
Liana terlihat memasuki mobilnya yang terparkir begitu rapi di area basement. Namun, baru saja pantatnya menyentuh kursi kemudi, dia terlonjak kaget dan kepalanya membentur langit-langit mobil dengan cukup keras.
“Aaaaawwww!” pekiknya.
Liana mengusap-usap kepalanya yang terasa sakit akibat benturan tadi.
“Apa aku ini begitu menakutkan, sampai kau sangat terkejut seperti itu, hah?” tanya seseorang yang sudah terlebih dulu berada di dalam mobil, bahkan sebelum Liana masuk ke dalamnya.
“Apa kau tidak bisa datang dengan cara yang normal? Aku hampir terkena serangan jantung gara-gara kemunculan mu ini,” keluh Liana
“Kau terlalu berlebihan, Nona,” sahut orang itu.
“Mau apa kau kemari? Ini malam hari, dan kau berkeliaran seorang diri di sini. Bagaimana kalau ada gangster lain yang membuntuti mu? Aku tak mau terlibat dengan kalian,” seru Liana, kepada seorang pria yang tak lain adalah Falcon, si penguasa Grey Town.
“Apa peduliku? Aku punya pistol, dan lagi anak buahku selalu berada di sekitarku,” sahut Falcon.
“Benarkah? Lalu, kenapa waktu itu kau sampai tertembak saat menghadiri acara di Emerald Hotel?” sindir Liana.
“Itu karena mereka menggunakan cara licik, dengan sengaja memisahkan aku dengan anak buah ku,” jawab Falcon membela diri.
Liana terlihat memutar bola matanya, sambil menusap-usah kepalanya yang masih berdenyut nyeri.
Gadis itu pun menyalakan mesin mobilnya, dan melaju keluar dari tempat parkir, bersama pria yang dengan seenaknya masuk ke dalam mobilnya.
“Ada urusan apa kau kemari?” tanya Liana.
“Pekerjaan sampingan,” sahut Falcon.
“Hah?! Ketua gangster sepertimu pun punya pekerjaan sampingan? Aku penasaran pekerjaan seperti apa itu,” ucap Liana.
“Kau tidak perlu tahu. Nanti bisa-bisa kau pingsan karena terkejut,” sahut Falcon.
Liana menoleh dan memincingkan matanya ke arah pria itu.
“Ini bukan pekerjaan ilegal atau melanggar hukum dan semacamnya kan?” tanya Liana curiga.
“Pikiran mu itu selalu berlebihan gara-gara banyak nonton drama. Ini adalah tindakan penyelamatan,” ucap Falcon.
“Oh ya? Jadi kalian juga melakukan aksi kemanusiaan? Wah, aku tidak menyangka,” sindir Liana.
“Cckk! Kau ini,” keluh Falcon.
Liana hanya terkekeh kecil dan kembali fokus ke jalanan.
__ADS_1
Setelah beberapa menit, mereka pun tiba di apartemen. Falcon mengikuti Liana sampai ke unit milik gadis itu.
“Aku hanya punya soft drink di lemari pendingin. Kalau mau, ambillah,” ucap Liana.
Gadis itu nampak berjalan ke arah kamarnya. Namun, ketika dia belum benar-benar masuk, Falcon jembali membuatnya berbalik.
“Ada sayuran segar di sini. Bagaimana kalau aku buatkan kau makan malam. Capcai daging dengan sayur yang banyak sepertinya enak,” tawar Falcon.
“Maaf, Tuan. Tapi aku ada janji bertemu seseorang malam ini. Kau bisa makan sendiri jika kau mau. Pakai saja yang ada di kulkasku,” ucap Liana.
Gadis itu kemudian menghilang di balik pintu kamarnya, meninggalkan Falcon yang masih berdiri diam menatap ke arah sana.
Tak berselang lama, sekitar setengah jam kemudian, Liana telah selesai mandi dan berganti pakaian. Malam ini, gadis itu terlihat begitu girly dengan menggunakan atasan putih tulang bermotif polkadot dan celana jeans biru.
Rambut panjangnya yang biasanya diikat pun kini di gerainya begitu saja dan tampak sedikit ikal di bagian bawah.
Falcon nampak diam tak merespon atas penampilan Liana yang sedikit berbeda dari biasanya.
“Aku akan pergi dulu. Kartu aksesku masih di tanganmu bukan? Jangan lupa sebelum keluar pastikan ...,” seru Liana.
“Kompor mati, listrik mati, kran air mati,” sela Falcon cepat.
“Good boy! Kalau begitu ku tinggal dulu,” ucap Liana.
“Hanya makan di restoran dekat sini. Kenapa? Mau ikut?” ajak Liana.
“Aku masih ada urusan. Kalau sudah selesai, aku akan menyusulmu ke sana,” sahut Falcon.
“Yah, silakan saja. Lagipula, kau selalu tau di mana aku berada,” sindir Liana.
Gadis itu tersenyum dengan manisnya, membuat Falcon tiba-tiba saja merona. Namun, pria itu cepat-cepat mengalihkan pandangannya, dengan berpura-pura meneguk minuman kaleng yang ada di depan.
Liana pun pergi meninggalkan Falcon yang masih duduk di sofanya. Pria itu nampak mengambil ponsel dari saku celana, dan menghubungi seseorang.
“Nine, perintahkan salah satu anak buahmu untuk mengikuti gadis itu!” seru Falcon.
“Baik, Bos!” sahut Nine di seberang.
Falcon kembali meneguk minumannya, yang masih tersisa separuh. Dia sengaja berlama-lama di sana hingga Liana benar-benar pergi.
Malam ini, dia secepat mungkin datang dengan beberapa orang anak buah, khusus untuk mengawal Liana. Dia khawatir jika malam ini akan terjadi sesuatu pada gadis itu.
__ADS_1
Beberapa jam yang lalu, Long mendatangi Falcon yang saat itu sedang berada di tempat rahasianya, dan bersama dengan Nine.
“Bos. Ada kabar penting!” ucap Long yang datang dengan tergesa-gesa.
“Ada apa? Cepat katakan!” seru Falcon.
“Kau ingat Yan Yan? Gadis yang waku itu berkomplot untuk merampok kakak ipar?” tanya Long.
“Jangan bertele-tele! Katakan saja langsung, Long. Lama-lama kau semakin mirip seperti perempuan,” ejek Falcon.
“Kau ini selalu bicara begitu. Baru saja, Yan Yan bertemu Jessica di depan klub malam. Mereka mendatangi Mike dan meminta bantuannya untuk menculik seseorang,” tutur Long.
Falcon dan Long seketika menoleh.
“Apa? Siapa yang mau mereka culik?” tanya Falcon khawatir.
“Jessica berencana menculik kakak ipar,” sahut Long.
Sebuah gebrakan di meja membuat kedua orang anak buahnya terkejut. Falcon bangkit berdiri dengan tangan yang telah mengepal kuat.
“Kurang ajar! Di mana Mike? Beraninya dia macam-macam denganku!” ucap Falcon.
“Dia sudah pergi ke...,” sahut Long.
“Nine, ikut aku!” sela Falcon.
Dia segera pergi dari sana karena khawatir dengan Liana.
“Hei, Bos! Aku belum selesai bicara. Nine, tunggu dulu!” seru Long.
Namun kedua pria itu tak menghiraukan panggilannya, dan pergi meninggalkan Long sendiri di tempat rahasia itu.
.
.
.
.
Maaf kesiangan 🙏othor lg nggak mau banyak cincong ya bestie, pala pening banget, mana hidung meler trus🤧🤧🤧🤧
2 bab lagi kalo nggak sore ya malem yah🙏😊
__ADS_1
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘