
“Dad, apa benar dia adalah Mommy? Benarkah, Dad?” tanya Lusy dengan wajah berseri dan mata yang berbinar.
Hal itu membuat Moses semakin bungkam. Dia tak bisa berkata-kata, saat melihat ekspresi sang putri yang begitu senang itu.
“Dad,” panggil Lusy.
Moses pun akhirnya tersadar dari pikirannya, dan kembali fokus pada sang putri.
“Apa kau pikir begitu?” tanya Moses mengalihkan rasa gugupnya.
“Tentu saja. Netizen juga berpikir hal yang sama. Lihatlah, Dad. Dia dan aku sangat mirip. Tapi, jika dilihat dari latar belakangnya, sepertinya tidak mungkin. Dia adalah nyonya pertama keluarga Lunar Gruop. Dia punya suami dan anak-anak yang berusia jauh lebih tua dari pada aku. Mana mungkin dia adalah Mommy ku, kecuali Daddy telah menggodanya dan akhirnya memiliki aku. Hahahha...,” ucap Lusy dengan entengnya.
Dia tak tahu jika tebakan asalnya itu adalah yang sebenarnya terjadi, antar sang ayah dan ibu kandungnya.
Moses tersenyum getir menanggapi perkataan sang putri.
“Andai saja aku bisa memeluk Mommy sekali saja, aku pasti akan sangat bahagia. Tapi, bukanlah Daddy bilang Mommy sudah tidak ada, jadi mana bisa aku memeluknya. Andai saja nyonya ini Mommy ku. Meskipun benar aku ini anak yang tak diinginkan, setidaknya aku bisa melihatnya dan merasakan hangatnya pelukan seorang ibu. Ah... Sudahlah. Mommy ku pasti wanita yang setia dan tidak akan meninggalkan anaknya demi apapun juga. Benarkan, Dad?” lanjut Lusy.
Dalam hati, gadis itu sangat sedih jika kembali mengingat tentang ibunya yang sama sekali tak diketahuinya. Dengan munculnya berita ini, teka teki tentang semua pertanyaan yang selama ini terus tersimpan di benaknya, sedikit demi sedikit mulai terlihat jelas.
Namun, dia berusaha tak merengek di depan ayahnya. Dia tak mau pria yang telah merelakan hidupnya untuk merawatnya seorang diri berada dalam kesulitan saat dia merengek meminta dipertemukan dengan wanita di berita itu.
Moses merasa dadanya semakin sesak. Dia pun berkali-kali mengerjapkan matanya, agar lapisan bening segera menghilang dari sana.
“Sayang, Daddy ada urusan di luar. Ingat! Jangan pergi kemana-mana tanpa pengawal, oke!” seru Moses.
__ADS_1
“Baiklah. Have a nice day, Dad,” sahut Lusy.
Moses pun pergi meninggalkan putihnya. Dia tak tahu jika saat ini, senyum yang tadi mengembang di wajah Lusy, seketika hilang dan berganti dengan tatapan sendu.
Apakah aku ini benar-benar seorang anak yang dibuang? batin Lusy.
...👑👑👑👑👑...
Di tempat lain, seorang pria berpakaian formal memasuki lantai teratas sebuah gedung di pusat kota Empire State.
“Tuan, apa Anda sudah melihat berita hari ini?” tanyanya.
Seorang pria tua terlihat sedang mengayunkan stik golfnya di atas rumput sintesis, yang terbentang di sebagian besar ruang tersebut. Dia tak lain adalah sang Presdir Lunar Group, Bob Harvey.
Dia nampak tak menimpali pertanyaan sang asisten sebelumnya.
Jack terlihat mendekat dengan sebuah berkas yang ada di dalam amplop coklat muda.
“Semua ada di dalam sini, Tuan,” sahut Jack.
Tuan Harvey kemudian menyerahkan tongkat pemukulnya kepada Jack, dan meraih berkas tersebut. Pria tua itu berjalan ke arah meja kerja dan duduk di kursinya.
Dia membuka amplop tersebut dan mulai melihat seluruh informasi yang ada di dalam sana.
“Di mana Alex sekarang?” tanya Tuan Harvey.
__ADS_1
“Tuan muda saat ini sedang berada di ruangannya,” jawab Jack.
“Apa gadis itu sedang di area proyek?” tanya Tuan Harvey lagi.
“Benar, Tuan,” sahut Jack.
“Ayo kita ke sana dan mengajaknya minum secangkir kopi,” seru Taun Harvey.
“Baik, Tuan,” sahut Jack.
Kedua pria berbeda usia itu pun pergi meninggalkan ruangan besar di puncak gedung The Palace, menuju ke area proyek Paradise.
.
.
.
.
Hari ini sampe sini dulu ya bestie 🥰tadinya masu satu bab lagi, tapi ternyata tidak keburu🙏lanjut besok lagi ya 😘
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1