
“Selamat malam semua. Maaf sudah membuat kalian menunggu,” sapa Falcon.
Semuanya membalas sapaan dari pria tampan yang baru saja tiba itu. Mereka berdua mendekat, dan saat melihat keberadaan Peter di sana, Liana segera melepas rangkulannya pada sang suami dan kembali menunjukkan sikap manjanya kepada Peter.
Kakek Joseph yang baru saja melihat perubahan aneh cucunya itu pun hanya mencebik kesal, karena sepertinya Liana lebih dekat dengan ayahnya sekarang.
“Dia bahkan tidak menyapa kakeknya. Benar-benar keterlaluan,” gumam Kakek Joseph.
Mendengar gerutuan kakek mertuanya, Falcon pun mengambil segelas sampanye dari atas meja dan maju untuk mengajak bersulang dengan pria tua itu.
“Biarkan aku bersulang untuk Kakek,” ucap Falcon.
Kakek Joseph pun menerimanya dan bersulang dengan cucu mantunya. Setelah meneguk minuman masing-masing, keduanya mulai berbincang. Pria tua itu mengeluh kepada Falcon, karena melihat Liana yang seolah lebih dekat dengan pria, yang sudah menelantarkan wanita itu dan juga ibunya bertahun-tahun silam.
Falcon hanya tersenyum, dan berusaha untuk memberi pengertian.
Setelah cukup lama berdiri, seorang menejer restoran datang, dan mengatakan bahwa makan malam akan segera datang.
Falcon pun mengajak semuanya untuk duduk di kursi yang sudah disediakan. Satu persatu pelayan mulai berdatangan dengan membawa hidangan yang telah dipesan sebelumnya.
Menu pembuka telah disajikan di depan masing-masing orang. Kemudian, Tuan Harvey tiba-tiba saja berdiri dan mengacungkan gelas anggurnya ke arah depan.
“Malam ini, aku ingin mengajak wanita hebat kita, yang muda dan bertalenta, serta telah berhasil melewati berbagai hal buruk selama ini. Semoga kelak, hari-hari mu dengan Alex akan selalu bahagia. Bersulang,” seru Tuan Harvey.
Namun, belum juga Liana bersuara, Falcon lebih dulu berdiri dan meraih gelas anggurnya.
“Biar aku yang menggantikan istriku minum. Mari bersulang,” sahut Falcon.
Pria itu meneguk habis anggurnya dan kembali meletakkan gelas ke atas meja. Semua orang melihat dengan sangat terkejut, karena Falcon telah bersikap tak sopan pada kakeknya sendiri di acara makan malam keluarga ini.
Dia kembali duduk. David yang duduk di sampingnya pun membisikkan sesuatu pada putranya itu.
“Nak, tadi itu sangat tidak sopan. Kenapa kau melarang istrimu minum?” tanya David.
“Apa Nona Wang sedang sakit?” tanya Aster, Nyonya ke dua yang serba ingin tahu, langsung pada Liana.
“Tidak, Nyonya. Aku baik-baik saja,” sahut Liana.
__ADS_1
Semua orang melihat pasangan suami istri itu dengan penuh tanda tanya. Pasalnya, menolak seseorang yang saat mengajak bersulang adalah hal yang tidak sopan menurut tradisi di negara mereka. Harus ada alasan yang jelas dan mendasar, jika memang ingin menolaknya.
Liana dan Falcon pun saling pandang. Wanita itu merasa kesal karena lagi-lagi suaminya itu bertindak protektif padanya.
“Honey, harusnya sedikit saja tak apa bukan?” bisik Liana
“Tidak boleh! Apa kau lupa apa yang dikatakan oleh dokter?” sahut Falcon.
Melihat hal itu, Aster kembali bertanya.
“Jika memang tidak sakit, apa mungkin... Apa mungkin Nona Wang ini... Sedang mengandung?” tanyanya menerka.
Liana dan Falcon seketika menoleh menatap wanita itu. Rupanya tak hanya Aster, semua orang pun melihat ke arah mereka berdua dengan tatapan yang juga tak kalah mengerikan.
Semua orang menunggu jawaban Liana atas pertanyaan Aster tadi. Liana menoleh ke arah sang suami. Falcon meraih tangannya yang berada di atas meja, seolah memberi Liana keyakinan untuk mengungkapkan.
Akhirnya, Liana pun mengangguk, mengiyakan terkaan dari Aster. Semua orang nampak bersorak mendengar kabar gembira ini.
Tuan Harvey yang tadi sempat kesal dengan sikap kurang ajar cucunya, kini berdiri sambil merentangkan tangan ke arah Kakek Joseph.
Kedua pria tua itu pun berpelukan sambil tertawa terbahak-bahak atas kabar gembira itu.
“Anda benar, Tuan. Kita sebentar lagi akan dipanggil kakek buyut. Ternyata kita sudah lama hidup di dunia. Hahahha...,” sahut Kakek Joseph.
Sementara Liana, setelah mengakui kehamilannya, dia segera memeluk sang ayah, yang juga tak kalah bahagia atas kabar tersebut.
Sedangkan Falcon, dia mendapat ucapan selamat dari David. Pria itu bahkan untuk pertama kalinya memeluk sang putra, yang telah lama pergi jauh dari rumah.
“Selamat, Nak. Sebentar lagi kau akan menjadi ayah. Aku harap, kau bisa menjadi ayah yang baik untuk anak-anak mu. Jangan seperti ayahmu ini,” ucap David.
“Terimakasih,” sahut Falcon.
Kedua pria itu masih tetap canggung satu sama lain. Jarak yang begitu lebar, membuat mereka kesulitan untuk mengungkapkan perasaan diantara keduanya.
Kedua kakek tua itu kemudian berjalan ke arah Falcon. Pria tampan itu bangkit berdiri dan mendapat pelukan selamat dari kedua kakek tersebut.
Mereka menepuk-nepuk pundak Falcon, karena telah berhasil membuat Liana hamil dan akan memberikan calon penerus keluarga bagi mereka.
__ADS_1
Selain itu, Aster dan kedua putrinya pun turut senang mendengar kabar itu dan mengucapkan selamat kepada Liana.
Malam itu, menjadi malam yang sangat indah untuk kedua keluarga. Hanya saja, ada seseorang yang merasa sedih melihat kebahagiaan tersebut.
Andai kakek mau menerima Liana, pasti saat ini dia pun akan ikut merasakan kehangatan ini, batin Christopher.
Peter yang telah melepas putrinya yang kini dikerumuni oleh Aster dan kedua putrinya, menoleh dan melihat keponakannya yang duduk termenung melihat interaksi di acara tersebut.
Dia pun mendekat dan duduk di sampingnya.
“Apa kau sedang memikirkan kakekmu?” tanya Peter.
“Tentu saja. Apa Paman tidak memikirkannya?” tanya Christopher balik.
“Tentu saja aku memikirkannya. Tapi, itu semua sudah menjadi keputusannya. Sejak awal, dia sudah menentang hubungan ku dengan ibu Liana. Dan kau tahu bukan, bagaimana kakekmu menjaga gengsinya. Dia pantang menarik kembali ucapan yang sudah keluar dari mulutnya. Kita tak bisa berbuat apapun selain membiarkan dia sendiri,” ucap Peter.
“Hah... Kau benar, Paman. Kakek sudah tak bisa ditolong lagi,” sahut Christopher.
Nampak raut kecewa yang teramat di wajah pemuda itu. Peter tahu betul, meskipun Christopher selalu membangkanng kepada kakeknya, akan tetapi sebenarnya dia sangat peduli dengan orang tua itu.
Peter kembali menepuk pundak sang keponakan, dan membuat Christopher menoleh.
“Jadi, apa kau tidak mau mengucapkan selamat kepada sepupumu?” tanya Peter.
Christopher tersenyum tipis. Dia pun kemudian beranjak dari tempatnya dan mendekat ke arah Liana. Semua membaur menjadi satu dalam suasana bahagia.
.
.
.
.
Sudah dulu untuk hari ini ya, besok lanjut lagi😁🙏
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘