
Di jalanan kota Empire State, sebuah mobil Jeep Rubicon melaju dengan sangat cepat. Pengemudinya seperti sedang kesetanan.
Falcon tengah memburu waktu untuk mengejar Liana yang telah lebih dulu pergi ke bandara, karena khawatir gadisnya itu akan pergi meninggalkan dirinya.
Pertemuan Liana dengan sang kakek belum ia ketahui dengan jelas masalahnya, sedangkan saat mengetahui keberadaan Liana, gadis itu telah pergi ke bandara.
Pikiran Falcon pun seketika kalut dan tak bisa lagi berpikir dengan tenang. Dia menginjak pedal gas dalam-dalam dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga membuat pengguna jalan lain merasa terganggu.
Beberapa kali Falcon hampir menyebabkan kecelakaan, jika saja pengendara lain tak bisa mengendalikan laju kendaraan mereka.
Liana, aku mohon kau jangan pergi. Apapun yang dikatakan orang tua itu, ku mohon jangan menyerah padaku, batin Falcon.
Dia terus melajukan mobilnya hingga tiba di Bandara Internasional Platina, yang masih dikelola oleh The Palace.
Sesampainya di depan bandara, Falcon segera menghentikan mobilnya begitu saja di tepi jalan, sedangkan dia sendiri keluar dari sana dan berlari ke arah dalam.
Pria itu terlihat memperhatikan papan pengumuman keberangkatan dan mencari pesawat dengan tujuan Golden City.
Namun, betapa terkejutnya dia bahwa pesawat dengan rute tersebut lima menit lagi akan lepas landas, dan itu berarti seluruh penumpang telah masuk ke dalam sana.
Dia mengusap kasar wajahnya dan mengacak rambutnya yang sudah tak beraturan. Terbersit ide gila untuk menerobos masuk ke dalam pintu pemeriksaan petugas, dan mencari keberadaan Liana di dalam sana.
“Permisi. Aku perlu masuk ke dalam. Ijinkan aku masuk untuk mencari seseorang. Tolonglah,” ucap Falcon.
Petugas di sana nampak terkejut dengan kehadiran Falcon, yang tiba-tiba saja datang meminta masuk tanpa memiliki tiket bahkan passport.
__ADS_1
“Maaf, Tuan. Tapi Anda tidak boleh masuk tanpa adanya tiket,” sahut si petugas.
“Tolonglah. Hanya sebentar,” pinta Falcon.
Petugas yang lain terlihat mencari bantuan, untuk mengusir Falcon dari sana. Sedangkan karena tak juga mendapatkan ijin, Falcon terpaksa menerobos masuk begitu saja, namun segera dihalangi oleh petugas keamanan yang saat itu berjaga tak jauh dari sana.
Meskipun dia adalah cucu dari pemilik tempat tersebut, namun dia sama sekali tak memiliki ijin untuk melakukan hal tersebut.
"Maaf, Tuan. Anda tidak bisa seenaknya seperti ini di tempat ini!" seru si petugas.
"Tapi aku ini cucu Tuan Bob Harvey, pemilik bandara ini!" sanggah Falcon sengit.
"Sekalipun Anda anak Sultan, tapi Bandara ini tetap memiliki aturannya sendiri. Tuan Harvey pun tahu akan hal itu dan beliau juga menghormati otoritas kami. Cepat bawa tuan ini pergi!" seru salah seorang yang terlihat memiliki wewenang tinggi di bandara.
Falcon pun terpaksa diseret oleh petugas agar menyingkir dari sana. Namun, pria keras kepala itu terus mendesak dan bahkan mengajak berkelahi para petugas yang terus memeganginya.
“Maaf, Tuan. Lagipula pesawat sudah berada di lintasan run away. Meskipun Anda bisa melewati pos ini, namun Anda sudah tidak bisa naik ke pesawat itu,” ucap salah satu petugas.
“Tapi...,” sanggah Falcon.
“Lihat! Pesawatnya sudah lepas landas,” sela petugas tadi.
Falcon pun seketika menoleh ke arah dinding kaca yang memperlihatkan sebuah pesawat, yang baru saja terbang meninggalkan bandara tersebut.
Tubuhnya seketika lemas, bahkan kakinya seakan tiba-tiba tak mampu menapak dengan kuat di tanah. Para petugas perlahan melepaskan pria itu, melihat Falcon yang sudah tak bisa berbuat apapun lagi.
__ADS_1
Dia berjalan gontai ke arah dinding transparan tersebut, dan memandangi kepergian pesawat yang diyakininya telah membawa Liana pulang.
Kakinya lemas seolah sama sekali tak ada tenaga lagi yang tersisa di dalam tubuhnya. Hatinya hancur karena mengira Liana memilih pergi, dan menyerah mempertahankan hubungan mereka berdua yang baru saja berjalan kurang dari dua bulan.
Pria itu roboh, dengan kedua kakinya yang berlutut di atas lantai, dengan wajah yang tertunduk lesu.
Air mata menggenang di pelupuk matanya, dan hampir tak bisa dibendung lagi. Dadanya sesak dan bergemuruh, membuatnya seakan ingin meledak.
Falcon menjerit sejadinya, karena sudah tak mampu menahan sakit yang diakibatkan oleh kepergian Liana.
“AAAARRRRRGGGHHHH...... LIANA.... AAAAARRRRGRGHHHHH.....!”
.
.
.
.
Met hari senen bestie, vote mana vote🤭
nggak ada spoiler, pokoknya tunggu aja kelanjutannya oke 😉
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘