
Di UGD rumah sakit Northern Hospital, terlihat seorang pria dengan wajah babak belur, tengah diobati oleh perawat. Ada beberapa luka yang bahkan perlu jahitan, karena robek cukup lebar.
“Sudah selesai. Lain kali, jangan berkelahi lagi ya. Kau itu tampan, Tuan. Sayang sekali jika wajahmu ini sampai rusak,” seru sang perawat.
“Wah... Aura tampanku rupanya belum hilang. Bahkan di saat wajahku penuh lebam kebiruan begini pun, masih ada yang bilang aku tampan. Hehehe,” kelakar si pria.
Dia tak lain adalah Q, yang baru saja dihajar habis-habisan oleh Falcon, karena telah berani membocorkan informasi mengenai tempat persembunyian Peter pada Moses Jung.
“Hish... Ayolah, Dok. Siapa yang tak kenal Dokter Lion Law. Si jenius yang sudah banyak mendapat penghargaan, dan juga terkenal di mana-mana,” ucap si perawat.
“Hehehe... Apa kau salah satu penggemar ku? Mau minta tanda tangan, hah?” goda Q.
Perawat tersebut tersenyum tipis. Dia kemudian menyodorkan selembar formulir persetujuan, perihal penanganan medis kepada Q.
“Tolong beri aku tanda tangan di sini saja,” ucap si perawat.
“Oh, ayolah. Apa kau hanya mau tanda tanganku di sini?” ucap Q
“Cepatlah. Aku masih harus menangani pasien lainnya,” seru si perawat.
“Baiklah. Baiklah,” sahut Q.
Dia pun membubuhkan tanda tangannya di sana. Setelahnya, sang perawat bangkit dan memberikan resep obat kepada Q untuk ia tebus di apotik.
__ADS_1
“Apa aku benar-benar tidak perlu rawat inap?” tanya Q saat perawat itu berlalu meninggalkannya.
“Kami bahkan kekurangan kamar sekarang. Apa Anda bersedia tidur di lorong rumah sakit, Dok?” sahut perawat itu dengan entengnya.
Dia kemudian kembali berbalik dan menahan tawa, sembari geleng-geleng karena melihat sikap Q yang begitu genit.
“Kenapa akhir-akhir ini para perawat sangat sulit untuk di rayu? Ah... Sudah lah. Aku sebaiknya pergi saja,” gumam Q.
Dia pun keluar dari ruang UGD, dan berjalan ke arah lobi. Akan tetapi, saat dia baru saja sampai di ujung lorong, dia melihat dari kejauhan, Falcon keluar dari lift dan terlihat begitu terburu-buru pergi.
Dia pun kemudian teringat Liana yang masih berada di ruang perawatan seorang diri, karena sang kakak pun pergi untuk mencari di mana Henry membawa Peter.
Q kemudian berbalik menuju ke arah kamar Liana.
Saat dia baru saja sampai di lantai bangsal VIP, Q berpapasan dengan seorang petugas cleaning service yang membawa kereta dorong berisi peralatan kebersihan.
Dia melihat petugas itu sekilas. Dia memakai penutup wajah, dengan pandangan yang terus tertunduk. Q kemudian melanjutkan langkahnya keluar menuju ke ruangan di mana Liana berada.
Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti, dengan mata yang membelalak kaget. Di ujung lorong, tepatnya di depan ruang rawat Liana, nampak beberapa petugas keamanan dan anak buah Falcon sudah tumbang, jatuh ke lantai tak sadarkan diri.
Firasat buruk seketika menghampirinya. Dia pun segera berlari ke sana dan melihat jika pintu ruangan tersebut terbuka, dan Liana sudah tak ada di atas tempat tidurnya.
__ADS_1
Bahkan, selang infusnya pun telah dilepaskan begitu saja, dan isinya tercecer di lantai.
Dia kemudian teringat sesuatu, dan segera berlari menuju ke arah lift. Namun, sesampainya di sana, lift terasa begitu lama sampai di atas.
Q pun memilih turun dengan tangga darurat dan berlari sampai ke parkiran basement, jalur yang selalu digunakan kawanan dunia bawah untuk keluar masuk sebuah tempat.
Sambil berlari, Q mencoba menghubungi sang kakak, akan tetapi nomor Long selalu saja sibuk. Ia mencoba menghubungi Falcon, tapi sama sekali tak diangkat, bahkan dimatikan begitu saja.
“Ayolah! Sedang apa kalian semua?” keluh Q kesal.
Dengan kecepatan penuh, Q akhirnya telah sampai di basement. Saat dia tiba di sana, sebuah mobil van, baru saja melaju di depannya. Dia melihat si petugas cleaning service yang tadi, duduk di kursi depan dan membuka penutup wajahnya.
Q seketika mematung melihat siapa yang sudah membawa pergi Liana.
“Alice?!”
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘