Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Kau!?


__ADS_3

“Ehm, boleh saya tau siapa di antara kalian yang bernama Nona Wang?” tanya pria itu.


“Saya. Apa ada masalah?” tanya Liana balik.


“Saya mendapat pesan bahwa Anda tidak akan ikut rombongan. Akan ada yang menjemput Anda nanti dan membawa Anda berkeliling melihat lahan,” jawab pria itu.


“Lalu meeting nya?” tanya Liana.


“Meeting nya diundur besok pagi,” jawab si pria.


“Baiklah. Kalian ikutlah tuan ini. Sepertinya aku harus bekerja lebih banyak,” sindir Liana.


“Semangat, Nona Wang,”


“Semangat, Nona Wang,”


Seru semua rekannya sambil mengangkat kedua lengan dan mengepalkan tangannya di udara, untuk menyemangati gadis itu.


Liana tersenyum melihat tingkah rekannya yang justru mengoloknya. Hal itu biasa mereka lakukan untuk mencairkan suasana ketika bekerja.


“Dasar kalian. Ya sudah. Sekalian aku mau Jalan-jalan. Jangan minta titip apapun padaku,” seru Liana.


Semua tertawa. Mereka pun pergi dan meninggalkan Liana seorang diri di bandara, menuju ke tempat peristirahatan yang sudah disiapkan.


Sementara Liana, gadis itu menarik kopernya dan berjalan menuju ke luar dari bandara. Dia berdiri di depan pintu keluar, menunggu jemputannya datang.

__ADS_1


Terdapat sederet bangku tunggu di tepi jalan. Liana memilih untuk duduk dan menunggu di sana. Koper yang dibawanya ia letakkan tepat di sampingnya.


Gadis itu mengambil ponselnya dari dalam tas punggung dan mencoba menghubungi sang kakek. Dia ingat jika kakeknya berpesan untuk segera mengabarinya sesampainya di kota itu.


“Halo, Kek,” sapa Liana.


“Halo, Nak. Bagaimana perjalanan mu? Di mana kau sekarang?” tanya sang kakek.


“Penerbangannya lancar, Kek. Aku masih di bandara. Mereka memintaku langsung meninjau lokasi sesaat setelah landing. Mereka benar-benar keterlaluan. Apa tidak mempertimbangkan kalau tamunya mungkin sedang mengalami yang namanya jetlag,” gerutu Liana.


“Itu resiko menjadi seorang pebisnis, Nak. Kau sendiri yang bilang ingin membuka satu cabang di sana bukan. Ambil kesempatan ini untuk memulai semuanya dengan baik,” seru sang kakek.


“Ya... Ya... Aku tau!” sahut Liana kesal.


“Dasar anak nakal! Dengarkanlah nasehat baik darin kakekmu ini,” keluh Kakek Joseph.


“Hish! Kau ini. Apa tidak bisa kau bicara baik-baik dan halus dengan kakekmu ini?” gerutu Kakek Joseph.


“Hahahaha... Ayolah, Kek. Bukankah ini sifat yang Kakek wariskan padaku,” sahut Liana.


“Dasar anak nakal!” ucap Kakek Joseph kesal.


“Hehehe... Jangan marah, Kek. Ingat untuk selalu jaga kesehatan jantungmu,” seru Liana.


“Aku lebih tau dari pada kamu, anak muda,” sahut kakek.

__ADS_1


“Oh iya, Kek. Apa kau tau, tadi ayah mengantarku pergi. Aku sangat senang dia mau memenuhi permintaanku,” ucap Liana.


Kakek Joseph diam. Tak ada sahutan dari seberang, sehingga Liana pun kembali melanjutkan perkataannya.


"Bisakah Kakek tidak membencinya lagi? Aku yakin pasti ada alasan kenapa Ayah sampai harus pergi meninggalkan Ibu. Aku tau itu sebuah kesalahan besar. Tapi, apa Kakek tau kalau sampai sekarang pun dia masih setia pada Ibu?"


"Yah, meski aku belum bisa membuktikan hal itu, tapi bisakah Kakek membiarkan ku yang mencari tahu sendiri semuanya? Aku tidak akan mendesaknya untuk berbicara atau memaksanya menerima seorang putri, yang yang tiba-tiba saja muncul dan sudah sangat besar seperti ku. Aku hanya ingin dekat dengannya saja. Bolehkan, Kek?” pinta Liana.


Belum terdengar jawaban dari seberang, tiba-tiba seseorang duduk begitu saja di samping Liana, sambil merentangkan lengannya di pundak gadis itu seakan tengah merangkulnya. Liana pun begitu terkejut Dan seketika fokusnya teralihkan. Dia menoleh seraya memundurkan badannya.


Matanya membola saat menyadari siapa orang yang sudah bersikap sembarang seperti itu kepadanya.


“Kau!”


.


.


.


.


Siapa hayoooo😁😁😁😁😁😁


besok mau up sore ah, biar kalian penasaran 🤭othor lagi mode jail😈😈😈😈

__ADS_1


kalo kopinya banyak, mungkin othor berubah pikiran 🤣🤣🤣🤣(ketawa jahat)


__ADS_2