan kelanjutan ceritanya,” sahut Liana cepat.


Garis bibir Falcon melengkung asimetris ke atas, mendengar jawaban dari Liana.


Benar-benar gadis unik. Biasanya mereka akan bertanya dari mana asal informasi ini berasal, tapi dia malah tak peduli dan justru fokus pada kelanjutannya, batin Falcon.


“Kisahmu itu sangat panjang, Nona. Kalau dijadikan novel, mungkin ini bisa sampai berseri-seri,” ucap Falcon kembali menyandarkan punggungnya.


“Beritahu aku semua yang kau tau, Falcon! Aku berhak tau semuanya,” seru Liana.


“Ini belum saatnya. Sebaiknya, sekarang kamu fokus memulihkan diri dulu, setelah itu bantu kakek mu agar bisa segera dioperasi. Baru kau bisa mulai merencanakan untuk menendang kedua wanita itu dari rumah besar Dream Hill. Kamu tak mungkin akan diam saja melihat mereka mengambil posisi mu bukan?” seru Falcon.


Liana membuang nafas kasar, dan ikut menyandarkan punggungnya di sofa.


“Kau benar. Sebaiknya aku fokus untuk mengusir mereka berdua,” sahut Liana.


“Selama dua tahun ini, Jessica hidup di bawah tekanan dari kelompok ku, akibat dari ulah ibunya sendiri yang gemar berjudi. Selama itu pula, dia selalu ketakutan dan berusaha menurut kepada semua yang dikatakan anak buah long,” tutur Falcon.


“Heh, itu pantas dia dapatkan. Selama ini, dia selalu menindasku dan membuat aku dijauhi orang-orang karena wajah cacat,” ucap Liana dengan senyum yang terdengar mengejek.


“Apa kau punya rencana?” tanya Falcon.


“Kau cukup lihat dan perhatikan saja,” Sahut Liana.


.


.


.


.


Satunya lagi malem yah, capek habis main bulutangkis tarkam🤭

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2