
Sore hari, laut mulai terlihat jingga di ujung barat sana. Kedatang Ella di tempat tersebut, cukup membantu Liana saat fokusnya hanya menjaga sang ayah.
Setidaknya ada yang melayaninya di saat dirinya lalai dalam menjaga diri ketika dia harus menjaga orang lain.
Kepulangannya ke Golden City juga belum diketahui oleh siapapun kecuali orang-orang terdekatnya, sehingga memudahkan dia untuk bersembunyi dan mengandalkan timnya untuk mengurus semua proyek yang sedang ia tangani.
Setelah menemukan keberadaan Peter, semua masalah yang berkaitan dengan pria itu, hanya Liana yang boleh melakukannya. Sehingga Ella hanya bisa membantunya dengan hal lain, seperti memasak dan menyiapkan hal-hal lainnya.
Untuk urusan cuci mencuci, Paulo akan membawa baju kotor setiap hari untuk di cuci oleh ibunya di daratan utama, dan membawa kemari lagi saat semuanya sudah kering dan rapi.
Bahkan untuk bahan makanan pun, si kecil itu yang akan membawakannya dari daratan. Anak kecil tersebut sudah sangat membantu mereka, meski sikapnya kepada Liana sangat kurang ajar.
Menjelang petang, Falcon mendekati Liana yang tengah duduk di sebuah bean bag, dengan kedua lutut yang tertekuk di depan dada.
“Apa kau lelah? Istirahatlah sejenak,” seru Falcon.
Liana tak menjawab dan dia justru menyandarkan kepalanya di pundak pria itu. Falcon pun merangkul lengan gadisnya dan memeluknya dari samping.
“Esok, pagi-pagi buta, aku harus pergi ke suatu tempat. Kau jaga diri di sini, hem,” ucap Falcon.
Liana melingkarkan lengannya di pinggang sang pria, dan memeluk kekasihnya dengan erat.
__ADS_1
“Apa kakekmu sudah memintamu untuk pulang?” tanya Liana.
“Belum. Tapi jika aku terlalu lama di sini, pasti dia akan cerewet lagi dan memaksaku untuk pulang meski aku tak mau. Ujung-ujungnya, kau tau sendiri apa yang akan dia lakukan,” jawab Falcon.
“Bisa tidak kau tinggal sebentar lagi di sini?” rengek Liana.
Falcon dengan lembut mengecup puncak kepala gadisnya itu, dan mengeratkan pelukannya.
“Kau tunggulah. Aku pasti akan datang lagi,” ucap Falcon.
“Apa kau akan langsung pulang ke Empire State?” tanya Liana.
“Bukankah aku harus bertemu orang-orang ku di Grey Town? Kau sendiri yang mengusulkan untuk membawa kekuatanku ke ibu kota. Apa kau lupa?” ucap Falcon.
Falcon terkekeh mendengar perkataan Liana yang begitu peduli dengan hubungan mereka.
“Aku pasti bisa jadi masa depan mu yang cerah, secerah mentari pagi,” ucap Falcon.
“Tapi aku lebih suka sun set. Lihat! Indah sekali bukan. Kau bahkan bisa melihat cahaya matahari biru sesaat setelah surya tenggelam,” tepis Liana.
Falcon gemas dengan gadisnya itu, dan mencubit hidung mancung Liana.
__ADS_1
“AWWWW! Kenapa Kau senang semakin menyakiti hidungku!” keluh Liana.
“Kenapa kau suka sekali merusak kata-kata romantis ku, hah?” gerutu Falcon balik.
Liana terkekeh dan membuat Falcon pun ikut tertawa bersama dengan gadisnya. Kedua orang itu seolah tak menghiraukan keberadaan Ella maupun si kecil Paulo yang juga ada di ruang depan rumah panggung tersebut.
Mereka pun tak tahu, jika di dalam kamar sempit itu, Peter ikut tersenyum mendengar perbincangan antara Liana dan juga Falcon, pria yang dicintai oleh sang putri.
Jika itu memang bahagiamu, perjuangkanlah, Nak. Jangan pernah jadi pengecut seperti ayah, atau kau akan berakhir dalam penyesalan selamanya, batin Peter.
Sebulir bening kembali mengalir di sudut matanya, saat wajah Lilian yang tersenyum begitu manis berkelebat di ingatannya.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘