
Setelah hari itu, Falcon menghabiskan hari-harinya untuk mabuk dan menyiksa diri sendiri. Dia akan terbangun dengan sakit kepala berat, dan kembali pergi ke bar begitu merasa sudah membaik.
Dia bahkan tak pergi ke kantor karena tak sanggup melihat kondisi Liana yang menurutnya menyedihkan. Dia akan menyalahkan diri sendiri saat Liana nampak lemah tapi dia tak bisa muncul dan menguatkan gadis tersebut.
Falcon merasa benar-benar tak berdaya. Baru kali ini dia memilih menyiksa dirinya saat memiliki sebuah kesulitan.
Tak seperti sebelumnya, di mana dia pasti akan bertindak cepat dan menyelesaikannya hingga tuntas. Semua itu karena kini dia tak lagi memiliki kekuatan apapun.
Semuanya dirampas oleh sang kakek, bahkan untuk sekedar bernafas pun sudah diatur oleh pak tua itu.
Falcon hanya bisa memberontak dengan cara menyiksa dirinya seperti sekarang ini, berharap agar Tuan Harvey kecewa padanya dan melepaskannya kembali. Baru kali ini dia berharap menjadi orang terbuang, agar bisa hidup bebas dan bahagia bersama Liana, seperti sebelumnya.
Tuan Harvey benar-benar murka melihat kelakuan cucu lelaki satu-satunya itu, yang selalu pulang dalam kondisi mabuk berat.
Amber yang sudah tau kondisi tersebut sejak awal pun, selalu memprovokasi Tuan Harvey dan membuatnya meradang.
“Benar-benar Keterlaluan. Sudah berhari-hari dan dia masih saja melakukan hal bodoh seperti itu? Apa dia mau membuat perusahaan ku bangkrut?! Anak itu harus diberi pelajaran agar tak berbuat seenaknya begini. Jack, di mana gadis itu sekarang?” tanya Tuan Harvey.
“Menurut infomasi, tim Paradise saat ini sedang meninjau lahan yang akan digunakan untuk pembangunan proyek tersebut, Tuan. Apa kita akan ke sana?” jawab Jack.
__ADS_1
“Bawa gadis itu padaku. Sepertinya, memang harus aku yang turun tangan agar berandalan itu mau berhenti merengek,” ucap Tuan Harvey.
“Baik, Tuan,” sahut Jack.
Sang asisten pun kemudian menemui Liana di lahan. Saat itu waktu sudah lewat tengah hari dan hampir jam pulang kantor.
Saat itu lah, Jack datang dan menjemput Liana pergi. Semua tim baik dari The Palace maupun Wang Construction, melihat kedatangan Jack yang merupakan asisten dari Bob Harvey, dan membawa Liana pergi.
Tim The Palace mengajak tim Liana untuk keluar sebentar untuk bersenang-senang sebelum kembali ke penginapan. Namun, tim Liana menolak dan memilih hari lain untuk menerima ajakan dari rekan mereka.
“Sepertinya pimpinan kami akan kurang senang jika saat ini kami justru bermain-main. Bagaimana kalau esok hari sebelum kami pulang. Yah, hitung-hitung sebagai pesta perpisahan,” ucap salah satu perwakilan Wang Construction.
“Baiklah,” sahut tim Liana.
Mereka pun berpisah, karena mobil yang ditumpangi pun berbeda. Semua tim Liana kembali ke penginapan, sementara tim Falcon, mereka menuju ke sebuah bar yang ada di daerah pusat kota.
Sore hari, klub malam belum ada yang buka, namun kedai minum kecil sudah buka sejak siang, karena juga digunakan sebagai restoran BBQ.
Di sana, mereka tak sengaja bertemu dengan Falcon yang sudah berhari-hari menghilang dan tak pernah terlihat masuk kerja.
__ADS_1
“Hei, apa itu Alex?” tanya salah satunya.
“Aku rasa itu dia. Kalian cari tempat duduk dulu. Biar aku ke sana sebentar melihatnya,” sahut yang lain.
.
.
.
.
Mabuk lagiiii.... ah! mabuk lagiiiii....
ngopi lagiiiii ah! ngopi lagiiiii....
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1