
Di tempat lain, nampak sebuah kamar di lantai tiga terlihat berantakan, dengan barang-barang yang berserakan di lantai.
AAAAARRRRGGGGGHHHHH!
Teriak seorang wanita yang berada di ruangan tersebut. Dia nampak membanting semua benda yang bisa dijangkau oleh tangannya ke lantai, hingga semuanya bercecer di mana-mana.
“Si*l! Kenapa ada orang lain yang tahu tentang masalah ini? Siapa gadis itu? Beraninya dia membuatku tak bisa berkutik sama sekali! AAAARRRRGGGGGHHHH!” teriak Amber, si nyonya pertama yang merasa telah kalah dari Liana di awal.
Dia begitu kesal, karena gadis itu mengetahui rahasianya mengenai Lusy, putri hasil hubungan terlarangnya dengan Moses Jung.
Dia mengira jika tak ada lagi yang tahu, bahkan Tuan Harvey pun belum jelas mengungkapkan masalah itu. Tapi ternyata, seorang gadis belia justru tahu dengan jelas masalah ini, dan menyerang Amber hingga membuatnya diam seketika.
“Aku tak boleh membiarkannya bertindak sesuka hati, hanya karena memiliki kartu matiku. Aku harus memikirkan sebuah cara untuk membalas gadis kampungan si*lan itu,” gumam Amber.
Wanita itu terus mondar-mandir di dalam kamarnya, sambil menggigiti kuku ibu jarinya. Dia benar-benar panik, karena takut jika rahasianya terungkap. Sudah pasti Tuan Harvey tak akan pernah mau menerimanya lagi di keluarga ini.
“Aku harus cari cara untuk menyingkirkan gadis kurang ajar itu. Jung! Dia sumber dari semua masalah ini, jadi dia jugalah yang harus mengurusnya. Yah, benar. Aku harus mencarinya dan meminta dia untuk bertanggung jawab,” gumam Amber.
Dia kemudian berjalan ke arah walk in closet, dan mengambil baju ganti serta sebuah mantel dari sana. Saat dia baru saja akan memakainya, terdengar sebuah ketukan di pintu.
Awalnya, Amber tak menghiraukannya, dan terus berganti pakaian. Namun, sebuah suara membuatnya menghentikan semua gerakan.
__ADS_1
“Nyonya, makan malam sudah siap. Silakan turun ke bawah,” seru suara seorang pelayan yang mengetuk pintu dari laut.
“Katakan pada mereka kalau aku tidak akan ikut makan malam!” sahut Amber.
“Maaf, Nyonya. Apa Anda lupa peraturan dari tuan besar? Tidak ada yang boleh membantah setiap kali waktu makan tiba. Semua harus ada di meja makan. Kecuali jika dia dalam kondisi sekarat,” ucap si pelayan.
“AAAAAARRRRGGGGGHHHHH! Si*l! Aku benar-benar tidak bisa melakukan apapun kali ini!” pekik Amber kesal.
Dia pun kembali membuka mantel yang sudah terpakai di sebelah lengan, dan membantingnya ke lantai.
“Nyonya,” pangggil si pelayan.
Wanita itu pun kembali menanggalkan pakaian yang tadi hendak digunakan untuk pergi ke luar, dan memakai kembali baju rumah yang ia pakai sebelumnya.
Dengan wajah yang masih kesal dan masam, Amber pun ke luar dan menuju ke arah meja makan.
Wanita itu seketika duduk di samping kanan kursi sang suami, David Harvey, berhadapan dengan madunya, si nyonya kedua rumah tersebut. Kebetulan sang suami saat ini tidak berada di tempat karena ada urusan di luar kota, sehingga kursi tersebut kosong tak berpenghuni.
Disusul kemudian keempat tuan putri di kediaman Harvey, dengan masing-masing dua orang di samping ibu mereka. Tuan Harvey duduk di ujung yang lain, diapit oleh dua buah kursi yang juga masih kosong, yang kemungkinan akan ditempati oleh Liana dan juga Falcon.
Amber melihat gadis yang sudah berani mengancamnya tidak ada di sana. Dia pun kembali bersikap tenang dengan kepala yang ia angkat tinggi.
__ADS_1
“Semua sudah di sini. Apa lagi yang kalian tunggu? Cepat hidangkan...,” seru nyonya pertama kepada para pelayan.
“Tunggu sebentar! Masih ada orang yang belum hadir di sini,” sela Tuan Harvey.
“Dad, lihatlah. Selain Dave, semua orang sudah berkumpul. Apa kau menunggu Alex? Bukankah dia seharusnya mengantarkan tamu mu pulang?” ucap Amber.
Tiba-tiba, dari arah belakang, muncul sepasang anak muda yang berjalan menghampiri meja makan.
“Apa yang Anda maksud adalah saya, Nyonya?” ucap si gadia cantik itu.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1