
Petang itu, Liana kembali dijemput oleh Falcon. Seharian ini, pria tampan itu terus mengirimi pesan kepada Liana, untuk menanyakan tentang pertemuan gadis tersebut dengan sang kakek. Namun, Liana terus berkilah dan menjawabnya dengan gurauan.
Saat dia menelpon pun, jawaban gadis itu sama dan tak ditanggapi dengan serius.
Akhirnya, saat jam pulang tiba, Falcon bergegas mendatangi gadisnya, dan mengajaknya makan di luar.
Kini, mereka tengah berada di sebuah restoran yang berjarak tak jauh dari asrama.
Liana nampak menikmati makanannya, dan tak menghiraukan Falcon yang terus menatap dengan penuh pertanyaan yang siap membombardirnya.
“Sepertinya aku mau tambah. Kerja seharian benar-benar membuatku lelah. Ditambah cuacanya mendung sejak pagi, membuat perutku cepat sekali merasa lapar,” ucap Liana.
Gadis itu telah selesai menyantap satu porsi beef steak with barbeque sauce, ditemani dengan segelas red wine yang menambah rasanya menjadi semakin luar biasa.
Sedangkan Falcon, pria tersebut baru beberapa suap saja memakan miliknya, sambil terus memandangi ekspresi Liana.
“Dasar pocker face! Ku beri kau piring ku, asal kau mau mengatakan dengan jujur, apa yang kau bicarakan dengan kakekku!” tawar Falcon
“Ckk! Pertukaran macam apa itu? Kau meminta informasi, tapi yang kau tawarkan malah bekas,” ejek Liana.
Gadis itu tanpa sungkan meraih piring Falcon, dan kembali menyantapnya. Pria itu sama sekali tak keberatan dan membiarkannya. Dia memilih menikmati red wine yang harum dengan rasa yang pekat.
__ADS_1
“Kakek mu memintaku menjauh dari mu,” ucap Liana tiba-tiba.
Falcon hampir tersedak mendengar penuturan dari sang kekasih. Liana mengatakannya dengan begitu enteng, bahkan sambil mengunyah makanannya. Sementara Falcon, dia bersusah payah menelan wine yang sudah masuk ke rongga mulutnya.
“Lalu?” tanya Falcon kemudian.
Dia meletakkan gelasnya kembali ke atas meja, dan memperhatikan sang kekasih yang nampak lahap menyantap daging panggangnya.
“Lalu apa? Ya tentu saja ku tolak. Apa kau lupa siapa aku? Aku, Liana. Tak peduli apa nama marga ku, aku tetap seorang Liana, gadis yang tak kenal takut dan anti intimidasi,” ucapnya enteng.
Sebuah senyum tipis muncul di bibir Falcon. Dia kembali meraih gelas winenya, dan meneguk cairan merah kehitaman, yang memabukan itu.
“Apa karena berita pagi ini?” tanya Falcon.
Tanpa sadar, piring itu telah kembali kosong. Secepat kilat Liana menghabiskan dua piring steak sapi ukuran besar. Bahkan sayurannya pun juga tak bersisa.
Wine yang tersisa di gelas, ia teguk sepenuhnya, bahkan menuangkan lagi sisa yang ada di dalam botol ke dalam gelas.
Setelah Liana menuangkannya, Falcon meraih botol tersebut dan menjauhkan dari jangkauan Liana.
Dia tak ingin gadisnya itu mabuk seperti tempo hari. Sungguh kacau kelakuan gadis cantik itu ketika mabuk, meski tak dipungkiri jika Falcon mendapat banyak keuntungan setelahnya, karena berhasil menggoda habis-habisan sang kekasih.
__ADS_1
“Lalu, apa rencanamu selanjutnya?” tanya Falcon.
“Tidak ada. Hanya mengikuti alur yang akan dibuat oleh wanita itu. Aku yakin, kalau saat ini dia pasti sedang mencari cara untuk membalasku, atau mungkin melenyapkanku, sebelum aku benar-benar membongkar semuanya,” sahut Liana.
“Kenapa kau tak langsung membongkarnya saja? Bukankah itu lebih mudah dan cepat selesai?” tanya Falcon.
“Honey, aku ini spesialis adu psikologis. Sudah ku bilang, aku ingin sebuah pembalasan dendam yang elegan. Kau cukup duduk dan makan popcorn mu,” ucap Liana.
Dia meneguk winenya sembari mengerlingkan sebelah mata ke arah Falcon, membuat pria itu semakin penasaran, dan hanya bisa menyunggingkan senyum sambil mengangkat kedua alisnya.
.
.
.
.
Siang bestie 😘 siap2 naik roler coaster 😁
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘