Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Pulang


__ADS_3

Beberapa hari berlalu semenjak kunjungannya ke kediaman keluarga Tuan Harvey. Kini, Liana telah kembali ke apartemennya di Golden City.


Dia dan Nona Shu memutuskan untuk segera terbang kembali setelah menginap semalam di sana.


Liana masih terus teringat akan kejadian tak terduga di rumah besar bak istana itu, di mana Falcon yang tiba-tiba muncul sebagai salah satu cucu dari klien yang telah menandatangi kontrak kerja dengan perusahaan kakeknya.


Banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada pria yang telah banyak menolongnya itu. Namun, dia belum memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Falcon lagi semenjak makan malam tersebut.


Falcon seolah enggan menemui Liana ketika di rumah besar Tuan Harvey. Bahkan saat makan malam pun, dia yang lebih dulu meninggalkan meja makan dan naik ke atas.


Awalnya, dia merasa kesal dengan sikap acuh Falcon yang seolah tak mengenalnya sama sekali. Namun, melihat perlakuan dari semua orang di keluarga itu, membuat Liana merasa sedih melihat posisi sang tuan muda di rumah tersebut.


Malam itu, Nona Shu memutuskan untuk kembali ke kamar seusai makan malam Sedangkan Liana, gadis itu berjalan-jalan di sekitar taman bunga liar, yang ada di depan teras kamarnya.


Gadis itu mendongak, melihat ke arah balkon tempat dia melihat Falcon sebelumnya. Tempat itu nampak gelap.


Liana kemudian memutuskan untuk berbalik kembali dan berjalan menuju ke arah kolam renang.


Dari atas, rupanya Falcon melihat keberadaan Liana di taman bunga tersebut. Namun, dia tak mau menampakkan dirinya pada gadis itu. Sang ketua gangster hanya memandang Liana dari jauh saat gadis tersebut berbalik dan berjalan menjauh.


Liana menghilang berbelok ke sisi kanan rumah. Dia berjalan menuju ke kolam renang yang begitu tenang dan sunyi. Gadis itu mendekat ke tepi kolam.


Helaan nafas berat terdengar begitu jelas dari mulut gadis yang tengah mengenakan gaun putih bercorak floral. Liana melepas alas kakinya dan berjongkok, bersiap untuk duduk di pinggiran.


Kakinya turun membiarkan air berkaporit itu membasahi kaki putih mulusnya. Kedua tangannya menyangga ke samping dan pandangannya menengadah ke atas.


Di bawah sana, kedua kaki Liana berayun membuat riak di air yang tadinya tenang. Angin dingin mulai terasa menerpa kulit pucatnya. Namun, Liana urung untuk beranjak dari sana.


“Di luar sangat dingin, Nona. Apa Anda butuh sesuatu? Selimut atau minuman hangat misalnya?” tawar seorang pelayan yang tiba-tiba berada di dekat Liana.


Gadis itu terkejut namun bisa segera menguasai diri. Pelayan perempuan itu nampak sengaja mendatangi Liana dan menawarkan sesuatu.


“Ehm, apa aku boleh minta coklat panas? Kebetulan aku sedikit pusing, mungkin karena kekurangan gula,” seru Liana.

__ADS_1


“Baik. Tunggu sebentar,” sahut di pelayan.


Tak berselang lama, sekitar lima belas menit kemudian, pelayan itu kembali dengan segelas coklat hangat. Dia meletakkannya di samping tempat Liana duduk.


“Ini minuman Anda, Nona,” ucap si pelayan.


“Terimakasih,” sahut Liana.


“Apa Anda butuh sesuatu lagi?” tanya si pelayan.


“Tidak. Terimakasih,” sahut Liana.


“Baik. Kalau begitu saya permisi,” ucap si pelayan.


Pelayan itu pun pergi meninggalkan Liana. Dia berjalan ke arah dalam dan masuk ke dapur. Di sana, dia terlihat tengah berbicara dengan seseorang.


“Saya sudah melakukan seperti apa yang tuan muda katakan. Nona itu hanya minta coklat hangat dan sudah saya antarkan ke sana,” lapor si pelayan tadi.


Rupanya, dia terus memperhatikan Liana, meski tak ingin menunjukkan dirinya sama sekali di depan gadis itu.


Maafkan aku. Aku harus menjauh dari mu untuk sementara ini demi keselamatanmu, batin Falcon.


Dia terus melihat Liana dari kejauhan. Saat sudah cukup larut, gadis itu pun menarik kakinya dari dalam kolam. Dia meraih alas kakinya dan menenteng benda tersebut sambil berjalan ke arah kamar tamu.


Falcon terus memperhatikan gadis itu diam-diam hingga Liana masuk ke dalam kamarnya dan tak kembali keluar.


...👑👑👑👑👑...


Keesokan harinya, Liana dan Nona Shu memutuskan untuk kembali ke Golden City lebih awal. Tuan Harvey awalnya membujuk kedua gadis itu agar mau tinggal lebih lama. Tapi, Nona Shu merasa tidak nyaman jika terus berada di rumah sang klien tanpa alasan yang jelas.


Meski Liana masih ingin berada di sana, namun dia pun sadar jika itu semua bukan lah urusannya. Apa yang saat ini terjadi adalah masalah keluarga Tuan Harvey dan tak sepantasnya orang luar sepeti dia ikut campur dan mencari tau.


Akhirnya, meski berat dia pun setuju untuk kembali ke Golden City hari itu juga.

__ADS_1


Tiket sudah dipesan sejak semalam oleh Nona Shu. Dia bahkan sudah memberitahu Liana saat gadis itu kembali ke kamar.


Paginya ketika sarapan, Nona Shu memberitahukan perihal kepulangannya, sekaligus berpamitan kepada semua orang, termasuk Falcon yang juga ikut sarapan bersama.


Liana masih duduk di kursi yang sama, begitu pun dengan Falcon. Namun, mereka berdua seolah dua orang yang tak saling mengenal. Falcon sama sekali tak mau menatap Liana, hingga membuat gadis itu merasa kecewa, meski dia mencoba memahami bagaimana posisi Falcon di keluarga tersebut.


Selepas sarapan, pria itu pun lagi-lagi meninggalkan meja makan terlebih dahulu, sebelum yang lainnya selesai. Liana benar-benar merasakan sakit hati karena sikap Falcon.


Hingga mereka berdua berpamitan untuk pergi dari rumah tersebut, tak ada satu pun yang mengantarkan mereka selain Tuan Harvey dan Jack.


Liana bahkan mendongak ke atas, mencoba melihat ke lantai di mana kamar Falcon berada. Terdapat balkon besar di atas sana. Dia berharap meski Falcon tak mengantarnya, setidaknya dia muncul dan melihat kepergiannya.


Namun, dia kembali harus kecewa karena yang dicari tak juga terlihat. Akhirnya, waktu berangkat pun tiba. Semua koper telah masuk ke dalam bagasi mobil. Tuan Harvey meminta Jack secara khusus mengantarkan kedua tamunya sampai ke bandara, dan memastikan keduanya naik ke pesawat dengan aman.


Nona Shu masuk terlebih dahulu. Liana kembali mencoba mencari keberadaan Falcon di atas sana. Hingga Nona Shu harus memanggilnya dan meminta gadis itu segera naik.


Akhirnya, Liana pun menyerah dan masuk ke dalam mobil dengan perasaan yang begitu sesak, hingga dadanya terasa sakit.


Mobil perlahan melaju meninggalkan halaman istana Sky Castle yang sangat luas. Dari sisi kiri rumah, di dalam salah satu mobil mewah yang terpajang di garasi rumah tersebut, nampak Falcon memandangi kepergian Liana hingga mobil yang di tumpangi gadis itu menghilang sepenuhnya dari pandangan.


.


.


.


.


yang 2 nanti yah bestie 😁


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2