
Keesokan harinya, Liana yang sudah merasa lebih baik, setelah menghabiskan dua kantung cairan infus semalaman, kini dia meminta Falcon untuk mengantarnya pulang ke apartemen.
Di tengah jalan, terdengar dering dari ponsel Falcon. Pria itu melihat nama Nine tertera di layar monitor. Dia pun segera menempelkan sebuah earphone ke telinga, dan menekan tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut.
“Ada apa?” tanya Falcon langsung.
Nampak pria itu mendengarkan dengan serius perkataan dari tangan kanannya di seberang sambungan.
“Baiklah. Kerja bagus. Kabari aku perkembangannya,” seru Falcon.
Pria itu kemudian memutuskan sambungan telepon tersebut. Dia melepas earphone dan meletakkannya kembali ke dash board mobil.
“Kakek mu sudah harus di operasi. Kondisinya semakin memburuk. Apa kau mau ke rumah sakit sekarang untuk melihatnya?” tanya Falcon.
“Apa kau tau di mana pelacuran itu?” tanya Liana.
"Untuk apa malah mencari mereka?" tanya Falcon.
Pria itu tak mengerti dengan jalan pikiran Liana.
"Katakan saja, apa kau tau di mana mereka?" tanya Liana lagi.
“Mereka tidak ada di rumah sakit. Menurut Nine, di sana hanya ada Jimmy dan beberapa pengawalnya” jawab Falcon.
“Bisa-bisanya mereka masih santai, sementara kakek sedang kritis. Kita ke dream hill sekarang!” seru Liana.
Falcon tak menyahuti dan segera melajukan mobilnya menuju ke perbukitan, di wilayah timur negara bagian A.
Tujuan mereka adalah mansion keluarga Wang di dream hill. Liana sangat yakin jika saat ini, kedua wanita penipu itu tengah berada di sana.
Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, kini mereka telah tiba di depan gerbang rumah besar itu.
Falcon nampak mengeluarkan sebuah remote yang mirip dengan yang dimiliki Liana. Gadis itu melirik nya sekilas dan tersenyum mengejek.
“Dasar tukang tiru,” ejek Liana.
Gadis itu sangat yakin, jika Falcon sudah menduplikasi remote pembuka gerbang otomatis itu, saat dia pertama kali ke Grey Town dan meninggalkan mobilnya di sana.
Remote itu juga lah yang dipakai untuk masuk oleh orang-orang yang mengacau tempur hari, dan membuat Kakek Joseph kembali sakit.
Saat menyadari hal itu, susana hati Liana kembali suram, karena secara tak langsung, dia memiliki andil dalam kondisi yang saat ini sedang menimpa kakeknya.
Mobil telah masuk dan berhenti tepat di depan tangga depan rumah besar itu.
“Turunlah! Kita sudah sampai,” ucap Falcon.
__ADS_1
Liana nampak melepaskan seatbelt nya dan melangkah keluar dari mobil. Sebelum menutup pintu, gadis itu berbalik dan sedikit membungkuk untuk melihat pria yang telah mengantarkannya.
“Bisa tunggu aku di sini? Aku butuh tumpangan untuk kembali ke Golden City,” ucap Liana.
“Baiklah. Tapi kali ini tidak gratis,” sahut Falcon.
“Dasar perhitungan! Tunggu di sini!” seru Liana.
Gadis itu pun berjalan ke arah pintu dan mengetuk beberapa kali. Nampak seorang pelayanan menyambutnya dan mempersilahkan gadis itu untuk masuk.
Liana mengedarkan pandangannya, dan melihat jika kondisi di rumah tersebut begitu sepi.
“Di mana kedua wanita itu?” tanya Liana.
“Maksud kamu siapa, Lilian?” tanya pelayan itu.
“Jessica dan Caroline,” jawab Liana.
“Hei, sopan lah sedikit. Mereka itu majikan di rumah ini. Kita hanya sekedar pekerja saja,” seru pelayan yang dulu pernah menjadi teman kerja Liana di rumah tersebut.
“Oh iya! Maaf, aku lupa. Di mana meraka?” ralat Liana.
Gadis itu harus berpura-pura untuk bersikap baik, dan tidak menunjukkan jati diri yang sebenarnya kepada kedua orang itu.
Liana harus tetap berpura-pura menjadi orang lain di hadapan mereka, agar rencananya bisa berjalan lancar.
“Baiklah. Terimakasih,” sahut Liana.
Gadis itu pun segera naik ke lantai atas, dan Berjalan mendekati kamar yang di tempati oleh Jessica.
Sesampainya di depan pintu, Liana mencoba meraih handle, dan hendak memutarnya. Namun, Samar-samar dia bisa mendengar suara dari dalam.
Gadis itu pun kemudian berdiri di samping pintu, dan mendengarkan dengan seksama pembicaraan kedua wanita di dalam sana.
...👑👑👑👑👑...
Di dalam ruang kamar yang di tempati Jessica, nampak Caroline tengah membujuk putrinya.
“Ibu. Aku sudah bilang padamu kalau ini tidak akan berhasil. Lihat kan! Sampai sekarang kita bahkan tidak tau kabar tentang orang tua itu. Bagaimana kalau dia mati dan kita menjadi tersangkanya?” ucap Jessica.
“Tidak mungkin. Saksinya banyak. Bukan kita yang membuat kakek tua itu sakit. Ini semua karena anak buah Long yang datang mencari mu,” sanggah Caroline.
“Apa bedanya, Bu. Kita bahkan baru saja masuk ke rumah ini dan semua kekacauan itu malah terjadi. Pria bernama Jimmy itu pasti akan marah pada kita, saat tau kalau aku ini seorang pelacur. Ini semua salah ibu! Harusnya Ibu tidak mengatakan kalau aku ini seorang model,” keluh Jessica kesal.
“Ayolah, Jessica. Kita sudah bersusah payah sampai tahap ini. Bagaimana mungkin kita mundur dan pergi begitu saja tanpa mendapatkan apapun. Sudahlah. Kau tidak perlu khawatir. Selama pak tua itu percaya padamu, pria bernama Jimmy itu pun tak akan berani berbuat apapun padamu,” bujuk Caroline.
__ADS_1
“Kenapa Ibu bisa begitu yakin?” tanya Jessica.
“Bukankah Ibu sudah pernah bilang, kalau semua ini berkat pertolongan seseorang. Kalau saja Ibu tidak bertemu dengannya, mana mungkin ibu tahu kalau si Liana, anak kurang ajar itu adalah cucu orang kaya,” tutur Caroline.
“Ibu. Jujur padaku. Siapa orang itu?” tanya Jessica.
“Kau tidak perlu tau. Yang terpenting, tugasmu sekarang adalah membuat kakek tua itu tetap percaya padamu,” ucap Caroline.
Jessica diam. Dia mencoba memikirkan kembali bujukan dari ibunya.
Caroline pun maju mendekat, dan merengkuh pundak putrinya itu. Dia kembali mengatakan sesuatu yang bisa meyakinkan Jessica.
“Sayang, Ibu yakin kamu tidak ingin menjadi pelacur untuk selamanya bukan. Inilah saatnya kita membalikkan keadaan. Anggap saja, ini kompensasi karena kita telah merawat cucu Pak tua Wang selama bertahun-tahun,” bujuk Caroline.
Jessica menarik nafas, dan mengangguk setuju dengan yang dikatakan oleh ibunya.
“Kau benar, Bu. Kita manfaatkan saja semua ini untuk lepas dari jeratan Kak Long,” ucap Jessica.
“Bagus. Sekarang, ayo kita turun. Minta supir untuk mengantarkan kita ke rumah sakit. Setidaknya, kita harus berpura-pura peduli pada kakek tua itu, sambil mencari cara agar hartanya bisa kita kuasai sepenuhnya,” ucap Caroline.
Jessica kembali mengangguk. Dia pun berjalan bersama ibunya keluar kamar. Namun, saat dia membuka pintu dan hendak melangkah keluar, dia tersentak kaget dan membuat satu langkah mundur.
Kedua wanita itu terkejut dengan keberadaan Liana, yang tengah berdiri di samping pintu.
“Se... Sedang apa kau di sini?” tanya Jessica.
Gawat! Anak ini kenapa bisa di sini? Jangan sampai dia mendengar semua pembicaraanku dengan Ibu di dalam, batin Jessica.
Liana berbalik dan berjalan ke depan pintu, di mana kedua wanita itu masih tampak terkejut dengan keberadaannya.
“Kalian berdua sudah tertangkap!” ucap Liana.
.
.
.
.
Hari ini lunas yah😊🙏maaf malam sekali😅ini juga sambil minta dipijitin🤭
Jangan lupa, besok hari sabtu ya gais, othor up cuma se kali aja dan akan up 3x sehari mulai hari senin lagi😊
So, happy weekend😘
__ADS_1
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘