
“Aku sangat tersentuh atas ucapanmu, Nona,” sahut Debora.
“Tapi sayangnya, sekarang sudah saatnya kau pergi dari sini, Nyonya. Aku tak akan membuat perhitungan padamu, melihat semua usahamu dalam merawat kakekku selama ini,” ucap Liana.
“Jadi, aku sedang diusir?” tanya Debora datar.
“Ada seseorang yang lebih membutuhkan perhatianmu saat ini,” ucap Liana.
Debora menoleh menatap gadis itu dari samping. Liana pun ikut menoleh dan balas menatap wanita dewasa itu.
“Saat ini, orang yang kau sukai sudah menyerahkan diri demi cintanya. Putrinya pasti butuh seseorang yang bisa menjadi sandaran. Ditambah lagi, sepertinya kau sangat cocok jika menjadi sosok ibu baginya, mengingat ibu kandungnya tak pernah sekalipun menganggapnya ada,” ucap Liana.
Debora nampak terdiam. Raut wajahnya berubah menjadi sendu. Tebakan Liana rupanya benar. Gadis pintar itu selalu bisa menganalisa hal kecil yang bahkan tak bisa dipikirkan oleh orang lain.
“Kakek sedang pergi. Sebaiknya kau pergi sekarang juga. Aku tak mau kakekku tahu masalah yang sebenarnya, karena hanya akan membuat jantungnya kambuh,” lanjut Liana
“Jadi, secepat ini aku dibuang?” sindir Debora.
“Lagipula, kau pun sudah tak memiliki kepentingan apapun di rumah ini. Kau datang kemari karena pria itu, sedangkan pria itu membutuhkan bantuanmu demi wanitanya.”
“Sekarang wanita itu telah tertangkap, dan priamu pun memilih menemaninya di penjara. Jadi sebaiknya, kau juga segera menghilang sebelum aku berubah pikiran dan membuat mu bergabung bersama mereka,” pungkas Liana.
Debora hanya bisa tersenyum tipis, dengan wajah yang menunduk. Nampak sekilas wanita itu menyeka sudut matanya, seolah ada sesuatu yang mengganggu di sana.
“Baiklah. Tapi ingat, karena kau sudah memecat ku, jadi kau juga harus membayar uang pesangon untuk ku, Nona,” ucap Debora.
__ADS_1
“Sudah berbuat jahat masih minta uang juga? Benar-benar tak tau malu. Kau tenang saja. Semua sudah ku persiapkan. Cepat berkemas dan segeralah pergi,” seru Liana dingin.
Gadis itu sama sekali tak melihat ke arah Debora, wanita yang dulu menjadi tutor dan orang yang pernah dekat dengannya.
Wanita yang bahkan ikut menangis haru, saat akhirnya Liana bisa kembali ke rumah kakeknya lagi.
Wanita itu pun kemudian berbalik menghadap Liana. Dia membungkuk dalam-dalam seolah mengucapkan salam perpisahan, dan juga sebagai bentuk permintaan maaf atas semua yang telah dilakukannya.
Waktu dua puluh tiga tahun bukanlah masa yang singkat. Hampir separuh hidupnya ia abdikan pada keluarga itu, tak dipungkiri jika Debora pun merasa berat saat harus mengucapkan selamat tinggal pada rumah, yang telah banyak memberinya kehidupan.
Debora pun berjalan ke arah rumah dan berkemas di dalam kamarnya. Semua pelayan yang melihat, tak kuasa menahan tangis saat bos mereka harus pergi dari sini.
“Nyonya, kenapa begitu mendadak?” tanya salah seorang pelayan yang membantunya berkemas.
Semuanya mengangguk pelan sambil menyeka lelehan air mata di wajah mereka.
Liana yang berada tak jauh dari sana pun melihat, jika semua orang sangat menyayangi sosok tegas itu.
Tak dipungkiri jika dia pun sebenarnya berat saat meminta Debora pergi dari rumah sang kakek. Namun, dia tak mau terus menerus memelihara orang yang jelas-jelas telah berbuat jahat pada keluarganya di masa lalu.
Dia pun kemudian berjalan melewati kerumunan para pelayan di depan paviliun belakang, tepat di depan kamar Debora. Dia naik ke lantai dua dan menghilang di ujung tangga.
Semua pelayan dan juga pekerja, mengiring kepergian Debora ke depan. Sebuah taksi telah datang dan siap membawa wanita dewasa itu pergi.
Seorang pelayan nampak memeluk Debora, dan disusul oleh semua pelayan lainnya. Mereka mengerumuni wanita itu dan mengucapkan salam perpisahan.
__ADS_1
Morgan terlihat membantu Debora memasukkan semua barang-barangnya ke dalam bagasi mobil bersama sang supir taksi.
“Aku pergi dulu. Ingat pesanku tadi, oke!” seru Debora.
“Baik, Nyonya,” sahut yang lain hampir bersamaan.
Wanita itu melangkah turun dari teras depan, dan berjalan ke arah taksinya. Dia melambaikan tangan ke arah semua orang dengan senyum yang begitu tulus.
Dia mengamati rumah besar yang sudah lama ia tinggali. Helaan nafas berat terdengar dari mulut wanita itu. Saat dia mendongak ke atas, tak sengaja dia melihat keberadaan Liana di teras lantai dua, sedang memperhatikannya dari sana.
Gadis itu melipat kedua lengannya di depan dada, dan menatap Debora dengan wajah datar. Wanita itu sekilas terlihat menundukkan kepalanya, seakan memberi salam perpisahan pada gadis itu sebelum akhirnya dia masuk ke dalam mobil.
Taksi pun bergerak membawa wanita itu pergi dari kediaman Joseph Wang selamanya.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1