Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Orang itu


__ADS_3

Liana mengusap lelehan demi lelehan yang terus keluar dari matanya, saat mendengar kisah yang diceritakan oleh ayahnya. Dia membayangkan betapa putus asanya sang ibu, yang harus menunggu kekasih yang telah meninggalkannya dalam keadaan hamil seorang diri.


“Apa kau memang benar-benar se brengs*k itu?” maki Liana di sela tangisnya yang tak kunjung reda.


Ella yang juga berada di sana dan tak sengaja ikut mendengar cerita tersebut pun, turut merasakan kesedihan yang dialami oleh Lilian saat itu.


Sedangkan si kecil Paulo, dia masih terlalu muda untuk memahami hal-hal rumit orang dewasa semacam itu.


Peter terlihat menerawang jauh ke depan, seolah tengah membayangkan masa masa itu, di mana dia terpaksa harus merelakan gadis pujaan hatinya, bahkan dia tak tahu jika saat itu Lilian tengah mengandung buah hati mereka berdua.


“Maki saja aku semaumu. Aku memang pria brengs*k yang tak bisa memperjuangkan cintanya. Seorang pecundang sejati yang tak sanggup perjuangkan hal berharga dalam hidupnya,” ucap Peter.


Dia bahkan tak meneteskan sebulir pun air mata, seolah telah mengering hingga tak bersisa setetes pun.


Rasa sakit dan sesak di hatinya begitu kuat, namun dia sekuat tenaga menahan gemuruh dalam dadanya.


Liana masih sibuk menyeka air matanya yang terus mengalir menganak sungai di pipi.

__ADS_1


“Pasti ada alasan kenapa kau tak bisa kembali kemari. Kau bilang kau setia pada kekasihmu hingga memutuskan untuk melajang seumur hidup, bukan?” cecar Liana.


“Kau benar. Otak Presdir Wang memang selalu bisa melihat sisi yang orang lain tak bisa lihat. Jika ku katakan aku terpaksa, mungkin itu jawaban yang sangat, sangat, sangat brengs*k,” ucap Peter.


Dia meraih gelas air minum di sampingnya, dan meneguk setengah isinya untuk membasahi tenggorokannya yang mulai kering, akibat bercerita begitu lama.


“Kau ingat temanku, Moses? Aku ingat pernah menyebutkan bahwa dia aneh, dan seperti seorang homos*ksual. Sejak pesta syukuran rumah kediaman Keluarga Wang, aku tak pernah lagi bertemu dengannya, meskipun kami tinggal bersama. Dia seolah terus menghindari ku setiap kali aku pulang. Hingga saat aku bersiap untuk kembali ke Empire State, aku tak sengaja melihat dia sedang berbicara dengan seorang wanita,” lanjut Peter.


“Jangan bilang, kalau setelah melihat dia bersama wanita lain, kau baru sadar kalau kau juga punya ketertarikan dengan sesama jenis sepertinya, dan memilih meninggalkan ibuku demi dia? Menjijikan!” sahut Liana cepat.


“Hei, Nak. Aku ini masih normal. Kalau tidak, bagaiman mungkin bisa ada kau sekarang?” tepis Peter kesal.


Gadis itu kembali mengusap lelehan yang masih merembes dari pelupuk matanya.


“Maaf, Tuan Chen. Memang apa hubungan wanita itu dengan kemalangan nona kami?” tanya Ella yang akhirnya ikut bersuara.


Peter menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kisahnya.

__ADS_1


“Wanita yang bersama Moses itu adalah salah satu pelayan yang bekerja di mansion Dream Hill. Aku pernah melihatnya beberapa kali di sana. Saat itu, mereka sedang bertemu di depan toko buku, yang berada tak jauh dari tempat tinggal kami.”


“Saat itu, aku bermaksud untuk mengagetkannya dan ingin meledeknya, karena sudah tertangkap basah sedang bersama seorang wanita. Namun, belum juga muncul, aku lebih dulu melihat Moses memberikan sesuatu pada wanita tersebut, dan sayup-sayup mendengar, bahwa temanku berpesan pada wanita itu, agar melakukannya secara diam-diam dan perlahan, sampai ‘orang itu' mati,” lanjut Peter.


.


.


.


.


Orang itu? Siapa yah kira-kira🤔


lanjut besok lagi ya bestie 🥰hari ini sampe sini dulu😘


Besok jangan lupa siapin vote kalian semua buat neng Liana, oke😁

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2