Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Sosok Familiar


__ADS_3

Dia kembali menggerakkan ibu jarinya dan menggulirkan layar ke bawah, hingga sampailah ia pada nomor yang diberi nama 'Kakek'. Dia menekan tombol dial dan mendekatkan benda pipih tersebut ke telinganya.


“Halo, Nona. Ada yang bisa saya bantu,” sapa seseorang di seberang.


“Paman, apa Kakek sedang bersamamu sekarang?” tanya Liana pada pria yang sudah tentu adalah asisten dari kakeknya.


“Tuan sedang melakukan pemeriksaan rutin di rumah sakit. Beliau menitipkan ponselnya padaku,” jawab Jimmy.


Pemeriksaan? Ya ampun, durhaka sekali aku jadi cucu. Jadwal checkup rutin Kakek saja sampai lupa. Padahal sebelum Kakek mengumumkan ku sebagai cucunya, aku selalu ingat dan datang diam-diam, batin Liana.


Gadis itu terlihat menepuk keningnya dan sesekali terlihat memijat pelipisnya.


“Apa sekarang kalian masih di rumah sakit?” tanya Liana.


“Benar, tapi kata Tuan, Nona tidak perlu datang kemari. Tunggu saja beliau di dream hill,”ucap Jimmy.


Dasar Kakek. Selalu ingin terlihat kuat dan dominan. Itu pasti alasannya kenapa aku tidak diperbolehkan melihat kondisinya yang sedang menjadi pasien, benarkan? cibir Liana dalam hati.


“Baiklah. Kebetulan aku juga ingin berlibur sebentar. Paman, boleh kah aku pakai hak istimewa ku sebagai cucu Presdir Wang untuk bolos kerja setengah hari ini?” tanya Liana.


“Tentu, Nona. Akan saya urus semua untuk Anda,” sahut Jimmy.

__ADS_1


“Baiklah. Terimakasih, Paman. Sampai jumpa di rumah,” ucap Liana.


Gadis itu pun memutus sambungan telepon. Namun, gerakan tangannya mengambang kala mengingat perkataan terakhirnya.


“Rumah? Sejak kapan aku begitu akrab dengan kata itu?” gumam Liana.


Pandangan sendu kembali terlihat di sorot mata bening Liana, kala teringat perjalanan hidupnya yang harus ia lalui sebatang kara. Bukan hanya untuk sekedar bertahan hidup, melainkan juga harus melewati hari-hari berat tanpa dukungan dari siapa pun.


Genangan muncul di pelupuk mata gadis itu, namun dia cepat-cepat menyekanya hingga tak sampai jatuh. Dia pun buru-buru memasukkan kembali ponselnya dan bangkit dari duduknya.


Dengan cepat, Liana berjalan meninggalkan bangku taman favoritnya di taman tersebut, dan bergegas menuju ke tempat parkir di mana mobilnya berada.


Namun, karena terburu-buru dan kurang memperhatikan jalan, Liana tiba-tiba saja menabrak seseorang yang berjalan tepat di depannya. Tas punggung yang belum ia pakai dengan benar pun akhirnya terjatuh ke tanah. Liana segera berjongkok, akan tetapi orang itu lebih dulu meraih tas milik gadis tersebut dan menyerahkannya pada Liana.


Pria itu mengulurkan tas punggung itu sambil mengulas senyum yang terlihat begitu ramah, hingga membuta Liana terpana. Gadis itu seperti tersihir hingga tak bisa lepas dari manik hitam pria tersebut.


Rasa dekat dan familiar, membuat Liana terus memperhatikan pria di depannya tanpa berkata-kata.


“Maaf ya, Nona,” ucapnya.


Liana hanya mengangguk, dan tangannya terulur meraih tas yang diberikan pria tersebut.

__ADS_1


Setelah mendapatkan tasnya kembali, Liana tiba-tiba tersadar dari sihir pria itu.


“Trimakasih. Maaf, saya buru-buru,” ucapnya.


Gadis itu pun kemudian kembali berjalan cepat ke arah mobilnya, dan meninggalkan orang yang telah ditabrak tadi.


Namun, ketika baru saja duduk di dalam mobil, tiba-tiba gerakannya terhenti, saat sekilas pandangannya menangkap potret sang bunda yang berada di dashboard.


Wajah pria tadi kembali muncul di kepalanya. Seketika, otak cerdasnya memutar lagi memori yang pernah dilaluinya dan mencoba mencari kemiripan pria tersebut dengan seseorang yang dikenalnya.


Lalu, tanpa diduga, Liana keluar dan berlari ke arah tempat di mana dia berpapasan dengan pria tadi.


Itu dia! Aku yakin itu pasti dia!


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2