
“Apa wartawan kenalan mu itu?” tanya sang kakek.
Liana menggeleng pelan tanpa bersuara. Sang kakek pun menebak satu orang lagi yang lain.
“Falcon?” tanya kakek lagi.
Kali ini, Liana diam. Gadis itu masih menunduk. Namun, tangannya meremaaas kuat jemarinya. Hal itu cukup memberikan jawaban kepada pria tua itu.
Kakek pun mengulurkan tangan keriputnya dan meraih tangan sang cucu. Dengan lembut, Kakek Joseph mengusap punggung tangan Liana.
“Percaya pada hatimu. Dan apapun pilihan hatimu, kakek hanya berharap jika dia tak akan pernah menyia-nyiakan cucu kakek yang cantik dan pintar ini. Kakek selalu berharap yang terbaik untuk mu dan kebahagiaan mu, Nak,” ucap sang kakek.
Liana merentangkah tangannya dan mesuk ke dalam pelukan sang kakek. Entah kenapa rasanya semakin sesak. Matanya pun pedih hingga berair.
Gadis itu berusaha menyembunyikan wajahnya di dada lemah sang kakek.
Dengan lembut, Kakek Joseph mencoba memahami kegundahan hati yang saat ini tengah dihadapi oleh sang cucu.
Kakek memang tak akan menentang hubungan mu dengan siapa pun. Hanya saja, kenapa kau harus memilih berandalan itu? Kakek hanya takut kau akan semakin sakit hati jika terus bersamanya, batin Kakek Joseph.
Cukup lama Liana memeluk kakeknya. Gadis itu pun akhirnya merasa lelah karena seharian terus memikirkan sesuatu yang belum bisa ia pahami.
Tiba-tiba, seorang pelayan datang menghampiri kedua orang berbeda generasi itu.
“Permisi, Tuan,” sapa pelayan itu.
“Ada apa?” tanya Kakek Joseph.
Kedatangan pelayan itu membuat Liana mengurai pelukannya pada sang kakek.
“Tuan Jimmy sudah datang. Apa perlu saya minta beliau datang kemari?” jawab si pelayan.
“Suruh dia ke ruang kerjaku saja. Akan ku temui dia di sana,” seru Kakek Joseph.
“Baik, Tuan,” sahut si pelayan.
Pelayan itu pun pergi meninggalkan Kakek Joseph dan Liana kembali berdua.
Kakek kembali mengusap lembut surai hitam cucunya yang masih terlihat sama seperti tadi.
“Sebaiknya kau masuk dan beristirahat. Jangan terlalu lama duduk di luar. Sebentar lagi salju akan turun dan kau bisa terkena flu nanti,” seru sang kakek.
Liana mengangguk. Keduanya pun beranjak dan berjalan kembali ke dalam rumah. Liana pamit pergi ke kamarnya, sementara Kakek Joseph menuju ke ruang kerja hendak menemui Jimmy.
Kedatangan Jimmy ke kediaman keluarga Wang kali ini, tak lain adalah untuk menyampaikan hasil tes DNA yang telah dilakukan oleh Kakek Joseph dan Liana beberapa waktu yang lalu.
“Bagaimana hasilnya, Jim?” tanya Kakek Joseph.
Pak tua itu kini telah duduk di kursi kerjanya, dan menunggu laporan dari sang asisten pribadi.
Jimmy nampak membawa sebuah berkas dan menyerahkannya kepada sang atasan.
“Ini adalah hasil tes dari sepuluh tempat yang kita tunjuk untuk melakukan tes DNA antara Anda dengan Nona Liana,” ucap Jimmy.
Kakek Joseph nampak meraih berkas tersebut dan membukanya perlahan.
“Semua tempat tersebut bisa memastikan bahkan Nona Liana, memang benar adalah cucu kandung Anda, Tuan,” lanjut Jimmy.
Kakek Joseph merasa lega dengan hasil yang sudah ia dapat. Hatinya memang tak meragukan rasa yang muncul ketika dia melihat wajah asli Liana untuk pertama kali, yang secara tak langsung mengingatkannya pada sang putri, Lilian.
“Aku tahu kalau hati itu selalu berkata jujur, meski sekeras apapun otak cerdas ku menyangkalnya. Kau lihat kan, hatiku pun yakin bahwa kau adalah cucuku. Anak dari putriku,” gumam Kakek Joseph lirih.
“Jim, lanjutkan rencana yang waktu itu ku katakan padamu. Buat acara ini se meriah mungkin dan undang semua awak media agar meraka bisa mengabarkan ke seluruh dunia akan berita ini. Hingga pria itu bisa melihat, bahwa dia kini telah menjadi ayah, dan aku harap dia mau muncul dan merangkul anak malang itu,” seru Kakek Joseph.
"Apa Anda yakin pria itu masih hidup?" tanya Jimmy.
"Apa menurutmu seorang tuan muda akan mati begitu saja tanpa adanya pemberitaan? Info yang ku terima terakhir kali tentang dia mengatakan jika saat ini pria itu sedang berada di empire state," jawab Joseph.
“Apa Anda yakin mau membiarkan dia bertemu dengan Nona Liana?” tanya Jimmy.
“Meski aku masih marah karena dia tak bersama Lilian saat anakku sekarat dan melahirkan seorang diri, namun Liana juga pasti ingin bertemu dengan orang itu lebih dari siapapun. Terlebih, jika memang dia benar-benar mencintai Lilian, pasti dia akan datang menemui putrinya,” jawab Kakek Joseph.
Aku harap, anak itu bisa mendapatkan kasih sayang dari pria itu, meski sudah sangat terlambat, batin Kakek Joseph.
“Baik, Tuan. Kalau memang begitu keputusan Anda, saya akan laksanakan dengan baik,” sahut Jimmy.
“Aku mau acaranya digelar minggu ini, Jim. Dan jangan lupa, undang semua rekanan kita agar mereka menyaksikan momen berharga ini,” seru Kakek Joseph.
“Baik, Tuan,” sahut Jimmy.
__ADS_1
Sang asisten itu pun keluar dan meninggalkan ruang kerja atasannya.
Lilian, semoga kau senang dengan apa yang telah aku putuskan ini. Ayahmu sudah berusaha menjadi kakek yang tidak egois. Aku harap, kau bisa tenang menitipkan Liana kepada pria tua seperti ku, batin Kakek Joseph.
👑👑👑👑👑
Emerald Hotel, salah satu hotel berbintang lima berkelas internasional yang berada di Golden City, saat ini tengah mempersiapkan sebuah acara besar untuk perusahaan Wang Construction.
Setelah pembicaraannya dengan Jimmy tempo hari, kini perusahaan tersebut memberitakan bahwa presdir mereka akan mengumumkan siapa calon penerus perusahaan tersebut.
Semua orang bertanya-tanya akan sosok sang pewaris ini. Karena seluruh dunia tak pernah mendengar jika Presdir Wang telah menikahkan putrinya. Bahkan kabar sang putri pun tak terendus media sejak dua puluhan tahun lalu.
Kini, semua fokus pemberitaan ada pada acara yang akan digelar malam nanti. Semua orang menantikan siapa yang akan muncul di depan mereka, yang akan diperkenalkan sebagai calon penerus masa dengan perusahaan konstruksi yang tengah naik daun itu.
Tak hanya awak media yang menantikan, bahkan semua karyawan yang berada di bawah naungan perusahaan pun menantikan, siapa yang akan menjadi atasan mereka kelak.
Di kediaman Wang, sejak pagi hari, beberapa orang berdatangan, dari mulai perancang busana, make up artis, terapis perawatan tubuh, yang semuanya sengaja didatangkan oleh Kakek Joseph khusus untuk sang cucu yang akan menjadi bintang pada malam ini.
“Kek, apa harus sampai seperti ini? Apa tidak terlalu berlebihan?” keluh Liana.
“Malam ini adalah malam istimewa. Jadi, sudah barang tentu kamu pun harus tampil berbeda. Lepaskan dulu image Liana yang selalu tampil tomboy, dan jadilah gadis cantik yang elegan. Hanya untuk malam ini, oke,” pinta sang kakek.
Meski enggan, namun Liana tak bisa menolak permintaan kakeknya itu. Kakek Joseph sudah susah payah membuat acara ini hanya untuk dirinya, dan Liana tak mau mengecewakan harapan kakeknya.
Akhirnya, mau tak mau dia pun mengikuti serangkaian perawatan yang seumur hidup belum pernah ia lakukan.
Menurut Liana, ini semua sungguh melelahkan ketimbang berada seharian di area proyek.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
“Apa wartawan kenalan mu itu?” tanya sang kakek.
Liana menggeleng pelan tanpa bersuara. Sang kakek pun menebak satu orang lagi yang lain.
“Falcon?” tanya kakek lagi.
Kali ini, Liana diam. Gadis itu masih menunduk. Namun, tangannya meremaaas kuat jemarinya. Hal itu cukup memberikan jawaban kepada pria tua itu.
Kakek pun mengulurkan tangan keriputnya dan meraih tangan sang cucu. Dengan lembut, Kakek Joseph mengusap punggung tangan Liana.
“Percaya pada hatimu. Dan apapun pilihan hatimu, kakek hanya berharap jika dia tak akan pernah menyia-nyiakan cucu kakek yang cantik dan pintar ini. Kakek selalu berharap yang terbaik untuk mu dan kebahagiaan mu, Nak,” ucap sang kakek.
Liana merentangkah tangannya dan mesuk ke dalam pelukan sang kakek. Entah kenapa rasanya semakin sesak. Matanya pun pedih hingga berair.
Gadis itu berusaha menyembunyikan wajahnya di dada lemah sang kakek.
Dengan lembut, Kakek Joseph mencoba memahami kegundahan hati yang saat ini tengah dihadapi oleh sang cucu.
Kakek memang tak akan menentang hubungan mu dengan siapa pun. Hanya saja, kenapa kau harus memilih berandalan itu? Kakek hanya takut kau akan semakin sakit hati jika terus bersamanya, batin Kakek Joseph.
Cukup lama Liana memeluk kakeknya. Gadis itu pun akhirnya merasa lelah karena seharian terus memikirkan sesuatu yang belum bisa ia pahami.
Tiba-tiba, seorang pelayan datang menghampiri kedua orang berbeda generasi itu.
“Permisi, Tuan,” sapa pelayan itu.
“Ada apa?” tanya Kakek Joseph.
Kedatangan pelayan itu membuat Liana mengurai pelukannya pada sang kakek.
“Tuan Jimmy sudah datang. Apa perlu saya minta beliau datang kemari?” jawab si pelayan.
“Suruh dia ke ruang kerjaku saja. Akan ku temui dia di sana,” seru Kakek Joseph.
“Baik, Tuan,” sahut si pelayan.
Pelayan itu pun pergi meninggalkan Kakek Joseph dan Liana kembali berdua.
Kakek kembali mengusap lembut surai hitam cucunya yang masih terlihat sama seperti tadi.
__ADS_1
“Sebaiknya kau masuk dan beristirahat. Jangan terlalu lama duduk di luar. Sebentar lagi salju akan turun dan kau bisa terkena flu nanti,” seru sang kakek.
Liana mengangguk. Keduanya pun beranjak dan berjalan kembali ke dalam rumah. Liana pamit pergi ke kamarnya, sementara Kakek Joseph menuju ke ruang kerja hendak menemui Jimmy.
Kedatangan Jimmy ke kediaman keluarga Wang kali ini, tak lain adalah untuk menyampaikan hasil tes DNA yang telah dilakukan oleh Kakek Joseph dan Liana beberapa waktu yang lalu.
“Bagaimana hasilnya, Jim?” tanya Kakek Joseph.
Pak tua itu kini telah duduk di kursi kerjanya, dan menunggu laporan dari sang asisten pribadi.
Jimmy nampak membawa sebuah berkas dan menyerahkannya kepada sang atasan.
“Ini adalah hasil tes dari sepuluh tempat yang kita tunjuk untuk melakukan tes DNA antara Anda dengan Nona Liana,” ucap Jimmy.
Kakek Joseph nampak meraih berkas tersebut dan membukanya perlahan.
“Semua tempat tersebut bisa memastikan bahkan Nona Liana, memang benar adalah cucu kandung Anda, Tuan,” lanjut Jimmy.
Kakek Joseph merasa lega dengan hasil yang sudah ia dapat. Hatinya memang tak meragukan rasa yang muncul ketika dia melihat wajah asli Liana untuk pertama kali, yang secara tak langsung mengingatkannya pada sang putri, Lilian.
“Aku tahu kalau hati itu selalu berkata jujur, meski sekeras apapun otak cerdas ku menyangkalnya. Kau lihat kan, hatiku pun yakin bahwa kau adalah cucuku. Anak dari putriku,” gumam Kakek Joseph lirih.
“Jim, lanjutkan rencana yang waktu itu ku katakan padamu. Buat acara ini se meriah mungkin dan undang semua awak media agar meraka bisa mengabarkan ke seluruh dunia akan berita ini. Hingga pria itu bisa melihat, bahwa dia kini telah menjadi ayah, dan aku harap dia mau muncul dan merangkul anak malang itu,” seru Kakek Joseph.
"Apa Anda yakin pria itu masih hidup?" tanya Jimmy.
"Apa menurutmu seorang tuan muda akan mati begitu saja tanpa adanya pemberitaan? Info yang ku terima terakhir kali tentang dia mengatakan jika saat ini pria itu sedang berada di empire state," jawab Joseph.
“Apa Anda yakin mau membiarkan dia bertemu dengan Nona Liana?” tanya Jimmy.
“Meski aku masih marah karena dia tak bersama Lilian saat anakku sekarat dan melahirkan seorang diri, namun Liana juga pasti ingin bertemu dengan orang itu lebih dari siapapun. Terlebih, jika memang dia benar-benar mencintai Lilian, pasti dia akan datang menemui putrinya,” jawab Kakek Joseph.
Aku harap, anak itu bisa mendapatkan kasih sayang dari pria itu, meski sudah sangat terlambat, batin Kakek Joseph.
“Baik, Tuan. Kalau memang begitu keputusan Anda, saya akan laksanakan dengan baik,” sahut Jimmy.
“Aku mau acaranya digelar minggu ini, Jim. Dan jangan lupa, undang semua rekanan kita agar mereka menyaksikan momen berharga ini,” seru Kakek Joseph.
“Baik, Tuan,” sahut Jimmy.
Sang asisten itu pun keluar dan meninggalkan ruang kerja atasannya.
Lilian, semoga kau senang dengan apa yang telah aku putuskan ini. Ayahmu sudah berusaha menjadi kakek yang tidak egois. Aku harap, kau bisa tenang menitipkan Liana kepada pria tua seperti ku, batin Kakek Joseph.
👑👑👑👑👑
Emerald Hotel, salah satu hotel berbintang lima berkelas internasional yang berada di Golden City, saat ini tengah mempersiapkan sebuah acara besar untuk perusahaan Wang Construction.
Setelah pembicaraannya dengan Jimmy tempo hari, kini perusahaan tersebut memberitakan bahwa presdir mereka akan mengumumkan siapa calon penerus perusahaan tersebut.
Semua orang bertanya-tanya akan sosok sang pewaris ini. Karena seluruh dunia tak pernah mendengar jika Presdir Wang telah menikahkan putrinya. Bahkan kabar sang putri pun tak terendus media sejak dua puluhan tahun lalu.
Kini, semua fokus pemberitaan ada pada acara yang akan digelar malam nanti. Semua orang menantikan siapa yang akan muncul di depan mereka, yang akan diperkenalkan sebagai calon penerus masa dengan perusahaan konstruksi yang tengah naik daun itu.
Tak hanya awak media yang menantikan, bahkan semua karyawan yang berada di bawah naungan perusahaan pun menantikan, siapa yang akan menjadi atasan mereka kelak.
Di kediaman Wang, sejak pagi hari, beberapa orang berdatangan, dari mulai perancang busana, make up artis, terapis perawatan tubuh, yang semuanya sengaja didatangkan oleh Kakek Joseph khusus untuk sang cucu yang akan menjadi bintang pada malam ini.
“Kek, apa harus sampai seperti ini? Apa tidak terlalu berlebihan?” keluh Liana.
“Malam ini adalah malam istimewa. Jadi, sudah barang tentu kamu pun harus tampil berbeda. Lepaskan dulu image Liana yang selalu tampil tomboy, dan jadilah gadis cantik yang elegan. Hanya untuk malam ini, oke,” pinta sang kakek.
Meski enggan, namun Liana tak bisa menolak permintaan kakeknya itu. Kakek Joseph sudah susah payah membuat acara ini hanya untuk dirinya, dan Liana tak mau mengecewakan harapan kakeknya.
Akhirnya, mau tak mau dia pun mengikuti serangkaian perawatan yang seumur hidup belum pernah ia lakukan.
Menurut Liana, ini semua sungguh melelahkan ketimbang berada seharian di area proyek.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1